My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 126 : Maaf dan Penyesalan


__ADS_3

Dengan kepala tertunduk, Indra berkata memelas kepada Marisa agar jangan pergi meninggalkannya. "Saya mohon kepada kamu, Marisa... Jangan tinggalkan saya disini untuk bertemu dengan Andro...! Saya sangat mencintai kamu dan saya tidak mau kehilangan kamu dan saya tidak bisa merelakan kamu pergi menemui Andro...!"


Kesombongan dan keangkuhan seorang Indra Perdana langsung runtuh seketika itu juga! Tidak ada lagi kata-kata kasar dan penuh nada menghina. Tidak ada lagi bentakan dan perintah yang bernada arogan. Hanya karena dia telah jatuh cinta kepada seorang wanita sederhana bernama Marisa.


Marisa sendiri menjadi serba salah karena Indra bertekuk lutut seperti itu, tapi Marisa juga tidak bisa untuk tidak menjemput Andro! "Pak Indra, jangan berlutut seperti ini! Saya mohon...! Izinkan saya untuk pergi menjemput Andro, saya sudah berjanji untuk menjemput nya saat pulang ke Indonesia" Marisa sampai memohon pada Indra agar mengizinkannya untuk pergi.


"Tidak, Marisa! Saya bilang kamu tidak boleh pergi! Saya tidak akan membiarkan kamu pergi kepadanya Andro walaupun dia adalah adik saya sendiri!" Indra bersikeras.


Marisa juga tetap bersikeras untuk pergi, maka itu Marisa tetap melangkahkan kakinya .Marisa tidak memperdulikan Indra yang sedang berlutut dan memilih untuk tetap menemui Andro!


"Maaf, Pak Indra. Saya harus pergi!" Marisa melangkahkan kakinya.


"Tidak, Marisa!" Indra tidak tahu lagi bagaimana dia bisa menghentikan Marisa, maka dengan nekad nya Indra meraih pergelangan kaki Marisa walaupun untuk itu Indra sampai tersungkur dan bersujud di ujung kaki Marisa!


'Dug!' ujung sepatu hak tinggi Marisa bahkan sampai mengenai pelipis Indra dan membuat pria itu melenguh kesakitan karena masih ada bekas luka-luka di pelipis akibat dari pukulan Herman. Indra menekap luka di pelipisnya yang kini mulai mengucurkan darah segar karena luka lama yang kembali robek akibat terkena sepatu hak tinggi Marisa.


Marisa melirik ke bawah dan melihat bagaimana ada darah mengalir dari sela-sela telapak tangan Indra yang menekap luka di pelipisnya.


Darah Marisa terasa tersirap akibat kaget yang luar biasa! "Astaghfirullah! Pak Indra!" pekik dan segera menghambur memeluk Indra. Di rengkuh nya kepala Indra ke atas pangkuannya dan memeriksa keadaan Indra yang terluka. Ada luka robek yang kembali menganga dan berdarah di pelipis Indra.


"Ya Allah! Pak Indra! Lukanya berdarah lagi! Kenapa Anda meraih kaki saya?! Akibatnya jadi seperti ini! Luka Anda berdarah kembali!" Marisa panik!


Indra menatap Marisa dengan wajah yang pucat. "Saya tidak perduli, mau kamu tendang, kamu pukul ataupun kamu bunuh saya sakalian. Saya akan menerimanya. Tapi saya mohon jangan tinggalkan saya...!" bisik Indra parau.


Marisa mengusap darah yang keluar dari pelipis Indra. "Iya, Pak Indra. Saya menyerah! Saya tidak akan pergi kemana! Saya akan tetap disini! Saya tidak akan pernah meninggalkan Anda!" kata Marisa akhirnya.

__ADS_1


Mata Indra membesar. Ada binar kebahagiaan yang terpancar disana. "Kamu janji, Marisa?! Kamu tidak akan pernah meninggalkan saya?!"


"Iya, saya berjanji!"


Indra meraih tangan Marisa yang sedang mengusap-usap pelipisnya. "Makasih, Marisa! Saya sangat mencintai kamu! Saya ingin kamu menjadi milik saya, menjadi istri saya dan calon ibu dari anak-anak saya...!"


"Jangan ngawur, Pak Indra! Pasti kepala Anda sakit sekali makanya Anda bilang begitu" kata Marisa.


"Saya sedang dalam keadaan sadar, Marisa! Walaupun saya sakit, tapi saya berkata yang sesungguhnya! Saya sangat mencintai kamu!"


Marisa melintang jari telunjuknya di bibir Indra. "St...! Sudah! Jangan bicara lagi! Lebih baik sekarang saya obati luka yang di pelipis Anda"


Indra menggeleng. "Tidak! Jangan tinggalkan saya!"


"Saya tidak akan meninggalkan Anda! Saya akan pergi sebentar untuk mengambil kotak obat" kata Marisa.


"Tidak, saya tidak akan pergi! Saya berjanji! Saya tidak akan meninggalkan Anda kalau Anda tidak mengizinkan. Saya juga mencintai Anda, Pak Indra Perdana..." kata Marisa akhirnya.


"Saya tahu... Walaupun kamu tidak berkata dari awal, tapi saya tahu kalau dalam hati kamu juga menginginkan saya"


"Kalau begitu lepaskan pelukannya sebentar. Saya akan ambil kotak obat dulu"


"Kamu janji tidak akan pergi?!" Indra merajuk manja. Baru kali ini dalam sepanjang hidupnya, Indra begitu manja. Bahkan Indra tidak pernah menunjukan sikap manja pada Mama nya sekalipun.


"Ya, saya janji" Marisa mengulurkan tangannya untuk membelai pipi Indra.

__ADS_1


Perlahan Indra mau melepaskan pelukannya pada tubuh Marisa. Marisa pun segera membantu Indra untuk berbaring di atas ranjang lalu mengambil kotak obat dan mengobati luka di pelipis Indra.


"Maafkan saya, Pak Indra. Karena kena sepatu saya, pelipis Anda jadi luka lagi" sesal Marisa.


"Tidak apa-apa, Sayang. Justru luka ini tidak seberapa di bandingkan luka yang sudah saya buat di hati kamu" kata Indra menyesal juga.


"Sudahlah, saya sudah melupakan semua sakit hati yang saya rasakan selama saya menjadi asisten pribadi Anda. Saya sudah menganggap itu sebagai bagian dari pekerjaan saya"


"Tidak, Marisa. Walaupun kamu adalah asisten pribadi saya, tapi tidak sepantasnya saya bersikap kasar dan keras kepada kamu seperti yang selama ini saya selalu lakukan. Saya menyesal... Saya mohon maafkan saya. Maafkan atas segala luka yang saya buat..."


kenapa baru sekarang dia minta maaf dan menyesal...?


Hening sejenak sebelum akhirnya Marisa berkata"Iya, saya maafkan..."


"Terima kasih..." Indra menjatuhkan satu kecupan lembut di kening Marisa.


Sore pun merambat malam. Indra begitu lekat kepada Marisa dan tidak mau berpisah sedikitpun dengan Marisa. Bahkan makan malam pun Indra mau dibawakan kedalam kamar dan di suapi Marisa.


Malam itu, pukul sembilan tepat dimana seharusnya Marisa ada di bandara Soekarno Hatta untuk menjemput Andro. Tapi kenyataannya sekarang yang ada Marisa malah ada didalam kamar sebuah vila mewah bersama kakak dari Andro, Indra Perdana.


Marisa tidak bisa meninggalkan Indra, dia begitu mencintai pria itu. Bahkan saat Indra meminta Marisa untuk berbaring di sisinya malam itu, Marisa tidak sanggup menolaknya.


Indra memejamkan matanya dengan wajah yang di susupkan di leher Marisa yang hangat dan harum. Sementara Marisa memeluk kepala Indra dan membelai-belai rambut pria itu. Hingga akhirnya Indra tertidur pulas dalam dekapan Marisa dan Marisa tidak melepaskan pelukannya karena takut Indra akan terbangun.


Marisa hanya mengendurkan sedikit pelukannya untuk menatap wajah tampan Sang CEO dan kemudian mengecup kening serta bibir nya dengan lembut.

__ADS_1


"Aku sudah tidak bisa pergi lagi, sekarang! Aku tidak bisa meninggalkan kamu sendiri, Dra... Aku sayang banget sama kamu.. " bisik Marisa.


__ADS_2