My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 62 : Penuturan Indra


__ADS_3

Marisa masih menggelengkan kepalanya, mata nya juga masih menatap Indra dengan ketakutan.


"Saya bilang diam! Saya minta maaf atas apa yang saya lakukan tadi siang pada kamu! Sekarang saya akan menebus kesalahan saya dengan menemani kamu disini. Dan kamu jangan melarang saya untuk menyuruh Gery pergi! Karena saya tidak suka dia ada di ruangan ini, di antara kita!" kata Indra tegas.


Perlahan Marisa berhenti menggeleng dan akhirnya diam dan memejamkan matanya. Sementara Gery masih mematung karena bingung dengan apa yang terjadi. Ada juga keterkejutan di dalam hatinya karena mendengar permintaan maaf dari Indra. Walaupun permintaan maaf itu terdengar terpaksa dan tidak tulus. Tapi kalau bisa membuat seorang Indra Perdana minta maaf, itu saja sudah bisa di katakan luar biasa!


Indra melirik pada Gery yang masih mematung. Matanya melotot sadis. Gery langsung gemetaran.


"Kamu mau apa masih berada disini?! Saya bilang kamu harus pergi dari sini! Tinggalkan saya dan Marisa! Kamu ini punya telinga atau tidak?!" bentak Indra.


"I... Iya Pak. Tapi Marisa aman kan, kalau saya tinggal disini berdua dengan anda?" tanya Gery.


"Tentu saja! Apa kamu pikir saya akan mencelakakan Marisa?!"


"Tapi Marisa tampak ketakutan saat melihat Anda"


"Dia tidak takut! Dia hanya segan! Sekarang dia diam, bukan?! Itu artinya dia sudah mengizinkan saya berada disini!"


"Jadi Marisa gak jadi di pindahkan ke rumah sakit besar?"


"Tidak! Kamu dengar sendiri tadi kalau dia tidak mau di pindahkan dari sini! Sekarang apa yang kamu mau katakan lagi?!"


"Iya, saya keluar sekarang!" kata Gery dengan nada suara agak keras dan pergi meninggalkan ruangan rawat inap Marisa.

__ADS_1


Tinggalah sekarang Indra bersama Marisa. Indra menyeret sebuah kursi plastik yang ada di sudut ruangan ke dekat ranjang rawat Marisa dan menduduki nya.


Marisa masih terpejam karena merasakan kepalanya berdenyut sakit. Lagipula tidak ada gunanya Marisa membuka matanya. Yang ada malah takut memancing perdebatan antara dia dengan Indra.


Indra sendiri tidak mengerti kenapa dia sekarang bisa berada disitu. Di sebuah klinik murahan yang sama sekali tidak berkelas. Tidak ada apalagi televisi pribadi yang biasanya ada di ruang rawat inap kelas VIP.


Hanya demi seorang gadis bernama Marisa yang cuma asisten pribadi nya, itu juga cuma sementara waktu selama gadis itu PKL di perusahaannya.


Tadi begitu Indra mendapat kabar kalau Marisa sedang sakit dan kini berada dalam perawatan di sebuah klinik, Indra tiba-tiba merasa khawatir dan berpikir mungkin ini adalah akibat dari perbuatannya tadi siang pada Marisa.


Indra memutuskan untuk segera melihat bagaimana keadaan Marisa dan kini saat melihat bagaimana Marisa terbaring lemah dengan selang infus di tangannya, hati Indra merasa sedih sekali.


Di genggam nya tangan Marisa dengan erat dan tangan sebelah lagi membelai-belai rambut Marisa. "Saya gak tahu kenapa saya melakukan ini semua, Marisa. Tapi saya saat ini merasa sedih melihat keadaan kamu. Apakah kamu jadi seperti ini karena perbuatan saya? Kalau memang karena itu, saya minta maaf" tutur Indra.


Tapi Marisa tidak bisa untuk berpikir lebih jauh lagi, saat ini tubuhnya benar-benar lemah dan kepalanya terasa pusing sekali. Marisa tidak perduli hal apakah yang bisa membuat Indra menurunkan sedikit egonya untuk datang dan meminta maaf padanya.


"Saya tahu kamu saat ini tidak tidur ataupun pingsan. Saya tahu kamu mendengar kata-kata saya. Saya harap kamu mau memaafkan saya dan melupakan semua yang terjadi di antara kita selama ini. Dan saya berjanji mulai dari saat ini saya tidak akan menggangu kamu lagi.


Biarlah saya dengan jalan saya dan kamu dengan jalan kamu sendiri. Saya dengan Sofie dan kamu dengan Andro. Saya tidak akan menghalangi hubungan kalian lagi.


Karena sekarang saya sadar, kalau saya merasa sedih karena kamu sakit akibat perbuatan saya"


Kali ini penuturan Indra membuat hati Marisa bergetar hebat! Indra berkata tidak akan menghalangi lagi hubungan Marisa dan Andro! Indra juga berkata tidak akan mengganggu Marisa lagi!

__ADS_1


"Ini nyata? Ataukah hanya sebuah mimpi? Jangan-jangan saat aku terbangun nanti, aku akan kembali berhadapan dengan Indra Perdana sang CEO arogan itu!" batin Marisa.


"Kamu boleh tidak percaya pada saya, saya juga tidak berharap kalau kamu akan percaya pada saya. Saya selama ini selalu mengganggu kamu dan berbuat tidak baik kepada kamu.


Tapi saat ini saya pikir sudah waktunya kalau kita mengakhiri semua ini. Lagipula sebentar lagi kamu tidak akan berada lagi di dekat saya. Kamu akan kembali ke kampus kamu. Menyelesaikan studi kamu dan lulus sebagai sarjana.


Saya mungkin tidak akan bertemu dengan kamu lagi, kecuali kalau hubungan kamu adik saya berlanjut. Mungkin kita akan bertemu lagi kalau Andro membawa kamu ke rumah" Indra kembali mengajak Marisa bicara walaupun Marisa sendiri tidak menjawab ataupun sekedar membuka kedua matanya.


"Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Saya akan jaga kamu disini" kata Indra dan sang CEO arogan itu tidak berbohong. Dia tidak bicara lagi. Suasana menjadi hening.


Perlahan Marisa coba mengintip dari celah matanya yang terpejam, Indra tampak duduk diam sambil memandangi wajahnya. Tangan Indra juga masih menggenggam sebelah tangan Marisa. Sementara tangan yang satunya lagi di pakai untuk menopang dagu. Indra benar-benar tampan sekali saat itu!


Ada satu kehangatan menjalari hati Marisa, dan rasa hangat itu menjalari wajah dan sekujur tubuhnya. Perlahan demam tinggi yang mendera Marisa pun berangsur-angsur turun dan suhu tubuhnya pun menjadi normal. Marisa pun akhirnya tertidur pulas.


Waktu berjalan lambat hingga datang seorang perawat kedalam ruang perawatan dan memeriksa denyut nadi dan detak jantung Marisa, juga suhu tubuhnya.


Indra yang masih berada didalam ruangan pun segera menanyakan bagaimana keadaan Marisa. "Bagaimana keadaannya, suster?"


"Alhamdulillah suhu tubuhnya sudah menurun. Kalau besok tidak naik lagi, kemungkinan dokter akan memperbolehkan pasien untuk pulang pulang" jawab suster itu kemudian meninggalkan ruangan rawat inap seusai mengganti cairan infus Marisa dengan yang baru.


Indra menghela nafas lega. "Syukurlah kalau kamu sudah membaik, Marisa. Jadi saya tidak perlu merasa bersalah lagi" gumam Indra sambil tersenyum sedikit.


Di belainya pipi Marisa dengan lembut. "Dalam keadaan tidur seperti ini, kamu tampak semakin cantik, Marisa"

__ADS_1


Dan tanpa bisa di cegah dan tanpa ada yang menghalangi, Indra merundukan wajahnya dan menjatuhkan satu kecupan mesra di kening Marisa!


__ADS_2