My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 263 : Pertolongan Henry Adiputra


__ADS_3

Marisa merasa menjadi seperti seorang yang sedang mendapatkan rezeki bedah rumah hari itu. Bagaimana tidak? Begitu memasuki rumah mungil minimalis yang di siapkan oleh Herman untuknya, Marisa melihat kalau didalam rumah sudah lengkap dengan perabotan rumah tangga dan juga sembako.


"Ya Allah... Terima kasih Herman dan Ina. Aku merasa sangat bersyukur dengan apa yang sudah kalian siapkan untukku" kata Marisa terharu karena tadinya dia berpikir kalau akan mendapati sebuah rumah kosong dan kotor. Tapi kenyataannya rumah yang di siapkan untungnya adalah sebuah rumah layak huni dan sudah lengkap semua kebutuhan rumah tangga.


"Semua ini atas permintaan Pak Henry, kebetulan rumah ini adalah rumah almarhum bapak saya dan sudah saya cat ulang atas permintaan Pak Henry untuk menyiapkan semua keperluan Bu Marisa selama tinggal disini" kata Herman.


"Iya Bu, semuanya selesai dalam waktu satu hari. Saya juga sudah rapikan kamarnya dan juga sudah lengkap dengan lemari baju dan kipas angin" kata Ina.


"Perabotan elektronik yang ada di rumah ini juga semuanya baru. Saya dan Ina langsung belanja ke pasar kemarin. Kamu Bu Marisa merasa televisinya kurang besar atau sofanya kurang empuk, kita bisa tukarkan ke pasar karena masih garansi" kata Herman.


Marisa melirik pada Henry dengan penuh rasa terima kasih. "Berapa harga yang harus aku bayar untuk rumah dan semua perlengkapan yang sudah disiapkan untuk aku ini?" tanyanya.


"Tidak usah kamu pikirkan semua itu. Yang penting kamu dan Syailendra bisa nyaman berada di tempat ini" kata Henry.


"Mana bisa begitu?! Kamu pasti sudah menghabiskan banyak uang untuk semua ini!"


"Aku senang bisa membantu kamu. Jadi kamu tidak usah memikirkan apa-apa lagi"


"Kamu jangan bicara seperti itu! Aku punya uang kok?"


"Aku tahu kamu punya uang. Sekarang begini saja, kamu simpan dulu uang kamu. Kalau aku ada perlu aku akan pinjam, untuk sekarang ini aku belum membutuhkan"


Marisa menghela nafas panjang. "Lalu bagaimana aku harus berterima kasih?"


"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa. Aku ikhlas membantu kamu"


Marisa pun sibuk dengan rumah barunya. Setelah Syailendra tertidur, Marisa membereskan semua barang-barang yang dibawanya dari kediaman keluarga Perdana dan dia baru selesai pada sore hari.


Ina dan Herman pun menjamu Marisa dan Henry untuk makan bersama di rumah mereka. Masakannya berupa nasi liwet lengkap dengan sambal dan lalapan. Marisa langsung merasa rindu dengan keluarganya di Bogor yang selalu menyiapkan Marisa nasi liwet jika sedang berkunjung kesana.


"Maafkan Marisa, Mama dan Ayah... Marisa belum sempat mengabari Ayah dan Mama. Kalian pasti khawatir dengan keadaanku sekarang... Bahkan aku tidak sempat berkunjung dulu kerumah sebelum aku melarikan diri kesini..." batin Marisa sedih.


Malam pun tiba, Herman dan Ina menemani Marisa di rumah barunya sambil minum kopi bersama. Suasana malam itu sangat sejuk dan nyaman. Suara jangkrik dan kodok bersahutan di pekarangan rumah Marisa.


Malam itu Henry pun memutuskan untuk langsung pulang ke Jakarta walaupun Marisa memintanya untuk menginap.

__ADS_1


"Aku besok harus masuk kerja pagi, jadi aku harus pulang sekarang" kata Henry.


"Apakah sebaiknya Bapak menginap di rumah saya" kata Herman.


"Iya Pak. Ini sudah malam" kata Ina.


"Tidak apa-apa. Saya biasa berkendara malam hari" kata Henry.


"Ya sudah kalau begitu. Kamu hati-hati ya!" kata Marisa.


"Kamu juga! Segeralah telepon orang tuamu dan juga Gery. Katakan pada Gery agar dia segera bisa mengatur kapan Baby sister kamu menyusul kesini. Kamu pasti membutuhkan seseorang untuk membantu kamu disini"


"Iya, aku akan segera menelepon Gery"


"Jangan juga buka media sosial untuk saat ini kalau kamu tidak mau di temukan oleh Indra!"


"Iya, aku hanya akan menghubungi keluargaku dengan nomor baru"


Henry menatap Herman dan Ina. "Saya titip Marisa dan Syailendra, ya? Tolong jaga mereka berdua baik-baik" kata Henry pada pasangan suami istri itu.


"Kami akan selalu menjaga Bu Marisa dan dede Syailendra" kata Ina.


"Terima kasih banyak" kata Henry kemudian pria tampan yang masih single itu mengenakan jaket dan meraih kunci mobilnya. "Saya pergi sekarang" katanya sambil melangkah keluar rumah.


Marisa melangkah mengikuti langkah Henry untuk mengantar pria itu sampai kedepan rumah. Ina hendak menyusul tapi Herman menarik lengannya.


"Hey! Jangan ikut-ikutan kedepan! Biar saja Bu Marisa yang mengantarkan Pak Henry kedepan rumah!" kata Herman.


"Lho, kenapa Kang?" tanya Ina.


"Mungkin mereka mau salam perpisahan"


"Tapi kan Bu Marisa belum berpisah dengan suaminya"


"Memang, tapi aku tahu kalau sejak dulu Pak Henry menaruh perasaan kepada Bu Marisa!"

__ADS_1


"Oh begitu?"


"Kita disini saja sambil mendengarkan takutnya dede Syailendra bangun!"


"Iya Kang"


Sementara Marisa mengantarkan Henry sampai kedepan rumah. "Hati-hati ya dijalan, jangan ngebut!" kata Marisa.


"Iya, kamu segera aktifkan nomor barunya biar aku bisa menghubungi kalau aku sudah sampai di Jakarta" kata Henry.


"Siap!"


"Jaga diri baik-baik ya! Kalau ada apa-apa hubungi aku!"


"Makasih ya... Aku gak tahu harus bagaimana lagi untuk membalas semua kebaikan kamu"


"Aku iklhas kok"


"Sekali lagi makasih"


"Sama-sama"


Henry pun masuk kedalam mobilnya dan segera melaju perlahan meninggalkan Marisa.


Marisa masuk kembali kedalam kamar rumah dan tak lama kemudian Herman dan Ina pamit pulang. Tinggalah kini Marisa bersama Syailendra. Marisa menutup pintu rumah dan juga gorden jendelanya. Marisa sempat menatap sebentar keluar jendela dan hanya kegelapan malam yang terlihat karena di seberang rumah Marisa adalah pesawahan.


Marisa kemudian masuk kedalam kamar dan menatap anaknya yang sedang tertidur nyenyak. Marisa duduk di samping Syailendra dan mencium kening anak kesayangannya itu.


"Sayang... Mama tahu kamu pasti capek sekali hari ini. Tidur kamu sampai mendengkur begitu... Maafkan Mama ya?! Mama janji besok kita akan bermain seharian dan tidak akan kemana-mana. Kamu pasti betah tinggal disini!" kata Marisa perlahan.


Marisa juga merasa sedih karena harus memisahkan Syailendra dari Indra. Tapi mau bagaimana lagi? Luka batin yang Marisa alami membuatnya tidak sanggup lagi bertahan hidup bersama Indra.


Selama dua bulan ini Marisa memendam perasaannya yang tersakiti. Marisa menunggu hingga Syailendra berulang tahun yang kesatu untuk bisa memahami perasaan hatinya apakah dia bisa menerima Indra kembali?


Tapi ternyata perasaan Marisa semakin sakit dan sikapnya kepada Indra menjadi semakin dingin. Bagai api dalam sekam yang kapan saja bisa meledak! Marisa pun akhirnya memutuskan untuk pergi dari kehidupan Indra!

__ADS_1


__ADS_2