My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 24 : Hasutan Herman


__ADS_3

Sebenarnya apa yang terjadi pada Fero sehingga dia menghilang begitu saja dan tidak bisa dihubungi oleh Marisa?


Sore itu sebenarnya Fero sudah sampai di kantor Marisa dan menunggu Marisa di tempat biasa dia memarkirkan motornya. Baru beberapa menit menunggu, tiba-tiba muncul seseorang yang tak lain adalah Herman, supir pribadi Indra Perdana.


"Nunggu siapa, Bang?" sapa Herman seraya mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jaketnya, dikeluarkan satu batang dan dinyalakan kemudian ditawarkan kepada Fero. "Rokok, Bang?"


"Enggak, Bang! Saya gak merokok. Saya lagi nunggu pacar saya pulang kantor." kata Fero.


"Nunggu pacar? Kerja disini? Di Perdana Enterprise?"


"Iya, dia lagi PKL disini, tiga bulan."


Herman pura-pura terkejut. "Bukannya itu Marisa?!"


"Iya, Bang! Namanya Marisa. Abang kenal?"


"Kenal lah! Asisten pribadi Pak Indra Perdana, kan?"


"Iya."


"Kayaknya kamu bohong deh! Kamu bukan pacar Marisa, kan!"


Fero mengerutkan keningnya. "Saya beneran pacarnya, kok!"


"Tapi kok dia bilang sama Pak Indra kalau dia belum ada pacar?"


Hati Fero mendadak merasa tidak enak. Wajahnya berubah pucat. "Masa sih, dia bilang gitu?!"


"Saya kan supir pribadi Pak Indra! Saya dengar sendiri waktu Marisa bilang dia belum ada pacar sama Pak Indra." Herman pun mulai memainkan perannya.


"Apa maksudnya Marisa bilang gitu sama Bosnya?!"


"Kejadiannya udah agak lama, sih. Minggu lalu kalau gak salah. Pak Indra kan butuh cewek buat nemenin dia ke apartemen mewahnya. Tahulah kalau CEO muda kayak gitu suka main perempuan?"


"Maksudnya?!"


"Waktu Pak Indra ngajakin Marisa ke apartemen mewahnya, Pak Indra tanya udah ada pacar apa belum? Pak Indra kan gak mau cewek yang ada pacarnya, urusannya bisa jadi ribet! Tapi kata Marisa aman, dia gak ada pacar! Jadi bebas mau dibawa kemana aja sama Pak Indra!"


"Gak mungkin! Abang fitnah!" sergah Fero. Wajahnya sampai memerah menahan emosi!


"Nyantai dulu, jangan emosi begitu! Semua orang di kantor ini juga udah tahu kok, kedekatan Pak Indra sama Marisa!" ujar Herman.

__ADS_1


"Jangan main-main ya, Bang! Pacar saya, Marisa bukan cewek seperti itu!" Fero masih tidak mau percaya begitu saja.


"Terserah! Tuh ada Kayla! Pegawai di kantor ini juga! Coba aja tanya sendiri sama dia!" Herman menunjuk Kayla yang kebetulan baru keluar dari gedung kantor.


Herman berani memanggil Kayla karena sudah menjadi rahasia umum kalau Kayla menyukai Indra. Sudah pasti Kayla akan membenci Marisa yang lebih dekat dengan Indra ketimbang dirinya.


"Kayla, sini!" panggil Herman.


Kayla menoleh lalu menghampiri Herman. Sekilas dia melirik Fero dan melayangkan senyum manis.


"Pak Indra belum keluar kantor?" tanya Herman.


"Iya, biasalah! Pasti lagi asyik berduaan sama asisten pribadinya, si Marisa!" rutuk Kayla, seketika membuat Fero membelalakkan matanya.


"Nah, denger sendiri, kan?" Herman pun melirik Fero seraya tersenyum miring.


Kali ini Fero berhasil termakan kata-kata Herman, apalagi di dukung dengan perkataan Kayla. "Kayla, apa benar, Marisa dan Indra punya hubungan spesial diluar hubungan kerja antara CEO dan asisten pribadi?" tanya Fero pada Kayla.


"Ya iya lah! Semua karyawan juga udah pada tahu, Pak Indra tuh betah di kantor semenjak ada Marisa! Malahan segala ada acara diluar kantor!" kata Kayla berapi-api.


"Acara diluar kantor?!" tanya Fero lagi.


"Iya! Kabarnya sih, Marisa di ajak ke apartemen mewahnya Pak Indra! Gila kan tuh cewek! Cewek kayak gitu kan mau aja di booking yang penting dapet rekomendasi bagus dari Pak Indra! Ya, mungkin dapet uang jajan juga!"


"Emang kamu siapa?" kali ini Kayla yang bertanya pada Fero.


"Aku pacar Marisa."


"Ups, maaf!" Kayla tidak menyangka kalau dia sedang berbicara dengan pacar Marisa.


"Gak apa-apa, sekarang aku jadi tahu kalau Marisa seperti apa! Kelakuannya di luar sepengetahuan aku!"


"Iya, saran aku sih putusin aja cewek kayak gitu! Didepan kamu aja dia sok suci! Sok baik! Padahal di belakang kamu, dia tuh jadi cewek bookingan Pak Indra!" Dengan mudahnya, hanya karena merasa iri karena Marisa lebih dekat dengan Indra padahal Marisa orang baru di perusahaan itu, Kayla seenaknya saja berbicara semaunya tanpa perduli kalau dia sedang memfitnah Marisa.


"Kalau begitu sebaiknya aku pulang saja! Makasih infonya!" kata Fero lalu tanpa banyak bicara lagi segera meninggalkan area perkantoran Perdana Enterprise.


Herman pun nyengir pada Kayla. "Kayaknya benci banget kamu sama Marisa." ucapnya.


"Jijik aja ngeliatnya! Kok mau-maunya di bawa kesana kemari sama Pak Indra!" rutuk Kayla.


"Kalau Pak Indra nya yang mau bawa kamu kesana kemari, apa kamu akan menolaknya?" kini cengiran Herman menjadi semakin terlihat licik dan julid.

__ADS_1


"Ya enggak lah! Emangnya gua cewek apaan!"


"Hehe!" Herman tidak percaya pada perkataan Kayla dan malah mengeluarkan tawa seram.


*******


Sementara itu, Fero memilih pulang ke rumahnya dengan hati yang luka dan panas! Apalagi hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 26.


"Pantas Marisa tidak ingat dan tidak mengucapkan selamat ulang tahun sama sekali! Dia pasti sedang sibuk dengan Indra Perdana!" geram Fero.


Fero pun mematikan HP nya saat ada panggilan dari Marisa. "Maaf Mar, aku gak bisa lagi berhubungan sama kamu! Aku jijik! Kamu cuma ayam kampus yang rela menjual harga diri hanya untuk nilai kelulusan! Pantas waktu itu dia meminta aku menjemputnya di depan apartemen! Pasti itu apartemen Indra!"


*******


Lain halnya dengan Indra Perdana, sang CEO arogan itu merasa sangat senang saat mendapat kabar dari Herman tentang apa yang Herman lakukan pada Fero sampai Fero meninggalkan area perkantoran.


"Bagus sekali, Herman! Saya suka cara kerja kamu! Kamu cerdik dan bisa diandalkan!" puji Indra.


"Terima kasih, Pak!" kata Herman bangga.


"Untuk hasil kerja kamu, saya akan transfer bonus untuk kamu sekarang juga!" Indra pun mengambil HP nya untuk mentransfer uang pada rekening Herman.


"Gak usah repot-repot Pak! Sudah menjadi kewajiban saya untuk menjalankan semua tugas dari Bapak!" kata Herman jual mahal.


"Ini tidak seberapa!"


"Ngomong-ngomong Pak, apa Bapak suka pada Marisa?" tanya Herman.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu?!" Indra balik bertanya.


"Itu sampai menyuruh saya memata-matai Marisa dan memisahkan dia dari pacarnya?"


"Hm... Bagaimana, ya? Saya memang menyukai Marisa. Dia cantik dan polos. Tapi kan kamu tahu, saya tidak mungkin menjadikan dia pacar saya! Saya sudah mempunyai tunangan, dan saya juga tidak selevel berpacaran dengan mahasiswi dari kalangan bawah seperti dia!"


"Tapi kan kalau Bapak menyukai dia, gak perlu ada ikatan apa-apa!"


"Maksud kamu?"


"Bapak kan berkuasa! Mudah saja buat Bapak untuk membawa Marisa kemanapun dan melakukan apa saja terhadap dia!"


"Maksud kamu menjadikan dia simpanan saya?"

__ADS_1


"Kurang lebih begitu, Pak! Hehe! Bapak bisa menikmati semuanya tanpa harus terikat dan meninggalkan Bu Sofie!"


__ADS_2