
Marisa menatap Indra dengan ragu-ragu. "Aku naik ke atas pengakuan kamu? Di sofa ini? Di ruangan ini?" tanyanya.
"Iya, anggap saja ini perintah dan seorang CEO pada asisten pribadinya! Kita mainkan fantasi kamu disini sekarang juga! Kamu berani?" tantang Indra.
"Siapa takut?! Baiklah kalau itu keinginan Anda, Pak Indra Perdana yang terhormat!" Marisa naik atas pangkuan Indra karena memang merasa tertantang juga karena sudah merasa tidak tahan lagi dengan desakan di bagian bawah tubuhnya yang memintanya segera untuk di masuki.
"Engh..." Marisa melenguh saat merasakan ujung senjata milik Indra sudah menemukan gerbang kenikmatannya.
"Turunkan pinggul kamu, Marisa Larasati!" bisik Indra seraya memegangi kedua belah pinggul Marisa dan membimbingnya agar duduk.
Dengan tersendat-sendat Marisa menurunkan pinggulnya hingga akhirnya Marisa benar-benar duduk di atas pangkuan Indra dengan senjata Indra yang menancap dalam pada bagian bawah tubuhnya!
Keduanya melenguh secara bersamaan. Saling tatap dan kemudian bibir mereka kembali bertemu. Perlahan Marisa mulai menggerakkan pinggulnya maju mundur dan naik turun di atas pangkuan Indra. Belum pernah Marisa merasakan bercinta dengan gaya di atas seperti saat ini. Wajahnya yang cantik mendongak keatas dengan dadanya yang membusung tepat di depan wajah Indra yang membuat Indra langsung melahapnya!
"Awh...!" Marisa merintih nikmat dan memeluk kepala Indra agar semakin rapat di dadanya. "Ah... Pak Indra... Pak Indra... Aduh..." Marisa mempercepat gerakan pinggulnya. Dengan posisi seperti ini Marisa bisa mengontrol seberapa cepat dan seberapa dalam yang di inginkan nya. Malahan kini Marisa mulai membuat gerakan memutar!
Indra sejenak melepaskan dada Marisa karena tidak tahan dengan efek goyangan pinggul Marisa. "Nikmat sekali, Mar... Argr...! Kenapa kamu bisa bergoyang seperti ini?! Ah... Marisa... Ugh... Milik kamu menghisap dan meremas senjata saya!"
"Punya Pak Indra yang keras banget...! Ah... Enak... Pak Indra!"
"Kamu suka, Marisa Larasati?!"
"Suka banget...!"
"Saya akan bantu dari bawah! Agar kamu bisa segera sampai!" Indra mengambil alih kendali dan mulai menyerang tubuh dari bawah sehingga Marisa merasa kalau bagian bawah tubuhnya seperti di bongkar dan di bor dari bawah!
Marisa menjerit tertahan dan langsung mengigit bahu Indra karena merasa tidak tahan! Suara dari mulut Marisa kini terdengar seperti orang yang sedang menangis!
"Lepaskan Marisa! Ayo! Jangan ditahan!" bisik Indra tegas dan mempercepat gerakan pinggulnya hingga tubuh Marisa terlonjak-lonjak di atas pangkuannya!
__ADS_1
Akhirnya dengan satu jeritan tertahan, tubuh Marisa mengejang hebat di atas pangkuan Indra untuk selanjutnya melemah perlahan dalam dekapan Indra.
Indra membelai rambut Marisa dan mengecup keningnya. "Puas, Marisa Larasati?" tanyanya pelan.
"Puas, Pak Indra... Anda luar biasa...!" jawab Marisa.
"Saya belum"
"Anda mau saya berbuat apa sekarang?"
"Puaskan saya dengan mulut kamu...!"
Marisa menatap Indra dan mengedipkan sebelah matanya lalu dengan segera Marisa turun dari pangkuan Indra dan berlutut di hadapan Indra yang masih duduk di atas sofa.
"Agh...!!!" Indra mengerang nikmat saat merasakan kini mulut Marisa yang menstimulasi senjata nya! Marisa benar-benar luar biasa! Beliau pernah Indra merasakan kenikmatan dari mulut seorang wanita dengan rasa senikmat ini! Marisa benar-benar cepat belajar hingga di usia pernikahan mereka yang baru tiga bulan, aksi Marisa sudah seperti seorang yang sangat profesional dalam masalah percintaan!
******* demi ******* keluar deras dari mulut Indra! Tubuh Indra mengejang hebat di atas sofa dengan tatapan sayu setengah terpejam!
Tapi Marisa tidak mau melepaskan senjata Indra dari mulutnya!
Indra mengerang frustasi dan dengan gemas menarik senjatanya dari mulut Marisa! "Saya bilang sudah!"
Marisa malah tersenyum manja. "Kan belum keluar, Pak Indra..."
"Saya mau yang bawah lagi!" Indra menarik Marisa ke dekat meja "Kamu berpegangan pada meja itu. Saya ingin melakukan seperti yang selama ini saya impikan! Memasuki kamu dari belakang di ruangan ini! Kamu masih ingat kan saat saya melakukannya dulu saat kamu masih jadi asisten pribadi saya?"
Marisa teringat saat hal itu terjadi. Bagaimana Indra pernah dengan tiba-tiba memegang pinggulnya dari belakang dan menekan bokong nya dengan tidak sopan. Bahkan akibat dari kejadian itu Marisa sampai jatuh sakit karena merasa syok dengan kejadian yang melecehkan nya itu.
Dan kini keadaannya sudah lain, Indra sudah menjadi suaminya dan Marisa tidak mungkin menolak apapun keinginannya. Maka dengan pasrah Marisa membungkukkan tubuhnya dengan posisi memegangi ujung meja.
__ADS_1
Indra mendekati Marisa dengan tidak sabar dan mengangkat rok span Marisa hingga ke atas pinggul sehingga menampakkan bagian bawah tubuhnya yang sangat di sukai Indra. Di bagian atas Marisa masih memakai blush nya dengan kancing-kancing yang terbuka dan bra terangkat membuat kedua buah dadanya menggantung sempurna.
Indra tidak sabar lagi, di arahkan nya ujung senjatanya ke milik Marisa dan di dorong nya dengan kasar sehingga membuat Marisa mengerang dan memegangi ujung meja kuat-kuat.
"Pelan-pelan... Pak Indra... Sakit..." rintih Marisa tersendat-sendat.
"Kamu sempit sekali, Marisa!" Indra terus mencoba memasukkan semua senjatanya kedalam milik Marisa yang terasa sangat sempit dengan posisi berdiri seperti itu. Hingga akhirnya senjata Indra berhasil masuk dengan sempurna kedalam tubuh Marisa!
"Awh...!!!" Marisa menjerit tertahan karena merasakan perih sekaligus nikmat.
"Sakit, Marisa?" bisik Indra.
"Iya... Sakit, Pak Indra. Saya terasa sobek..."
"Saya akan lakukan perlahan-lahan" Indra memegangi pinggul Marisa dan mulai mengeluarkan-masukkan senjatanya dengan perlahan. "Ugh... Nikmat sekali, Marisa..." desah Indra dengan nafas terengah-engah dan kemudian mengigit bibirnya sendiri.
Awalnya perlahan tapi lama kelamaan Indra sudah tidak bisa lagi menahan nafsunya dan menggoyang tubuhnya dengan kasar, kuat, cepat dan menghentak! Apalagi sekarang Marisa sendiri sudah tampak menikmati karena ikut menggoyangkan pinggulnya untuk mengimbangi gerakan Indra.
Marisa menahan mati-matian jeritannya dengan mengigit bibirnya sendiri karena takut terdengar keluar ruangan. Kepala Marisa mendongak keatas dengan mata membeliak dengan kedua tangannya meremas dan mencakar meja kerja.
Hingga akhirnya Marisa yang sudah tidak tahan lagi dan mencapai puncak kenikmatan lebih dulu. Tubuh Marisa tersungkur di atas meja kerja dengan bercucuran peluh. Lemas dan tak bertenaga lagi.
Tapi Indra malah mencengkram keras pinggul Marisa dan semakin menghentak sehingga membuat Marisa memekik-mekik tidak tahan merasakan bagaimana bagian bawah tubuhnya di hajar dengan membabi-buta oleh senjata Indra.
..."Akh...! Udah, Pak Indra...! Udah...! Gak kuat... Ampun...! Ah... Udah... Ampun..." pekik Marisa....
"Tahan Sayang, sebentar lagi!" geram Indra.
"Ah... Gak kuat... Duh... Udah...!"
__ADS_1
"Iya, Sayang! Ini saya sampai!" dan di iringi satu geraman keras, Indra melepaskan semburan kepuasan nya di dalam tubuh Marisa!