My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 114 : Saya Tidak Bisa Memaksa Kamu


__ADS_3

Marisa bingung dan mengigit bibirnya sendiri. "Tapi untuk merawat Anda sampai beberapa hari, saya tidak bisa. Saya juga punya kehidupan sendiri. Kalau begini namanya Anda menyulitkan saya!" keluh Marisa.


Kali ini Indra tidak memaksa. Indra juga sadar kalau tidak mungkin juga Marisa mau merawatnya sampai pulih. Apalagi tepat hari ini masa kontrak PKL Marisa di Perdana Enterprise resmi berakhir.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau. Saya bisa menyewa seorang perawat untuk merawat saya sampai saya pulih. Yang jelas saya tidak bisa pulang ke rumah. Saya tidak mau Mama melihat keadaan saya yang babak belur seperti ini" kata Indra.


"Maafkan saya, Pak Indra"


"Kamu tidak bersalah. Saya juga tidak bisa memaksa kamu. Saya tahu kalau mulai hari ini, kamu tidak lagi terikat kontrak kerja dengan perusahaan saya. Yang artinya kamu juga tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan saya. Kita sekarang adalah mantan atasan dan bawahan. Lagipula kamu mencari saya tadi malam pasti semata-mata karena Mama saya yang meminta kamu untuk mencari saya. Kalau tidak karena Mama, mana mungkin kamu bisa ada di Alexandre bar semalam"


Marisa diam.


"Sekarang saya cuma minta satu hal pada kamu, itupun kalau kamu berkenan" kata Indra lagi.


"Apa yang bisa saya bantu? Kalau saya bisa, pasti akan saya lakukan" kata Marisa.


"Saya akan menelepon seseorang untuk datang kesini dan membawa mobil saya ke rumah sakit langganan saya. Saya akan menjalani pengobatan dari awal disana. Disana obat-obatan yang di berikan adalah obat-obatan bagus. Saya bisa lekas pulih kalau berobat kesana"


Marisa mengangguk tanda mengerti.


"Saya cuma minta kamu untuk bantu menyelesaikan administrasi saya di rumah sakit ini dan ikut mengantar saya ke rumah sakit langganan saya. Hanya itu saja. Apakah kamu bersedia?"


Marisa mengangguk. "Iya, Pak Indra. Saya bersedia"


"Masalahnya, siapa yang bisa saya hubungi untuk datang kesini? Saya sudah tidak ada supir pribadi sekarang"


"Mungkin Anda bisa menghubungi Pak Rafi?" usul Marisa.


Indra menggeleng. "Tidak bisa. Rafi bisa saja bercerita pada Bella tentang keadaan saya. Saya tidak mau ada orang kantor yang tahu kalau saya ada yang menganiaya! Coba kamu bayangkan! Seorang Indra Perdana di pukuli orang sampai babak belur di sebuah bar?! Mau di taruh dimana muka saya?! Bisa jatuh harga diri dan wibawa saya!"


"Disaat seperti ini Anda masih memikirkan soal wibawa?!"


"Tentu saja! Wibawa adalah hal yang sangat penting dalam hidup saya!"


"Lalu sekarang Anda mau menghubungi siapa?"


"Kamu ada ide? Apa mungkin saya hubungi Nino?"


"Jangan! Menurut Gery, Pak Nino adalah seorang yang kepo!"


"Lalu siapa?"


"Bagaimana kalau Anda menghubungi Gery?!"

__ADS_1


"Gery?! Sahabat kamu yang kelam itu?!"


"Iya, Gery bisa nyetir kok!"


"Ya sudah! Kamu hubungi saja dia! Suruh dia kesini sekarang juga!"


"HP saya mati"


"Kalau begitu kamu pakai HP saya! Saya ada nomor Gery! Waktu kamu sakit, saya sempat berkirim pesan WA dengan dia!" Indra menyerahkan HP nya pada Marisa.


Marisa mengambil HP itu dari tangan Indra. Baru saja Marisa hendak menghubungi Gery dengan HP tersebut, mendadak Marisa tertegun karena melihat ada fotonya sendiri di layar HP Indra sebagai wallpaper!


"Kenapa kamu bengong?!" bentak Indra.


"Kok wallpaper nya foto saya?!"


"Apa, foto kamu?!" Indra kaget dan baru ingat kalau dia memasang foto Marisa sebagai wallpaper HP nya. Semenjak Marisa mengundurkan diri dari Perdana Enterprise, tepatnya. Tapi mana mungkin Indra mengakui kalau dia memasang foto Marisa sebagai wallpaper karena selalu merindukan gadis itu!


Marisa memperlihatkan HP yang di pegang nya kepada Indra. "Tuh, ada foto saya"


"Oh, itu tidak sengaja terpasang!" kata Indra sekenanya.


"Apakah bisa seperti itu?"


"Ya, saya tidak sengaja! Memangnya kamu pikir saya memasang foto kamu untuk apa?! Tidak penting sama sekali!"


"Malas! Sudahlah! Kamu sudah mulai bawel lagi! Cepat telepon Gery dan suruh dia kesini sekarang juga!"


"Iya!" Marisa segera menelepon Gery dan langsung tersambung.


"Halo. Selamat pagi, Pak Indra" kata Gery lewat sambungan telepon.


"Ger, ini aku" kata Marisa.


"Marisa?! Astaga! Kamu dimana?! Kamu bersama Pak Indra?! Aku khawatir sekali! Tadi pagi aku datang ke kosan kamu dan bawain kamu nasi uduk buat sarapan! Tapi kamu nya gak ada!"


"Aku sama Pak Indra. Aku di rumah sakit"


"Rumah sakit?! Kamu kenapa?!"


"Aku gak apa-apa. Pak Indra yang sakit. Kamu bisa kesini sekarang kan, Ger?! Aku butuh bantuan kamu!"


"Aku masih di kantor"

__ADS_1


Marisa melirik Indra. "Katanya Gery masih di kantor"


"Suruh dia kesini sekarang! Bilang saja pada Nino kalau ini atas permintaan saya!" kata Indra.


"Ger, kata Pak Indra, kamu kesini sekarang. Bilang sama Pak Nino kalau kamu di minta Pak Indra" kata Marisa pada Gery.


"Oh iya, Mar. Kalau begitu aku kesana sekarang! Aku naik motor! Kamu share lokasi aja"


"Oke"


Marisa menutup teleponnya dan segera mengirim lokasi pada Gery.


"Sekarang kamu ke kasir. Tolong urus administrasi biaya saya di rumah sakit ini! Ini kartu ATM saya!" Indra memberikan satu kartu ATM nya pada Marisa.


"Apa tidak sebaiknya Anda makan dulu? Itu sarapan nya udah dibawain lho!"


"Saya tidak lapar! Kamu makan saja makanan itu! Kamu juga belum sarapan, kan?"


"Iya, saya lapar"


"Ya sudah. Makan saja! Saya tidak selera dengan makanan seperti itu!"


Marisa tanpa malu-malu segera memakan makanan rumah sakit yang di khususkan untuk Indra. Marisa memang lapar. Dia belum makan dari semalam.


Selesai makan Marisa mengambil kartu ATM di tangan Indra dan segera menyelesaikan biaya administrasi nya di kasir. Selesai Marisa menyelesaikan biaya administrasi Indra, kebetulan dia bertemu Gery yang sedang berjalan di koridor.


"Gery!" seru Marisa.


Langkah Gery terhenti dan dia menoleh ke belakang. "Marisa!" serunya.


Marisa sampai di hadapan Gery. "Makasih ya kamu mau datang kesini"


"Iya, tapi ada apa sebenarnya?! Kok kamu bisa disini sama CEO arogan itu?!" tanya Gery.


"Aku menemukan Pak Indra semalam di sebuah bar, dan dia dalam keadaan luka parah! Pak Indra di pukuli oleh Herman!" jawab Marisa.


"Herman? Supir pribadinya yang udah di pecat itu kan?!"


"Iya, lantas aku membawanya kesini"


"Kamu kok bisa nemuin Pak Indra di bar?! Sejak kapan kamu suka hiburan malam?!"


"Aku di minta Mama nya Pak Indra untuk cari dia, dan yang aku tahu tempat tongkrongan nya di bar itu!"

__ADS_1


"Oh gitu... Sama siapa kamu kesana?"


"Aku sama Fero, tapi sekarang Fero udah ke Bandung karena ada syuting. Makanya aku telepon kamu untuk bantu bawain mobil Pak Indra"


__ADS_2