
Indra mencengkeram erat lengan Marisa hingga gadis itu memekik kesakitan. "Aduh! Sakit, Dra! Jangan kasar-kasar kepada saya!"
"Kita akan buktikan sekarang juga kalau saya ini jantan dan bisa memuaskan kamu!" kata Indra.
"Saya tidak mau!"
"Saya tidak suka kalau kamu bicara saya ini lemah syahwat! Saya kuat dan saya juga tahan lama dalam berhubungan badan! Saya tidak pernah puas dengan hanya satu kali main!"
"Saya tidak perduli!"
"Mana kamar kamu?! Layani saya sekarang juga!"
"Ih, tidak mau!"
Indra menarik lengan Marisa menuju kamar Marisa yang memang terletak di sebelah ruang tamu. Kamar tidur anak kos-an yang kecil dan sempit. Hanya berisikan satu tempat tidur kecil dan kipas angin murahan.
Indra melongo. "Kamar tidurnya kecil sekali! Mana bisa kita berdua tidur di atas ranjang yang kecil itu! Tidak ada AC juga!" keluhnya.
"Disini memang begini keadaannya!" kata Marisa.
"Pasti banyak nyamuk dan kecoak!"
"Itu adalah hal yang biasa!"
"Payah sekali!" Indra tidak jadi masuk kedalam kamar Marisa melainkan jadi kepo ingin tahu keadaan kos-an Marisa seluruhnya.
Indra masuk lebih dalam, selanjutnya ada dapur kecil dan toilet. Ukurannya lebih kecil lagi! Di dapur kecil itu ada kompor mini, penanak nasi ukuran kecil, dan rak piring yang juga mini di sebelah wastafel yang kran nya sudah rusak dan terus menerus meneteskan air. Melihat kedalam toilet, hanya ada satu WC jongkok dan ember plastik hitam.
Indra menatap Marisa dengan sedih. "Marisa, saya sama sekali tidak menyangka kalau kamu tinggal di tempat seperti ini. Kamu ini benar-benar seorang mahasiswi yang miskin!"
"Terimakasih atas penghinaaan nya, Pak Indra Perdana yang terhormat!" kata Marisa sinis.
"Saya tidak menghina! Ini kenyataan!"
"Saya merasa ini sudah cukup! Lagipula saya tinggal sendiri! Buat apa saya sewa kos-an besar kalau nantinya saya akan kesepian?"
"Sekarang juga kamu pindah ke apartemen saya!"
__ADS_1
"Untuk apa?!"
"Wanita secantik kamu tidak layak tinggal di tempat kumuh seperti ini!"
"Tapi saya nyaman tinggal disini!"
"Nyaman apanya?! Keterlaluan Andro! Memangnya dia tidak pernah meminta kamu untuk pindah dari sini?! Katanya dia sangat mencintai kamu, tapi membiarkan kamu sengsara disini!"
"Saya tidak sengsara!"
Indra memegang kedua bahu Marisa, "Please, Sayang! Kamu pindah ke apartemen saya hari ini juga! Terserah kamu mau di daerah mana. Saya punya apartemen di setiap titik di kota Jakarta!"
"Saya tidak mau! Nantinya kamu pasti akan sering datang untuk memangsa saya!"
"Itu benar sekali! Saya memang sangat mengincar tubuh kamu!"
"Ini yang masih saya ragukan dalam menjalani hubungan dengan kamu. Kamu terlalu buas untuk saya!"
"Kita pasti akan segera menikah! Saya berjanji!"
"Setelah kamu dapatkan apa yang kamu inginkan dari saya, pasti kamu akan segera pergi dari saya. Seperti yang kamu lakukan pada mantan-mantan kamu! Saya memang miskin, tapi saya tidak bodoh!"
"Kalau kamu memang benar mencintai saya, buktikan pada saya! Buat saya yakin! Pertahankan saya sampai saya halal dan sah! Maka saya pastikan kalau saya akan menyerahkannya kepada kamu disaat malam pertama kita nanti!"
"Kalau begitu, kapan kamu mau menikah dengan saya?!"
"Saya masih ragu dan saya juga ingin kuliah saya selesai dulu! Jadi sarjana dan setelah itu baru saya akan memikirkan pernikahan!"
"Tapi saya tidak bisa menahan diri, Marisa! Saya ingin sekali menikmati setiap inci lekuk tubuh kamu!"
"Kamu tidur saja dengan wanita lain dan saya akan pergi dari kehidupan kamu!"
"Tidak bisa, saya hanya mau kamu! Saya terobsesi dengan tubuh kamu! Saya tidak mau yang lainnya! Kamu berbeda, Marisa! Saya selalu saja bergairah jika ingat kamu apalagi berdekatan dengan kamu! Setiap saat yang saya ingat hanyalah kamu! Saya tidak bisa hidup tanpa kamu! Apapun akan saya lakukan! Asal kamu jadi milik saya, asal kamu cinta kepada saya, asal kamu mau hidup bersama saya!"
Marisa menghela nafas panjang. Kasihan juga Marisa pada Indra. Marisa tahu kalau setiap pria yang sudah biasa melakukan hubungan intim pasti tidak akan bisa meninggalkan kebiasaan itu. Marisa mengulurkan tangannya untuk membelai pipi Indra.
"Apakah kamu serius akan menikahi saya?"
__ADS_1
tanya Marisa.
Indra meraih tangan Marisa yang membelai pipinya lalu di kecup nya tangan gadis itu dengan penuh kelembutan. "Saya serius, Marisa!"
"Kalau begitu kita ke Bogor besok pagi untuk menemui keluarga saya!"
"Ya, saya bersedia!"
"Kamu boleh meminta saya kepada ayah saya kalau kamu memang serius untuk menikah dengan saya"
"Iya, Marisa. Saya serius! Saya akan meminta kamu langsung kepada ayah kamu!"
"Sepertinya kamu tidak main-main"
"Saya tidak main-main! Saya serius dan saya sangat mencintai kamu!"
"Kenapa kamu begitu yakin ingin menikahi saya?! Bukankah kamu tidak suka berkomitmen?! Buktinya kamu belum menikah di usia kamu yang sudah tiga puluh tiga tahun!"
"Iya, saya memang tidak percaya kalau pernikahan itu adalah sesuatu yang penting dan wajib di lakukan! Saya lebih suka hidup sendiri dan tidak ada orang yang bisa mengatur-atur kehidupan saya! Tapi sejak saya menyadari bahwa saya mencintai kamu, saya ingin sekali memiliki kamu seutuhnya dan mengikat kamu dengan tali pernikahan agar tidak ada lagi yang bisa memisahkan kita!"
"Saya ini orang miskin, Dra. Saya orang kampung! Kalau seandainya saya adalah bumi, maka kamu adalah langitnya!"
"Kalau begitu izinkan saya membawa kamu untuk terbang ke langit ketujuh! Saya akan membahagiakan kamu dan menjadikan kamu ratu di istana saya!"
Marisa merasa terharu dan mulai meyakini kalau Indra adalah pilihan yang tepat untuknya. Marisa mulai meyakinkan hati nya kalau Indra memang mencintainya dan tidak akan meninggalkannya seperti yang dia lakukan pada wanita lain.
Entah siapa yang memulai, wajah Marisa dan Indra semakin dekat dan akhirnya saling menempelkan bibir masing-masing. Semua berjalan dengan lembut dan perlahan-lahan. Marisa benar-benar menikmati ciuman Indra yang lembut seperti ini, bukan ciuman kasar yang biasa Indra lakukan. Malahan kini kedua lengan Marisa sudah melingkari leher Indra.
Tapi Indra masih saja merasakan tubuh bagian bawahnya menjadi tegang dan keras! Padahal Indra berciuman dengan Marisa secara lembut!
"Marisa, Marisa! Kenapa setiap berdekatan dengan kamu, saya menjadi selalu bergairah?!" batin Indra di sela-sela ciumannya.
Tanpa sadar Indra menggeram karena menahan gejolak nafsunya.
Ciuman Marisa terlepas. "Kenapa, Dra? Saya dengar kamu menggeram?" tanya Marisa.
"Kamu bisa tolong pegang senjata milik saya ini, Marisa? Mencium bibir kamu saja sudah cukup untuk membuatnya tegang dan keras!" jawab Indra memelas.
__ADS_1
"Ih...!!!"