
Indra merasa kecewa karena melihat bagaimana sikap Marisa yang dingin kepadanya. "Saya datang pagi-pagi kesini untuk menjemput kamu. Tapi kamu seperti yang tidak senang melihat kedatangan saya!" kata Indra.
"Menjemput kemana?" tanya Marisa.
"Ke kampus lah! Kamu hari ini mulai kuliah lagi kan?"
"Iya, tapi kan saya bisa berangkat sendiri!"
"Saya akan mengantarkan kamu sampai kampus!"
"Kamu harus ke kantor hari ini! Kamu sudah lama lho tidak ke kantor?"
"Saya akan pergi ke kantor setelah mengantarkan kamu ke kampus!"
Marisa menghela nafas panjang. Seorang Indra Perdana memang tidak bisa di bantah! "Ya sudahlah. Terserah!"
"Apakah saya tidak boleh masuk dulu?"
"Ya sudah, masuk kedalam! Cuaca nya masih dingin lho! Nanti kamu masuk angin!" Marisa masuk duluan ke rumahnya.
Indra ikut masuk kedalam rumah dan langsung memeluk tubuh Marisa setelah lebih dulu menutup pintu rumah. Bukan hanya memeluk, bahkan Indra menciumi tengkuk Marisa.
"Hmph... Hmph..." desah Indra saat menciumi tengkuk Marisa.
"Ya ampun, Indra! Geli!" sergah Marisa seraya mencoba melepaskan kedua tangan Indra yang melingkar di perutnya.
"Kamu wangi seperti bayi" bisik Indra.
"Sudah ah...!"
Marisa berhasil melepaskan kedua tangan Indra yang melingkar di perutnya tapi kini kedua tangan Sang CEO tampan itu malah memegang kedua buah dadanya dan meremasnya dengan brutal!
"Akh...! Indra!" Marisa memekik di antara rasa kaget dan nikmat yang menderanya.
"Ini kan masih dingin, bagaimana kalau kita saling menghangatkan?" bisik Indra dan perlahan mengarahkan tubuh Marisa ke kamarnya dengan kedua tangan yang masih aktif meremasi buah dada Marisa.
__ADS_1
"Jangan, Dra! Nanti ada yang datang!" kata Marisa tapi tidak mencoba untuk melepaskan diri dari dekapan Indra, malah kini tubuh Marisa telah dibawa Indra ke pinggir tempat tidur dan di rebahkan secara perlahan.
"Siapa yang mau datang pagi-pagi begini?! Saya ingin bermesraan dengan kamu sebentar saja!"
Indra dengan secepat kilat menindih tubuh Marisa sebelum gadis itu bangkit dari berbaringnya. Di sumbat nya bibir Marisa dengan ciuman yang begitu liar hingga gadis itu tidak bisa mengeluarkan suara lagi.
Tangan Indra semakin brutal mengacak-acak buah dada Marisa hingga pakaian tidur gadis itu tersingkap dan memperlihatkan buah dada besarnya yang masih di bungkus bra berwarna hitam.
Dengan cekatan Indra berhasil meloloskan bra Marisa ke atas dan membuat buah dada gadis itu kini terpampang jelas di depan matanya! Sangat besar dan terlihat kencang juga berkulit putih laksana salju, kontras dengan kedua ujungnya yang kecil dan berwarna coklat gelap!
Indra melepaskan ciumannya di bibir Marisa dan segera berpindah ke buah dada Marisa yang sangat menggoda untuk di nikmati! Dengan buas nya Indra mengunyah kedua ujung buah dada secara bergantian kiri dan kanan sementara kedua tangannya masih brutal meremas!
"Augh....! Indra...! Ah...! Ah...! Sakit, Dra...!" Marisa tidak tahan dengan perlakuan Indra dan hanya bisa meremas rambut lebat Sang CEO dengan keras untuk menahan rasa luar biasa yang baru kali ini di rasakan nya. Wajah cantik Marisa mendongak keatas dengan mata membeliak!
"Marisa, Sayang! Ini luar biasa lezat sekali!" desis Indra di tengah-tengah aktivitasnya.
"Aduh, Indra... Saya tidak tahan...!" rintih Marisa saat di rasakan nya Indra bukan hanya mengunyah tapi menghisapnya dengan kuat!
Indra sendiri saat itu sangat bernafsu untuk menikmati tubuh Marisa. Tapi Indra ingat kalau dia sudah berjanji untuk tidak lagi berusaha memaksa Marisa untuk melakukan hal yang tidak senonoh. Indra bertekad akan membuat Marisa melayang-layang tanpa harus merusak gadis itu.
Indra menekankan bagian bawah tubuhnya yang sudah sangat keras ke belahan kedua pangkal paha Marisa hingga keduanya kini sama-sama bisa merasakan bagian bawah tubuh mereka yang saling menekan di balik pakaian masing-masing.
"Ah...! Ah...! Aduh...! Indra...! Kamu nakal sekali! Apa yang kamu lakukan kepada saya!" rintih Marisa saat merasakan Indra bergerak dengan perlahan sehingga menimbulkan gesekan-gesekan yang memabukkan! Apalagi saat itu Indra masih menguasai buah dada Marisa dengan mulutnya!
Marisa benar-benar di buat tidak berdaya oleh Indra! Kedua bagian tubuhnya yaitu di bagian buah dada dan pangkal paha nya yang sedang di permainkan oleh Indra membuat Marisa lupa diri dan tenggelam dalam kenikmatan.
"St...! Akh...! Indra...! Indra...! Jangan hisap terus..." rintih Marisa dengan suara bergetar.
Indra kini melepaskan kedua buah dada Marisa dan menatap tajam mata Marisa yang berada tepat di bawah tindihan tubuhnya.
"Kenapa kamu tidak mau saya hisap terus?" tanya Indra dengan tatapan mata laksana pedang yang menusuk hati Marisa membuat gadis itu tidak bisa balas menatap dan hanya menatap sayu.
"Sudah perih, Dra..." bisik Marisa.
"Kamu belum terbiasa, Sayang"
__ADS_1
"Lepaskan saya..."
"Serius? Kamu ingin menyudahinya?"
"Iya... Saya takut! Kamu ini benar-benar meresahkan!"
"Bukankah ini nikmat sekali?" Indra menekankan lagi bagian bawah tubuhnya kepada tubuh bagian bawah Marisa.
"Indra! Saya bilang sudah!" pekik Marisa.
Indra tertawa pelan dan perlahan mengangkat tubuhnya dari tubuh Marisa. "Ya sudah. Saya akan melepaskan kamu" katanya sambil berdiri dan memegang bagian bawah tubuhnya yang masih mengeras dan tegang.
"Kenapa?" tanya Marisa seraya ikut bangkit berdiri.
"Senjata saya terasa pegal sekali..." jawab Indra.
Marisa tahu kalau Indra pasti saat ini merasa tidak nyaman karena nafsu nya tidak bisa di lampiaskan.
Marisa memeluk Indra dan mencium pipinya. "Maafkan saya, Ndra. Saya belum bisa memberikan apa yang kamu inginkan. Kalau saya sudah resmi menjadi milik kamu, saya pasti akan menyerahkan diri saya seutuhnya untuk kamu!" katanya.
"Iya, Marisa. Saya akan sabar menunggu kamu hingga kamu menyerah"
"Sekarang kita kedepan yuk! Kayaknya tadi saya lihat kamu bawa paper bag! Apa isinya?"
"Oh itu dari Mama. Mama tadi bangun pagi sekali untuk membuatkan kamu sarapan!"
"Baik sekali, Mama! Kalau begitu segera saja kita sarapan bersama. Kami juga belum sarapan, kan?"
"Belum lah! Saya buru-buru kesini karena sangat merindukan kamu! Mana cuaca nya sedang dingin sekali!"
"Siapa suruh pagi-pagi sudah kesini!"
"Tidak apa-apa, kok. Saya merasa beruntung bisa menemui kamu pagi ini! Kamu sudah memberikan saya sesuatu yang sangat saya sukai!" Indra tersenyum nakal seraya melirik ke arah buah dada Marisa.
Marisa melotot dan memukul bahu Indra! "Kamu ini benar-benar meresahkan! Kok saya bisa terperdaya oleh kamu dan memberikan nya!"
__ADS_1
"Tidak usah di sesali, Sayang! Tadi itu sangat lezat sekali!" Indra meleletkan lidahnya.
"Ih!!!"