
Sejak kejadian hari itu, Melati kini memiliki suatu perasaan lebih dari sekadar rasa kagum kepada Indra. Melati lebih semangat untuk berangkat ke kantor karena ingin selalu bisa dekat dengan Indra. Pekerjaan nya juga semakin bagus dan tepat waktu dan hal ini justru membuat Indra senang karena memang menuntut kesempurnaan dalam setiap pekerjaan bawahannya.
Malahan kini Melati mulai melakukan hal-hal yang bersifat pribadi seperti menyiapkan minuman atau membuatkan masakan untuk Indra. Seperti hari itu, Melati membawakan rainbow cake yang khusus dia buat sendiri untuk Indra.
"Silahkan di coba, Pak. Enak lho sambil minum kopi hitam panas" kata Melati sambil menyajikan rainbow cake nya di meja kerja Indra.
"Rajin sekali kamu! Akhir-akhir ini sepertinya kamu sering memasak untuk saya" kata Indra.
"Iya, Pak. Ini juga saya buat khusus untuk Pak Indra"
Indra mengambil satu bagian dari rainbow cake itu dan memakannya. "Hm... Lumayan enak! Cocok untuk teman minum kopi. Makasih ya"
"Sama-sama, Pak. Saya senang sekali kalau Bapak suka. Saya juga membuat satu cake lagi untuk diberikan kepada Bu Marisa"
"Oh ya? Kamu tidak usah repot-repot"
"Kan Ibu menyusui harus banyak makan yang manis-manis, Pak. Bolehkah saya titip satunya lagi untuk Bu Marisa?"
"Iya, boleh! Nanti saya akan bawa pulang"
Melati menatap Indra dengan satu senyuman manis. Kalau biasanya Melati tidak pernah lama-lama untuk melakukan kontak mata dengan Indra, tapi kali ini matanya menatap Indra dengan lekat dan penuh arti.
Indra pun membalas tatapan mata Melati sama lekatnya dan akhirnya merekapun jadi saling bertatapan dengan agak lama. Indra seolah baru menyadari bahwa Melati memiliki satu perasaan kepadanya. Sebagai seorang pria dewasa yang sudah berpengalaman dalam menaklukkan hati wanita, Indra tahu persis bagaimana arti tatapan Melati.
"Kenapa kamu menatap saya seperti itu?" tanya Indra dengan mata yang tidak di alihkan dari wajah Melati.
Wajah Melati seketika itu juga berubah memerah dan dia langsung menundukkan kepalanya. "Maaf, Pak Indra. Saya terlalu senang karena Bapak mau menerima rainbow cake dari saya"
"Tapi saya tahu persis apa yang ada didalam hati kamu saat kamu menatap saya seperti itu!"
__ADS_1
Melati diam dan tetap menunduk.
"Kamu tertarik kepada saya?!" tanya Indra tanpa basa-basi.
Melati tetap diam.
"Jawab pertanyaan saya!"
"Maafkan saya, Pak"
"Saya ingatkan kepada kamu kalau saya tidak akan pernah tertarik kepada wanita lain selain istri saya! Jadi kamu tidak usah berharap lebih dari saya! Saya tidak mungkin membalas perhatian kamu apalagi perasaan kamu!" nada suara Indra meninggi!
Mata Melati mulai berkaca-kaca. "Maafkan saya, Pak Indra. Saya memang memiliki perasaan lebih kepada Bapak. Tapi saya juga tidak berencana untuk jatuh cinta kepada Bapak. Semua terjadi begitu saja. Saya juga tahu diri. Saya sadar pada posisi dan status saya"
"Bagus!" kata Indra datar.
"Saya tidak berharap lebih dari semua ini, Pak. Tapi saya juga tidak bisa memungkiri bahwa saya menyukai Bapak. Saya sudah cukup bahagia bisa membantu pekerjaan Bapak selama saya bekerja disini"
"Bapak tidak usah khawatir, saya tidak akan menggangu Bapak dengan perasaan saya ini"
"Ya, saya percaya kalau kamu bisa menjaga sikap kamu selama bekerja dengan saya! Saya juga tahu kalau kamu memang tidak merencanakan semua ini. Kalau kamu menyukai saya, itu bukan salah kamu! Saya memang terlalu menarik untuk semua wanita yang berhadapan dengan saya!" Indra mulai menunjukkan sikap arogansi dan sombongnya kembali!
Tapi itu justru membuat Indra semakin terlihat menarik di mata Melati. Seorang CEO tampan yang dingin dan arogan.
"Saya tahu persis kharisma yang ada dalam diri saya! Tidak ada satupun wanita yang tidak akan tertarik kepada saya! Saya sangat sempurna sebagai seorang pria dewasa! Saya memiliki wajah tampan, tubuh atletis, harta yang berlimpah dan juga jabatan beserta kekuasaan!" kata Indra lagi.
"Itu semua memang benar" batin Melati.
"Kamu boleh menyukai saya dan mengagumi saya sesuka hati kamu! Tapi saya ini seorang pria beristri dan saya juga sudah punya seorang anak. Saya tidak akan mungkin tertarik kepada kamu!"
__ADS_1
"Ya, Pak. Saya mengerti" kata Melati pelan.
"Bagus! Jadi mulai sekarang kamu tidak usah terlalu banyak memberi perhatian kepada saya. Saya sudah cukup mendapat perhatian dari istri saya yang cantik dan seksi!"
Melati tidak menjawab, dia hanya mengangguk-angguk.
"Sekarang kamu lanjutkan pekerjaan kamu dan perlahan lupakan perasaan kamu kepada saya!"
Indra dengan tenang kembali fokus pada pekerjaannya dan tidak bicara apa-apa lagi pada Melati.
Begitupun Melati yang kembali ke meja kerjanya dengan perasaan yang tidak menentu. Ada rasa malu, rasa takut, tapi ada juga satu perasaan kagum yang semakin besar kepada Indra Perdana.
Sikap Indra yang jumawa dan terang-terangan menolak perasaan Melati malah semakin membuat gadis itu penasaran dan jatuh cinta kepada atasannya itu.
"Saya tidak akan mencoba untuk melupakan perasaan ini, Pak Indra! Saya tidak percaya kalau Anda begitu setia kepada Bu Marisa! Saya ingin melihat sampai dimana pertahanan yang Anda punya! Anda boleh saja mencintai Bu Marisa dengan sepenuh hati tapi Anda tidak mungkin tidak bisa tertarik kepada wanita lain! Apalagi wanita itu adalah saya! Melati Khairunnisa!" batin Melati!
Beberapa hari setelah itu, melati memang berhenti membawakan makanan untuk Indra. Sikapnya juga sudah kembali normal. Melati seolah-olah memang telah berhasil melupakan Indra walaupun mereka hampir setiap hari berada dalam ruangan yang sama.
Sebaliknya kini Indra yang jadi penasaran. Apakah Melati memang sudah tidak tertarik padanya? Semudah itukah Melati menghilangkan rasa kagum nya? Atau memang Melati pandai menjaga sikap dan perasaannya?
Indra seharusnya merasa tenang karena Melati tidak mengganggunya lagi, tapi yang terjadi adalah Indra merasa khawatir kalau dia kini telah kehilangan aura di mata seorang wanita.
"Apakah saya sudah tidak semenarik dulu lagi sehingga Melati begitu mudahnya melupakan perasaannya kepada saya? Karena biasanya seorang wanita yang sudah jatuh cinta kepada saya tidak akan bisa melupakan saya" pikir Indra.
Satu gagasan pun merasuk kedalam pikiran Indra. Indra ingin membuktikan bahwa dia masih menarik di mata seorang gadis seperti Melati. Walaupun kini Indra sudah memiliki seorang istri dan anak, tidak ada salahnya kalau Indra cuma ingin membuktikan kharisma nya.
Tanpa Indra sadari dia sedang ingin mencoba bermain api.
Sekali bermain api, maka akan selalu ada resiko terbakar.
__ADS_1
Sekali telah terbakar, maka akan meninggalkan luka.
Dan luka itu akan menghancurkan segalanya!