
Keesokan harinya barulah Marisa mendapatkan telepon dari Lilis. Suara Lilis terdengar sangat riang saat bisa menelepon Marisa kembali.
"Bu Marisa! Ya Allah...! Saya kangen sekali sama Ibu dan Dede Syailendra! Ibu baik-baik saja di tempat baru? Saya tidak bisa tidur karena memikirkan bagaimana keadaan Ibu setelah pergi dari rumah ini! Untungnya Pak Gery memberikan saya nomor HP Ibu yang baru!" kata Lilis.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja, Lis. Aku sekarang ada di Cirebon. Aku sudah memiliki tempat tinggal baru. Aku juga akan segera bekerja di sebuah SMP sebagai staf TU" kata Marisa.
"Alhamdulillah ya Allah... Saya khawatir sekali kalau Pak Indra sampai menemukan Bu Marisa! Sudah dua hari ini Pak Indra selalu sibuk mencari Bu Marisa sampai-sampai Pak Indra tidak pergi ke kantor"
"Ada kabar yang dia dapatkan tentang aku?"
"Tidak ada, Bu. Pak Indra sudah mencari Ibu bahkan sampai membayar orang suruhan untuk membantunya mencari Bu Marisa. Tapi hasilnya nihil!"
"Baguslah! Aku memang sudah tidak ingin lagi bertemu dengannya!"
"Tapi hari ini Pak Indra tidak mencari Bu Marisa. Pak Indra mengantarkan Nyonya Renata ke rumah sakit karena Nyonya pingsan"
"Apa?! Mama pingsan?! Apakah Mama sakit?!" Marisa khawatir mendengar kabar kalau Mama Renata pingsan dan dibawa ke rumah sakit.
"Saya juga tidak begitu mengetahui penyebabnya, Bu. Cuma kata Pak Mukti, Nyonya pingsan setelah berbicara berdua dengan Pak Indra" tutur Lilis.
"Ya Allah... Apakah ini terjadi karena aku telah melarikan diri dengan membawa Syailendra? Apakah aku egois telah membawa satu-satunya penerus keluarga Perdana?" Marisa jadi merasa bersalah.
"Ibu jangan berpikir begitu! Dede Syailendra adalah hak Ibu! Ibu adalah orang yang telah mengandung, melahirkan dan menyusuinya"
"Kalau Pak Indra pulang dari rumah sakit, kamu coba cari informasi tentang Mama Renata dan segera kabari aku ya, Lis! Awas jangan sampai ada yang curiga!"
"Baiklah Bu! Tapi kapan saya bisa pergi ke Cirebon untuk menyusul Ibu? Saya sudah tidak betah lagi ada disini. Saya ingin ikut dengan Ibu"
"Secepatnya aku akan mengatur kepergian kamu kesini! Kamu sabar dulu ya?"
"Iya Bu. Ibu sehat-sehat ya disana"
__ADS_1
"Amin, makasih ya Lilis"
Marisa pun pagi itu menghabiskan waktu dengan membuat sarapan untuknya sendiri dan juga Syailendra. Ini adalah untuk pertama kalinya Marisa hanya berdua dengan Syailendra tanpa bantuan Lilis. Marisa merasa senang sekali menjalani hari pertamanya di rumah barunya itu. Sarapan, mandi, mencuci dan beres-beres rumah.
Jam sembilan pagi Marisa sudah berjemur bersama Syailendra di halaman rumah sambil menikmati pemandangan alam yang indah dan juga cahaya matahari yang hangat. Suasana desa yang sangat asri dengan hamparan persawahan dan perbukitan yang hijau.
"Bu Marisa, mari kita sarapan?" kata Herman yang saat itu menghampiri Marisa.
"Sudah, Her. Saya sudah sarapan" kata Marisa.
"Padahal Ina sudah membuat singkong goreng dan ubi rebus. Kalau mau saya akan ambilkan untuk Bu Marisa"
"Wah... Saya mau banget! Biar nanti saya ambil untuk cemilan di siang hari. Makasih ya"
"Iya Bu"
"Suasana disini sejuk sekali ya? Rumah juga masih jarang. Kalau di tempat tinggal saya di Bogor, sudah ramai sekali"
"Iya Bu. Disini masih terpencil"
"Bisa, Bu. Saya sudah mengatakan kepada bapak kepala sekolah kalau ada seorang sarjana akuntansi keuangan dari Jakarta yang akan menetap di desa ini dan bersedia bekerja di SMP. Besok saya akan menemani Bu Marisa menemui bapak kepala sekolah. Kebetulan saya juga bekerja sebagai penjaga sekolah dan Ina sebagai ibu kantin disana"
"Oh ya, Alhamdulillah kalau begitu"
"Cuma saya khawatir gajinya tidak sebanding dengan pendapatan Bu Marisa sebagai seorang asisten pribadi di Perdana Enterprise"
"Tidak apa-apa, Her. Saat ini yang saya pikirkan bukan masalah gaji ,tapi kenyamanan. Kamu kan tahu masalah yang sedang saya hadapi saat ini"
"Iya Bu. Ibu yang sabar ya. Saya akan selalu berusaha menjaga Bu Marisa dan Syailendra selama berada disini"
"Makasih, Her. Kamu baik sekali"
__ADS_1
Saat itulah Ina muncul dengan sepiring singkong goreng dan ubi rebus yang masih mengepulkan asap. "Bu Marisa, ini saya bawakan sarapan" katanya.
"Ya Allah... Kamu gak usah repot-repot, Na. Saya sudah sarapan" kata Marisa.
"Ini beda, Bu. Ibu pasti suka dengan makanan ini"
"Iyalah! Saya juga orang Sunda. Saya suka sekali dengan singkong goreng dan ubi rebus, apalagi ditemani oleh kopi hitam panas"
"Ini silahkan, Bu" Ina menyodorkan sepiring singkong goreng dan ubi rebus yang dibawanya kepada Marisa.
"Makasih" Marisa menerimanya dengan senang hati.
"Sini biar Dede Syailendra sama saya" Ina mengambil Syailendra dari gendongan Marisa dan ternyata anak itu tampak senang kepada Ina.
"Kalau begitu saya mau menjemur pakaian dulu. Tadi saya sudah mencuci tapi belum sempat menjemurnya karena Syailendra keburu bangun" kata Marisa.
"Oh ya silahkan Bu. Biarkan Dede Syailendra sama saya aja" kata Ina lalu bersama Herman membawa Syailendra ke rumah mereka yang ada di sebelah kanan rumah Marisa.
Marisa segera bergegas mengambil ember cuciannya untuk segera di jemur di jemuran kayu yang ada di halaman rumahnya. Sudah lama sejak menikah dengan Indra, Marisa tidak pernah mencuci pakaian dengan tangan dan sekarang dia melakukannya lagi. Kebiasaan lama sewaktu Marisa masih menjadi masahiswi kos-an.
Tidak ada lagi mesin cuci dan jemuran stainless, kini hanya ada ember dan jemuran kayu lapuk yang sudah di makan usia.
Marisa pun mulai menjemur pakaiannya. Tapi baru dua potong pakaian yang di jemurnya, tiba-tiba jemuran kayu putih sudah lapuk itu patah di bagian tengah pada belahan kayu paling atas!
'krak!'
Jemuran kayu itu pun roboh dan hampir menimpa tubuh Marisa! Untung saja ada seseorang yang segera merangkul tubuh Marisa agar terhindar dari jemuran kayu roboh yang bisa membuat kepalanya terluka!
Marisa memekik histeris! Tubuhnya terhempas kedalam pelukan seseorang yang menolongnya. Sepasang tangan kekar bergerak melingkar melindunginya dengan dekapan. Bau harum maskulin segar memasuki penciuman Marisa.
"Neng tidak apa-apa?" tanya sebuah suara pria yang tak lain adalah sang penolong Marisa.
__ADS_1
Marisa yang sedari tadi memejamkan mata pun akhirnya membuka mata dan tatapan matanya langsung bertemu dengan tatapan mata seorang pria tampan yang memiliki alis mata tebal dan bulu mata yang panjang.
Pria tampan yang memiliki sepasang mata indah!