
Malam Minggu itu, Marisa berniat untuk menemui Fero di lokasi syuting tempatnya bekerja. Marisa melihat di Instagram story Fero kalau hari ini Fero berada disana. Marisa harus bertemu dengan Fero! Untuk meminta kejelasan tentang apa yang terjadi pada hubungan mereka saat ini. Kenapa Fero menjauhinya begitu saja.
Awalnya, Marisa ingin meminta Gery untuk menemaninya. Tapi ketika pulang kantor, Gery menceritakan kalau dia akan pergi bersama kawan-kawan yang lainnya ke bioskop. Marisa tidak enak kalau sampai menggagalkan acara malam Minggu
Gery.
"Kamu mau ikut ke bioskop, Mar?" tanya Gery.
"Enggak, aku mau pergi ke tempat lain." jawab Marisa.
"Sama Fero?"
"Iya..."
"Baguslah, marahan jangan lama-lama!" Gery mengacak rambut Marisa. "Aku duluan, ya?"
"Oke!"
Sepeninggal Gery, Marisa pun bergegas pergi ke lokasi syuting tempat Fero bekerja untuk menemuinya disana. Marisa pergi dengan menaiki ojek online untuk sampai kesana.
Saat sampai disana, Marisa melihat lokasi syuting sudah agak sepi. Rupanya syuting sebuah FTV itu sudah selesai dan tinggal menyisakan beberapa kru yang sedang membereskan peralatan syuting.
Marisa celingukan mencari Fero dan tidak membutuhkan waktu lama untuk mencari, Marisa dengan mudah dapat menemukan sosok Fero di kejauhan sedang membereskan peralatan kameranya.
"Nah, itu Fero!" dada Marisa berdebar kencang ketika melihat kekasihnya yang sudah lama tidak ditemui karena menghilang begitu saja tanpa Marisa tahu apa kesalahannya.
Marisa bergegas menemui Fero dan kini Marisa sudah sampai di dekat Fero. "Fero," panggil Marisa.
Fero menoleh dan matanya bertatapan dengan Marisa. Bukannya tersenyum manis yang biasa Marisa dapatkan saat biasanya bertemu dengan Fero, melainkan senyum kecut yang tiba-tiba membuat hati Marisa ciut.
"Fero." Marisa memanggil nama Fero kembali.
Fero tidak menanggapi sama sekali melainkan membereskan barang-barangnya dengan tergesa-gesa dan memasukkannya ke dalam tas besar.
Marisa terdiam, dengan sabar menunggu Fero selesai.
Fero akhirnya selesai dan menggendong tas besar nya dibahu. Tanpa berkata apa-apa, Fero berjalan melewati Marisa seolah gadis itu tidak ada disana.
__ADS_1
Marisa terkejut dan segera meraih lengan Fero untuk menahan kepergiannya. "Fero! Tunggu! Aku mau bicara!" seru Marisa.
Fero terpaksa menoleh. "Ada apa?!" tanyanya gusar.
"Kamu kenapa?! Kenapa bersikap seperti ini sama aku?! Aku salah apa?! Ngomong dong, Fero!"
"Heh!" Fero tersenyum sinis. "Kamu tanya aku kenapa?! Kamu yang kenapa!" tukas Fero setengah membentak.
Marisa terkejut sekali! Selama kurang lebih setahun mengenal Fero dan enam bulan berpacaran dengannya, baru kali ini Marisa mendapat kata-kata dengan nada sekeras itu dari Fero!
"Aku kenapa..?" tanya Marisa.
"Iya! Kamu kenapa?! Kenapa berbuat sejauh itu dengan bos besar kamu itu! Indra Perdana!" bentak Fero.
"Aku sama Pak Indra?! Memangnya aku sama Pak Indra kenapa?!" tanya Marisa semakin bingung.
"Kamu ada main kan, sama CEO mu itu?! Pantas selama ini kamu berubah! Kamu suka pulang kantor sore, pergi metting ke apartemen! Puncaknya sampai kamu lupa hari ulang tahun aku!" tuding Fero!
Oh! Jadi ini masalahnya? Fero salah faham dengan hubungan Marisa dan Indra selama ini?!
"Ya Allah, Fero! Kamu salah faham! Aku gak pernah ada main sama Pak Indra! Dia dan aku murni cuma atasan dan bawahan!" kata Marisa coba menjelaskan.
"Sumpah, Fero! Aku gak ada apa-apa sama Pak Indra! Aku juga gak pernah lupa hari ulang tahun kamu!"
"Gak usah drama, kamu!"
"Buat apa aku drama!"
"Aku udah tahu semuanya, Marisa! Kamu menjual harga diri kamu cuma karena sebuah rekomendasi bagus untuk kelulusan kuliah kamu! PKL macam apa itu! Memangnya kamu tidak bisa bekerja secara profesional, sehingga kamu terpaksa menjual harga diri kamu kepada Indra Perdana?!" Fero tidak segan-segan menuding bahwa Marisa sudah menjual harga dirinya pada Indra.
"Kamu jangan asal bicara ya, Fero!!!" jerit Marisa karena tidak tahan dengan semua tudingan Fero.
"Aku udah tahu semuanya, Mar! Mereka udah bilang sama aku bagaimana kelakuan kamu selama ini!"
"Siapa?! Siapa yang udah bilang gitu sama kamu?!"
"Ya orang-orang kantor kamu!"
__ADS_1
"Siapa?"
"Udahlah, Marisa! Aku gak perduli lagi kalau kamu berbuat apapun sama CEO kamu yang kaya raya itu!" Fero menarik lengannya yang masih berada dalam genggaman Marisa.
"Kamu gak bisa kayak gini sama aku, Fer! Kamu denger dulu penjelasan aku! Kalau perlu kita temui Pak Indra sekarang juga!" kata Marisa.
"Aku udah bilang kalau aku gak perduli!" bentak Fero.
"Terus hubungan kita gimana?!"
"Kita udahan aja!"
Mata Marisa terbelalak. "Kamu... Kamu mutusin aku..?" tanya Marisa lirih.
"Iya! Aku mau putus sama kamu! Lanjutkan aja hubungan kamu sama CEO itu! Aku gak mau berurusan lagi dengan kalian!"
"Tapi Fero..."
"Aku udah gak nyaman sama kamu! Aku sekarang mau pulang! Aku capek!" Fero melangkah pergi meninggalkan Marisa dan kali ini Marisa tidak berusaha menahan langkah Fero.
Marisa masih mempunyai harga diri. Kalau Fero sudah tidak mau melanjutkan hubungan mereka lagi, Marisa tidak mungkin memaksakan kehendaknya.
Marisa hanya bisa menatap kepergian Fero dengan mata yang berkaca-kaca. Tidak ada isakan yang terdengar. Bukannya Marisa tidak bersedih, tapi bagaimanapun ini tempat umum dan Marisa tidak mau ada orang lain yang memperhatikan kesedihannya, atau yang lebih ekstrimnya lagi mungkin merekamnya dengan HP.
Tidak ada lagi yang bisa Marisa lakukan disana. Yang terbaik adalah pulang.
Akhirnya Marisa pun memesan taksi online dan pulang ke kos-annya.
Sampai di kos-annya, Marisa menumpahkan semua kesedihan dan air matanya di atas tempat tidur. Marisa masih merasa semua ini hanyalah mimpi. Berharap saat terbangun pagi nanti semua masih baik-baik saja dan Fero masih kekasihnya.
Siapa yang dengan begitu tega mengatakan pada Fero kalau Marisa ada hubungan gelap dengan Indra? Marisa tidak merasa memiliki saingan ataupun musuh di kantornya.
Kenapa pula Fero bisa begitu saja percaya pada orang lain yang tidak dikenalnya dan tidak mau mendengar kata-kata Marisa barang sedikitpun.
Hanya karena sebuah fitnah, Fero memutuskan Marisa dimana mereka sudah serius dan mempunyai pikiran untuk menikah.
Apakah semua ini karena Marisa menjalani PKL di Perdana Enterprise sehingga harus kehilangan kekasihnya? Inikah konsekuensi yang harus Marisa ambil? Begitu mahalnya harga sebuah rekomendasi dari Indra Perdana hingga harus mengorbankan kisah cinta yang sudah terjalin setengah tahun lebih.
__ADS_1
"Aku gak bisa maksain diri untuk tetap bersama Fero... Aku harus menerima kenyataan kalau sekarang aku bukan pacar Fero lagi... Ya Allah... Baru saja sikap Pak Indra membaik, sekarang malah Fero yang berubah! Tapi masalahnya, siapa yang telah memfitnah aku?" batin Marisa.