
Marisa memekik histeris saat tubuh Indra yang tinggi besar jatuh terguling-guling ke lantai rumah sakit hingga membuat tiang infus nya ikut terbanting.
Indra mengaduh kesakitan seraya memegangi dadanya yang terasa berdenyut sakit. Sementara Marisa segera berjongkok untuk memeriksa keadaan Indra. Di rabanya dada Indra dengan panik.
"Pak Indra, dada Anda terasa sakit?!" tanya Marisa khawatir.
Indra tidak menjawab melainkan menganggukan kepalanya dengan lemah.
"Maafkan saya, saya tidak sengaja. Saya akan bantu Bapak untuk kembali ke pembaringan"
Dengan sekuat tenaga Marisa mencoba memapah tubuh Indra agar bisa kembali di ranjang perawatan nya. Hingga akhirnya Indra berhasil di baringkan kembali dengan nafas yang masih tersengal-sengal.
"Maafkan saya, Pak Indra" kata Marisa dengan setengah menangis karena khawatir sekali pada kondisi Indra. Bahkan rasa sakit hatinya akibat ucapan Indra barusan langsung lenyap tak berbekas.
"Saya kan sudah bilang, saya butuh kamu untuk keluar dari rumah sakit ini" kata Indra beberapa saat setelah di rasakan nya nyeri di bagian dadanya agak berkurang.
"Iya, maafkan saya"
"Jadi kamu mau membantu saya?"
"Iya, saya mau. Sekarang apa yang Anda butuhkan? Apa yang bisa saya lakukan?"
"Dengan apa kamu semalam membawa saya kemari?! Dengan ambulans?"
"Saya membawa Anda dengan mobil Anda sendiri. Fero yang menyetir mobilnya"
"Oh, Fero juga kah yang menyelamatkan saya dari Herman?"
"Ya, semalaman mereka sempat berkelahi hingga akhirnya Herman kabur dari tempat kejadian"
"Sekarang mana mantan kekasih kamu itu?"
"Dia semalam langsung kembali ke bar karena mobilnya masih berada disana dan pagi ini dia harus ke Bandung karena ada syuting"
"Syuting?! Mantan kamu itu orang TV?"
"Ya, dia kameramen"
"Kalau begitu sekarang mobil saya ada disini?"
"Ya"
"Saya mau kamu ambil dompet dan HP saya didalam mobil. Saya harus segera menghubungi Mama, dia pasti merasa sangat khawatir!"
"Astaghfirullah! Anda benar! Saya juga belum mengabari Mama Anda dari semalam! HP saya juga ketinggalan di mobil Anda"
Saat itulah seorang perawat dan dokter memasuki ruangan. Sudah jam 8 pagi, saatnya kunjungan dokter.
"Selamat pagi, Pak Indra. Sudah siuman?" sapa dokter itu.
__ADS_1
Indra hanya mengangguk.
"Saya akan periksa keadaan Anda sekarang"
"Iya, dokter. Saya ingin segera keluar dari rumah sakit ini"
Marisa merasa saat ini lebih banyak dia ke mobil Indra untuk mengambil HP dan juga tas nya, juga HP dan dompet Indra.
"Pak Indra, saya ke mobil sekarang" kata Marisa.
"Jangan lama-lama!" kata Indra.
Marisa segera bergegas ke pelataran parkir rumah sakit dan mengambil tas nya serta HP dan dompet Indra.
Marisa masih sempat memeriksa HP nya yang ternyata sudah dalam keadaan matic karena kehabisan daya.
"Ah, mati! Aku gak bawa charger lagi!" keluh Marisa.
Marisa segera kembali ke ruangan perawatan Indra, ternyata dokter yang memeriksa Indra sudah meninggalkan ruangan dan kini ada seorang perawat yang datang untuk membawakan sarapan pagi untuk Indra.
"Di makan ya sarapan nya, Pak Indra. Kan Anda mau pulang sebentar lagi" kata perawat itu sebelum meninggalkan ruangan.
"Anda mau pulang?" tanya Marisa.
"Iya, saya mau pulang! Saya tidak suka berada di rumah sakit jelek ini!" rutuk Indra.
"Kata dokter bagaimana? Anda sudah boleh pulang dengan kondisi Anda sekarang?"
"Tadi pagi dokter bilang pada saya kalau kondisi Anda harus di pantau selama dua hari kedepan"
"Tadi juga dia bilang begitu. Tapi saya katakan kalau saya akan memeriksakan diri ke rumah sakit langganan saya dan melakukan pengobatan dari awal disana!"
"Sombongnya!"
"Ya, saya juga katakan kalau saya tidak suka di rawat disini!"
"Astaga! Dan dokter bilang apa?"
"Dia bilang kamu yang membawa saya kemari! Saya langsung katakan kalau kamu memang tidak tahu rumah sakit yang bermutu! Seenaknya saja membawa saya kesini!"
"Pak Indra! Ini adalah rumah sakit yang terdekat dari lokasi kejadian! Kalau tidak segera dibawa kesini, Anda bisa tidak tertolong!"
"Saya tidak perduli!"
Marisa menghela nafas panjang. "Dan apakah Anda merasa kalau kata-kata Anda barusan kepada dokter bisa menyebabkan perasaan tersinggung?!"
"Masa bodoh! Apa urusan saya dengan perasaan orang lain?!"
"Anda ini benar-benar bebal, Pak Indra! Anda tidak punya sedikitpun rasa toleransi! Apakah dari mulut Anda tidak bisa keluar sedikit saja kata-kata yang enak di dengar?!"
__ADS_1
"Semua tergantung kepada orang nya! Kalau dengan klien bisnis saya, tentu saja saya bisa menjadi kawan bicara yang menyenangkan!"
"Oh, jadi semua tergantung dari strata sosial?!"
"Iya! Sudah sekarang mana HP saya?! Kamu ini bawel sekali! Malah tanya-tanya hal yang tidak penting sama sekali!"
Marisa menyerahkan HP dan dompet Indra. "Nih!"
Indra segera memeriksa HP nya dan melihat banyak sekali panggilan disana. Tapi hanya satu nomor yang ingin segera Indra telepon balik, Mama nya!
"Halo, Mam" kata Indra begitu teleponnya tersambung.
"Masya Allah! Indra! Kamu dimana sekarang, Sayang?! Mama khawatir sekali!" terdengar suara Mama yang panik!
"Aku baik-baik saja, Mam. Aku ada sama Marisa"
"Sama Marisa? Mama semalam minta bantuan dia untuk mencari keberadaan kamu! Tapi tiba-tiba No nya sudah gak aktif! Ya Allah, bukan main khawatir nya Mama pada kalian berdua!"
"Tidak usah khawatir, Mam. Kami baik-baik saja. Sekarang kami berdua sedang ada di luar kota untuk urusan pekerjaan"
"Oh ya? Kenapa mendadak?!"
"Iya. Ini darurat sekali, Mam! Tapi saya janji begitu urusan ini selesai, kami akan segera pulang!"
"Ya sudah kalau begitu. Hati-hati disana ya, Sayang! Jaga Marisa!"
"Iya, saya akan jaga calon menantu Mama yang tersayang!"
"Dra, berapa hari kamu di luar kota?! Besok kan Andro pulang?!"
Indra malah mematikan teleponnya.
"Di luar kota?! Kok Anda bohong sih, Pak Indra?!" tanya Marisa.
"Iya, saya terpaksa berbohong! Kamu tidak tahu bagaimana kagetnya Mama kalau tahu kondisi saya saat ini. Mama bisa syok kalau tahu putra sulung kebanggaan nya di aniaya orang!"
"Iya juga sih... Tapi kan Anda akan pulang dari rumah sakit hari ini dan pasti akan bertemu Mama"
"Saya tidak akan pulang ke rumah"
"Lalu mau pulang kemana?"
"Saya akan pulang ke salah satu apartemen saya dan kamu akan ikut saya untuk merawat saya selama saya dalam pengobatan!"
"Apa?!" bukan main kagetnya Marisa! "Saya ikut untuk merawat Anda?! Saya tidak mau!" tolaknya!
"Kamu harus mau! Kamu terlanjur terlibat dalam urusan ini dan kamu harus jalani sampai akhir!"
"Saya tidak bisa! Saya mau pulang!"
__ADS_1
"Tadi kan kamu sudah bilang mau menolong saya untuk keluar dari rumah sakit ini!"