
Jam makan siang tiba. Marisa sudah selesai mengerjakan tugasnya menyusun agenda untuk metting nanti sore. Sementara itu, Indra dan Andro masih sibuk membicarakan bisnis mereka.
"Udah jam makan siang, aku mau makan siang dulu, Dra." kata Andro.
"Ya udah sana." ucap Indra acuh tak acuh.
Andro bangkit dari kursinya lalu melirik Marisa. "Ayo, Mar! Kita makan bareng!" ajaknya.
Marisa terbengong. "Bapak mengajak saya makan bareng?" tanyanya.
"Iya, pekerjaan kamu sudah selesai kan?"
"Udah sih."
"Ya udah, ayo!"
"Apa-apaan sih, Dro! Masak kamu ajak Marisa makan bareng! Gak bisa lah!" protes Indra.
"Lho, kenapa gak bisa?" tanya Andro.
"Gak profesional! Masak ngajak mahasiswa yang lagi PKL buat makan siang bareng?!"
"Ini kan udah di luar jam kerja! Gak ganggu waktu kerja Marisa!"
"Mau makan dimana kalian?!"
"Di Resto Seafood langganan kita!"
"Marisa mana bisa makan disana?! Dia biasa makan di warteg! Sama cowok kelam temen kos-an nya tersayang! Nanti malah bikin kamu malu!"
Marisa tersinggung mendengar perkataan Indra. "Menjengkelkan!" batinnya geram.
"Biarin! Yang penting aku bisa makan bareng Marisa!" tukas Andro.
"Segitunya!" cibir Indra.
"Aku sengaja kok hari ini ke kantor sekalian mau ketemu Marisa!"
"Terserah! Kalau dia bikin malu jangan salahkan aku!"
"Gak akan bawa-bawa kamu kok, Dra!" Andro menatap Marisa. "Ayo, Mar!"
"Iya..." kata Marisa ragu tapi langkahnya mengikuti Andro. Marisa sempat menoleh ke belakang-ke arah Indra. Tampak Indra melotot ke arahnya dengan bengis!
'Glek!'
Marisa sampai menelan ludah sendiri melihat wajah Indra yang tampan berubah menjadi angker! "Segitunya Pak Indra melihat aku! Apa dipikirnya aku gak pantes makan bareng Pak Andro?"
Marisa menjadi dilema, tapi kemudian di kuatkan hatinya untuk makan siang bersama Andro. "Pak Indra, jangan lupa makan siangnya, ya? Jangan dulu ngopi sebelum makan." kata Marisa sebelum meninggalkan ruangan.
"Apa kamu berani ngatur-ngatur saya!" bentak Indra.
__ADS_1
"Maaf Pak, saya hanya mengikuti apa kata Bu Sofie, tunangan Bapak." jawab Marisa lalu segera mempercepat langkahnya untuk menyusul Andro yang sudah melangkah jauh sebelum mendengarkan semprotan dari mulut Indra.
Marisa berjalan di belakang Andro menuju lift, lalu masuk bersama ke dalam lift itu. Andro memencet tombol lift untuk menuju lantai dasar.
"Kita pertama ketemu di lift ini ya, Mar?" kata Andro sambil tersenyum manis pada Marisa.
Marisa terpana seketika. Manis sekali senyum Andro Perdana! "Iya, Pak." jawab Marisa sambil tersenyum malu.
"Sejak saat itu aku selalu memikirkan kamu, Marisa. Kamu betah apa enggak kerja sama Indra. Kamu nyaman apa enggak di Perdana Enterprise. Apalagi Indra kan orangnya kayak gitu! Galak, arogan, dan temperamental"
"Iya sih..."
"Sabar ya Mar, aku aja adiknya gak bisa mendapatkan perlakuan yang baik dari dia." ujar Andro sambil tersenyum pahit.
"Pantas ketika saya bilang kalau saya dan Gery adalah sahabat yang sudah seperti saudara, Pak Indra bertanya, "apa ada teman yang bisa seperti saudara?'"
"Dia tuh sudah kelewat ferfeksionis! Dari kecil gak bisa lihat sesuatu yang kurang menurutnya! Semua gak boleh bercela di matanya! Ambisius dan pekerja keras!"
"Tapi Pak Andro tidak seperti itu?"
"Menurut kamu gimana?" mata Andro memandang tajam pada Marisa membuat jantung Marisa seolah berhenti berdetak!
Lift terbuka dan mereka sudah sampai di lantai dasar. Andro keluar terlebih dahulu dari dalam lift dan Marisa berjalan di belakangnya.
Andro menoleh ke belakang. "Kamu berjalan di sisi saya!" perintahnya.
"Bapak jalan duluan saja." kata Marisa menolak.
"Gak enak di lihat yang lain, Pak!"
"Siapa?" Andro menoleh celingukan ke kiri dan ke kanan.
Mau tak mau Marisa tersenyum. "Udah Pak Andro, jangan celingukan begitu!" kata Marisa.
"Jadi kamu mau jalan beriringan sama saya?"
"Oke deh!" Marisa mengalah dan mengambil tempat di sisi Andro.
"Nah gitu dong! Kalau di luar jam kerja, kamu bukan pegawai di kantor saya."
"Lalu?" tanya Marisa.
"Kamu gadis incaran saya!"
Wajah Marisa bersemu merah! "Ada-ada aja Pak Andro!" Marisa pun memalingkan wajahnya.
"Saya bercanda! Kamu sampai merah gitu!" goda Andro.
"Ih!" Marisa tak tahu harus berkata apa lagi.
"Gini saja, kalau di luar jam kerja, kamu adalah teman saya! Gimana?"
__ADS_1
"Hm... Kalau itu boleh!"
"Oke, jadi kita sahabatan ya?"
"Oke!" Marisa tersenyum manis. Andro terpana melihat kecantikannya.
Marisa dan Andro berjalan beriringan. Mereka melewati beberapa pegawai kantor lainnya. Kebanyakan menatap penuh curiga pada Marisa. Terutama Kayla dan Indah!
Kayla langsung mengamit lengan Indah dan mulai bergosip. "Dah, lihat tuh si anak PKL-an! Belum lama ini dia pergi keluar kantor sama Pak Indra! Sekarang keluar kantor sama Pak Andro! Gila kan?! Masa dua-duanya dia mau embat sih?! Katanya asisten pribadi Pak Indra! Tapi bisa dipinjam sama Pak Andro!"
"Biarin ajalah!" kata Indah acuh tak acuh.
"Ya gak bisa gitu dong, Dah! Kalau mau kerja yang profesional! Bukan dengan cara main kotor kayak gitu!"
"Main kotor gimana?"
"Bisa di bawa sama dua CEO kakak beradik sekaligus!"
"Belum tentu juga kan tuh anak kayak gitu?! Kamu aja yang negatif thinking!"
"Gayanya ngelunjak banget! Sampai berani jalan bersisian sama Pak Andro!"
"Kamu iri?"
Kayla bergidik jijik. "Enggak lah! Kalau aku sih anti mau di booking CEO cuma karena butuh uang tambahan atau rekomendasi bagus buat nilai kuliah! Amit-amit!"
Sementara itu, Marisa pergi makan siang bersama Andro di restoran seafood yang tidak jauh dari kantor. Bahkan Marisa pergi kesana dengan menaiki mobil Andro!
Andro benar-benar ramah dan menyenangkan! Marisa tidak menyangka ada dua orang pria tampan yang sangat mirip tapi memiliki sifat yang sangat berbeda.
Berbeda dengan Indra yang arogan, sombong, suka membentak dan keras. Andro memiliki kepribadian yang sangat baik dan welcome kepada orang di sekitarnya.
"Bapak tidak malu makan siang bersama saya?" tanya Marisa disela-sela suapan makannya.
"Kenapa saya harus malu? Kamu cantik, kamu juga baik." jawab Andro.
"Saya takut Pak Indra marah."
"Kalau masalah Indra biar jadi urusan saya!"
Marisa angkat bahu. Andro sepertinya benar-benar ingin bersahabat dengan Marisa. Malahan pada saat itu, Andro meminta no HP Marisa dan alamatnya juga.
"Buat apa, Pak?" tanya Marisa.
"Gak buat apa-apa. Mungkin suatu saat saya akan mengunjungi kamu." jawab Andro.
"Mengunjungi saya?!" tanya Marisa bingung.
"Iya siapa tahu saya lagi ada di daerah Jakarta terus lapar, pengen makan tapi gak ada temen. Saya kan bisa jemput kamu di kos-an kamu!" Andro berkata seraya tertawa renyah.
Suara tawa yang tidak pernah Marisa dengar dari seorang Indra Perdana! Hanya bentakan dan nada tinggi! Ya, Andro memang bukan Indra!
__ADS_1