
Nafas Indra seketika itu juga langsung memburu, darahnya mengalir deras dari ujung kaki sampai ujung kepala hanya karena bisikan Marisa. Tapi Indra masih merasa tidak tega kepada Marisa yang sudah kelelahan sepanjang hari ini.
"Jangan, kamu kan sudah lelah seharian ini beraktifitas. Besok saja" kata Indra sambil menggenggam tangan Marisa.
Marisa meremas tangan Indra, "Tidak apa-apa, kok. Aku sudah siap"
"Kamu serius?"
Marisa mengangguk seraya mengedipkan matanya. "Aku serius..."
"Apakah sudah tidak sakit lagi? Kamu kan baru melahirkan Baby Syailendra, belum dua bulan"
"Pelan-pelan saja"
Indra tidak bicara apa-apa lagi, di terkam nya tubuh molek Marisa yang sudah hampir kembali ke bentuk semula sebelum hamil Baby Syailendra. Indra tidak pernah merasakan bagaimana bernafsu nya dia seperti saat ini. Di lucuti nya seluruh pakaian yang melekat pada tubuh Marisa kemudian di ciumi dan di jilati nya seluruh bagian tubuh Marisa yang sudah lama tidak di sentuh nya.
Marisa memekik, mendesah, merintih dan menjerit merasakan bagaimana nikmatnya perlakuan Indra. Sudah hampir dua bulan lamanya Marisa tidak merasakan kenikmatan seperti yang saat ini di berikan Indra. Tidak ada satu bagian pun dari tubuhnya yang di lewatkan oleh Indra.
Hanya saja saat menikmati bagian buah dada Marisa, Indra tidak berani meremas ataupun menyesapnya. Indra hanya meraba dan menjilati nya. Tapi tidak demikian dengan bagian bawah tubuh Marisa, Indra tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menikmati bagian itu habis-habisan! Marisa sampai meraih satu bantal untuk menutupi wajahnya agar jeritannya tidak terdengar keluar kamar.
Melihat Marisa yang sudah menjerit-jerit tidak karuan, Indra malah semakin menjadi-jadi! Indra tidak menyudahi permainannya, walaupun tubuh istrinya sudah melejang-lejang seperti cacing kena garam.
Indra baru menyudahinya setelah tubuh Marisa lemas terkapar tak berdaya karena sampai ke puncak kenikmatan. Perlahan Indra menaiki tubuh Marisa dan melepaskan bantal yang menutupi wajah istrinya itu.
"Jangan di tutup bantal terus! Nanti nafasnya habis!" goda Indra.
"Habisnya kamu nakal sekali, Dra... Aku gak kuat..." rintih Marisa.
"Saya mau masuk sekarang"
__ADS_1
"Ah... Lemes Dra..."
"Pelan-pelan saja"
Marisa mengangguk dan kemudian mendesah panjang saat merasakan ada sesuatu yang keras dan tegang mencoba menerobos bagian bawah tubuhnya yang sudah basah kuyup.
"Ah...! Ah...! Awh...! Arkh...!!!" dengan beberapa kali hentakan dan dorongan akhirnya Marisa bisa merasakan bagaimana bagian bawah tubuhnya sudah di masuki sampai ke bagian terdalam!
"Ugh...! Ini luar biasa nikmatnya, Sayang...!" desah Indra di telinga Marisa.
"Ini buat kamu, Dra... Ini milik kamu..." Marisa balas berbisik.
"Nyaman sekali berada didalam sini... Hangat... Nikmat... Mengigit... Ugh..."
"Kamu suka, Dra?"
"Suka sekali, Sayang..."
"Saya nikmati ya?"
"Iya... Nikmati sepuasnya..."
"Kamu menantang saya, Marisa! Saya harap Baby Syailendra tidak terbangun dulu, karena saya tidak akan melepaskan kamu sampai saya benar-benar puas malam ini!"
Indra pun mulai menggerakkan pinggulnya dengan perlahan tapi menghentak dalam sehingga membuat Marisa mulai merintih nikmat. Mereka saling memeluk dan mencium untuk mengimbangi gerakan pertemuan tubuh mereka di bagian bawah sana.
Semakin lama gerakan pinggul Indra di antara kedua kaki Marisa semakin kencang! Kedua kaki Marisa pun sudah terbuka maksimal karena Indra menaruh tangannya di bawah lutut Marisa dan membukanya lebar-lebar untuk membuat Indra leluasa menghujamkan senjata nya!
Tidak terhitung lagi peluh, de sahan, rintihan dan kenikmatan yang mereka dapatkan malam itu. Hingga malam merambat dini hari, Indra masih belum juga merasa puas menikmati tubuh Marisa.
__ADS_1
Sementara Marisa tetap bertahan untuk memberikan pelayanan yang terbaik untuk Indra. Bagi Marisa, kepuasan Indra adalah nomor satu. Marisa sadar kalau Indra adalah seorang petualang cinta, maka untuk bisa mempertahankan seorang pria yang seperti itu, wanita yang menjadi pasangannya harus lihai dalam urusan percintaan di atas ranjang.
Tapi apakah benar seperti itu?! Tidak juga! Karena kalau seorang pria sudah menjadi seorang petualang cinta, maka sulit baginya untuk bisa puas hanya dengan satu wanita saja. Pria seperti itu ibarat seekor kucing yang tidak bisa menahan diri untuk mencoba berbagai jenis makanan.
Walaupun si kucing diberi makan enak dan mahal oleh sang pemiliknya, tapi saat melihat ikan asin di jalanan, si kucing tetap saja tergoda untuk mencobanya. Begitupun dengan Indra, walaupun di rumahnya dia sudah memiliki seorang istri yang cantik dan seksi juga lihai di atas ranjang seperti Marisa. Tapi di luaran Indra tetap saja tergoda saat melihat Melati yang tidak ada apa-apanya di banding dengan Marisa. Hanya karena Melati memang sengaja menawarkan dirinya kepada Indra.
Maka pada keesokan harinya saat Indra bertemu dengan Melati di kantor, Indra tetap saja tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh Melati walaupun semalaman Indra sudah bercinta habis-habisan dengan Marisa.
Indra langsung memeluk dan mencium bibir Melati begitu dia melihat gadis itu memasuki ruangan CEO.
"Ih, kenapa Bapak mencium saya?!" hardik Melati sambil mendorong dan Indra.
Indra melepaskan ciumannya tapi tidak dengan pelukannya, "Memangnya kenapa?!" tanyanya.
"Bapak pasti sudah bercinta semalam dengan Bu Marisa" kata Melati dengan nada merajuk.
"Itu kan kewajiban saya!"
"Kalau Bapak memang sudah mendapatkan lagi apa yang Bapak ingin dari Bu Marisa, kenapa Bapak masih mencium saya?!"
"Karena kamu juga memiliki keindahan yang berbeda dengan Marisa! Saya mencintai Marisa tapi saya juga sangat menyukai kamu! Apalagi ini!" Indra meremas buah dada Melati dengan gemas.
"Ah!" Melati mendesah sambil menggeliatkan tubuhnya.
Indra semakin gemas dan segera menarik tangan Melati ke arah sofa dan di dudukannya Melati di atas pangkuannya. Dengan cekatan Indra melepaskan kancing-kancing blus Melati, membuka kaitan bra nya dan mengeluarkan isinya sehingga terpampang jelas di hadapan Indra!
"Saya suka warna kulit kamu yang seksi!" desis Indra dan meremasi buah dada Melati dengan kasar sehingga membuat Melati merintih-rintih tidak tahan.
Kali ini Indra tidak memberi kesempatan lagi pada Melati. Indra harus berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya! Maka dengan satu gerakan cepat, Indra mengulum pucuk buah dada Melati sebelah kanan dengan kuat dan di sertai mengigit serta mengunyah.
__ADS_1
"Ah...! Pak Indra...! Ah...! Ah...!" Melati meracau penuh kenikmatan! "Auh...! Pelan-pelan, Pak Indra...! Saya belum pernah melakukan hal ini..." tentunya Melati berdusta karena sebenarnya sudah lihai dalam urusan percintaan. Melati selalu bersikap pura-pura polos untuk merayu Indra agar semakin suka padanya!
Indra semakin bernafsu dan mengulum buah dada Melati secara bergantian dengan posisi Melati yang duduk di atas pangkuannya dan memeluk kepala Indra dengan erat agar semakin merapat ke buah dadanya!