My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 48 : Marisa di Kediaman Keluarga Perdana


__ADS_3

Marisa tiba di kediaman keluarga Perdana yang megah dan artistik. Sebuah rumah besar yang lebih layak di sebut kastil. Dengan pagar tinggi yang di jaga dua orang satpam, taman bunga yang berwarna-warni dan kolam renang yang luas, juga deretan mobil mewah.


Marisa tidak pernah mengunjungi kediaman seperti itu sebelumnya, paling dia hanya melihat dari layar televisi jika ada sinetron yang menceritakan kisah orang berada. Marisa memandang takjub saat perlahan mobil mewah Andro memasuki gerbang.


Andro memarkirkan mobilnya dan turun lebih dulu untuk membukakan pintu mobilnya untuk Marisa. Marisa benar-benar merasa tersanjung apalagi saat Andro mengulurkan tangannya untuk menggandeng tangan Marisa.


"Mari masuk, gadis cantik." kata Andro.


"Pak Andro apa-apaan, sih?" Marisa merasa malu.


"Kapan kamu mau panggil saya dengan nama Andro saja?"


"Masa saya panggil nama saja?"


"Ya aneh saja kalau nanti kita sudah resmi pacaran, kamu bilang, 'pak, saya kangen' atau, 'pak, kapan kita ketemuan?'"


Marisa tertawa kecil. "Ya kita lihat saja, setelah ini apakah kita akan pacaran?"


"Amin... Bismillah..." ucap Andro.


Andro menggandeng Marisa memasuki rumahnya. Disana hanya ada seorang PRT yang sedang membereskan sofa dan menata bantal-bantal nya.


"Den Andro," sapa PRT yang bernama Bi Eti itu hormat.


"Mana Mama, Bi?" tanya Andro.


"Ibu ada di ruang makan, Den." jawab Bi Eti.


"Oh, ya, Bik." Andro menarik lembut tangan Marisa. "Ayo sayang, kita ke ruang makan."


"Sayang?" Memerahlah pipi Marisa.


"Memangnya saya gak boleh panggil sayang?"


"Jangan ah, Pak! Saya malu!"


"It's oke, maaf!"


Andro dan Marisa memasuki ruang makan yang jaraknya jauh karena melewati dulu ruang keluarga, ruang santai, dan entah ruangan apalagi! Yang jelas Marisa tidak yakin kalau suatu saat berkunjung lagi kesana apakah dia masih hafal jalan ke ruang makan?


"Sore, Mam." sapa Andro saat melihat Mama nya ada di ruang makan bersama dua orang juru masak yang bekerja disana.


Mama menoleh pada Andro. "Hai, sayang! Selamat sore." seru Mama dengan senyuman hangat.


Andro membawa Marisa mendekati Mamanya. "Mam, ini Marisa yang tadi pagi Andro ceritakan," kata Andro memperkenalkan Marisa.


"Sore, Marisa." sapa Mama ramah.

__ADS_1


"Sore, Bu." kata Marisa seraya mencium tangan Mama Andro.


"Jangan panggil saya Ibu, terlalu formal. Kamu panggil saya Mama saja. Sama seperti Andro, oke?" kata Mama.


"Tapi... Saya ini bawahan di kantor Pak Andro," kata Marisa.


"Itu kan di kantor! Sekarang kamu di rumah Andro," Mama diam-diam merasa kagum juga pada Marisa yang tidak segan-segan mengatakan kalau dia adalah bawahan Andro di kantor.


"Baik Bu-emh... Mama," kata Marisa canggung.


"Nah, gitu kan lebih enak kedengarannya."


"Indra belum datang, Mam?" tanya Andro seraya mengambil satu pastel di atas meja makan.


"Belum, lagian dia baru saja berangkat jemput Sofie. Dari pulang kantor dia tidur." jawab Mama.


"Sekarang Mama lagi menyiapkan apa lagi?"


"Ini Mama lagi bikin asinan buah buat cuci mulut." Mama saat itu sedang menyiapkan bahan-bahan untuk membuat bumbu untuk asinan.


Marisa melihat bagaimana banyaknya hidangan di atas meja makan. Dari mulai makanan berat sampai cemilan dan minuman segar. "Ini mau makan berapa orang sih?" fikir Marisa.


"Nani, coba kamu liat di oven! Bolu nya sudah matang belum!" perintah Mama pada salah seorang juru masak yang ada disitu.


"Baik, Bu." kata Nani yang sedang memotong-motong buah untuk asinan.


"Sekalian kamu goreng kerupuk udang nya, ya!"


"Aduh gimana, ya? Ita lagi bikin sambel!" Mama tampak kewalahan.


"Biar saya saja yang lanjut potong buah-buahan nya " kata Marisa menawarkan dirinya.


"Lho, jangan dong! Marisa kan tamu." tolak Mama.


"Tidak apa-apa, Ma. Saya senang kok bantu-bantu kalau ada acara masak-memasak begini."


"Ya, deh... Tapi Andro gak marah nih?" tanya Mama seraya melirik Andro.


"Andro malah mau bantu Marisa potong-potong buahnya. Biar bisa makan buah-buahan nya duluan!" kata Andro seraya tertawa.


"Eh, jangan banyak-banyak! Nanti kamu kekenyangan sebelum makan!"


Akhirnya semua hidangan sudah siap di atas meja makan pada pukul delapan malam. Mama senang sekali karena bukan hanya membantu memotong buah-buahan, tapi Marisa juga bantu membuat bumbu asinan buahnya.


Malahan rasa bumbu asinan buatan Marisa di puji oleh Mama Andro karena memiliki cita rasa yang khas.


"Ini sedap sekali, Marisa! Kamu pintar masak, ya?" kata Mama.

__ADS_1


"Saya kan orang Bogor, Ma." kata Marisa.


"Oh begitu? Wah berarti orang Sunda, ya! Lain kali Mama minta kamu buatkan karedok, bisa?"


"Bisa Ma, itu makanan favorit di keluarga saya."


"Wah... Kebetulan sekali!"


"Mam, Marisa ini bukan hanya pintar masak dan pintar mengurus kerjaan di kantor! Dia juga bisa bikin denah rumah! Proyek perumahan Indra yang di Sumedang juga kan hasil buatan Marisa." kata Andro.


"Luar biasa!"


"Terus dia juga pintar sekali mengambil hati aku!" tambah Andro.


"Pak Andro, apaan sih?" wajah Marisa bersemu merah.


"Memang betul, kok!" kata Andro.


"Bukan hanya hati Andro, hati Mama juga sudah terpikat nih!" timpal Mama.


"Jadi Mama suka sama Marisa?" tanya Andro.


"Ya, Mama suka sekali pada Marisa!" jawab Mama.


Saat itulah Andro meraih dua tangan Marisa dengan dua tangannya dan di dekap ke dadanya. "Marisa, kamu dengar kan apa kata Mama saya? Mama saya suka sama kamu. Kalau begitu, kamu mau kan jadi pacar saya? Saya serius sama kamu." tutur Andro dengan penuh harap.


Marisa jadi bingung dan tanpa sengaja menatap Mama.


Mama tersenyum dan mengangguk. Isyarat agar Marisa mau menerima Andro.


"Pak Andro... Saya..." Marisa jadi bingung. Mungkin Marisa mau menerima cinta Andro, tapi bukan di depan Mama nya seperti ini.


Saat itulah Indra memasuki ruangan makan bersama Sofie. Bunyi sepatu Indra mengejutkan Marisa dan tanpa sadar bergerak menarik tangan dari pegangan Andro.


"Selamat malam, semuanya." sapa Sofie.


"Selamat malam, sayang." sapa Mama serta langsung menghampiri Sofie dan memeluknya.


"Mama gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah sehat, kamu gimana? Sudah lama kamu gak main kesini."


"Indra juga yang jarang ajak aku kesini."


Mama dan Sofie tampak akrab sekali. Marisa ikut tersenyum melihat keakraban mereka. Hingga tanpa sengaja Marisa melirik Indra yang ada di sebelah Sofie. Indra tampak sedang memandang lekat padanya! Tatapan tajam yang sudah Marisa hafal betul.


Dada Marisa berdebar kencang. Teringat akan semua perlakuan Indra selama ini. Sifat arogan nya, penghinaan nya, kekurangan ajarannya! Dan saat ini Marisa ada di rumah Indra sebagai tamu yang di bawa oleh Andro, adik Indra sendiri.

__ADS_1


Marisa dan Indra saling beradu pandang cukup lama. Seolah tidak ada siapapun di antara mereka. Hingga terdengar suara Andro yang berkata.


"Makan malamnya bisa di mulai sekarang? Saya sudah lapar sekali, hehe!"


__ADS_2