My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 166 : Izinkan Saya Pergi...


__ADS_3

Marisa baru selesai mengikuti kuliahnya saat menerima pesan misterius dari no yang tidak di kenalnya.


Marisa, apakah kamu sudah yakin dengan Indra Perdana?


kamu tidak tahu kan apa yang sekarang sedang di perbuat nya?


kalau kamu mau tahu, silahkan datang ke unit apartemen yang saya akan tuliskan dibawah pesan ini.


setelah kamu melihatnya sendiri, kamu akan tahu kalau kamu telah salah dalam memilih.


harusnya kamu pilih Andro, bukan Indra!


apakah kamu tidak bisa membedakan mana kaca dan mana permata?


Lalu ada sebuah alamat yang di tulis dibawah pesan itu.


Marisa menghela nafas panjang. Pergi ke alamat yang tertera disana atau abaikan saja pesan itu?


"Ada apalagi ini? Apakah aku tidak bisa hidup tenang bersama Indra? Tapi sebaiknya aku pergi kesana walaupun aku tidak tahu ada apa yang menanti aku disana" batin Marisa.


Saat itulah Gery lewat di sebelah Marisa yang masih merenung sambil memegang HP nya.


"Yang udah mau nikahan, kok masih melamun gitu?! Pamali tahu! Ayo pulang bareng!" seru Gery seraya mencolek bahu Marisa.


"Ger!" Marisa agak gelagapan saat menyadari ada Gery di sisinya.


"Apa apa, Mar? Ada masalah? Kok muka kamu pucat gitu?" tanya Gery yang peka dengan perubahan wajah Marisa.


"Antar aku yuk, Ger" kata Marisa.


"Kemana?"


Marisa memperlihatkan pesan di HP nya yang baru dia terima barusan.


Gery melenggak kaget dan menatap Marisa. "Ini pesan dari siapa?" tanyanya.


"Aku juga gak tahu" Marisa angkat bahunya.


"Ya udah, ayo aku antar kesana. Jangan kesana sendirian! Aku takutnya ini jebakan! Indra kan punya musuh bisnis dimana-mana!"

__ADS_1


"Makasih ya, Ger"


"Santai aja kali, Mar!" Gery segera mengajak Marisa untuk naik ke atas motornya dan berangkat menuju alamat yang tertera di pesan tadi. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di alamat yang dituju.


Marisa segera naik lift menuju unit apartemen yang ada di pesan yang diterimanya, unit no 138. Tepat saat Marisa bersama Gery sampai di depan pintu unit apartemen itu, saat itulah Indra keluar dari dalam unit apartemen tersebut dengan wajah sedikit pucat dan nafas terengah-engah.


Mata Indra mendelik saat melihat Marisa dan Gery ada di hadapannya! Sebaliknya Marisa juga tampak kaget saat melihat Indra keluar dari dalam apartemen itu!


"Marisa" desis Indra.


"Ndra" ucap Marisa.


"Kamu ada keperluan apa disini?" tanya Indra.


"Aku yang harusnya bertanya! Kamu ada keperluan apa didalam sana?!" Marisa balik bertanya.


"Saya..." belum sempat Indra melanjutkan kata-katanya, pintu apartemen terbuka dan tampaklah tiga wanita cantik dan seksi di baliknya!


"Pak Indra! Kenapa pergi cepat-cepat?!" kata salah satu dari wanita itu.


"Gak usah buru-buru dong Pak, kan Bapak belum ada istri!" kata wanita yang kedua.


Marisa merasa hatinya berdarah melihat apa yang ada di hadapannya! Tunangannya yang tercinta, Indra Perdana, keluar dari unit sebuah apartemen yang berisi tiga wanita cantik dan seksi! Mata Marisa basah dan dadanya terasa sesak.


"Apa maksudnya ini, Ndra?!" tanya Marisa dingin.


"Indra memukul dahinya sendiri! "Gila!" rutuknya kesal bukan main!


"Kamu siapa?!" tanya salah seorang dari wanita itu yang baru menyadari kehadiran Marisa di depan pintu apartemen.


"Saya Marisa, saya adalah tunangan dari Indra Perdana" jawab Marisa tegas.


"UPS!" ketiga wanita cantik itu tampak kaget dan saling pandang.


"Maaf, Mbak. Kami bertiga cuma menjalankan tugas" kata salah seorangnya.


"Tugas?! Tugas apaan?! Tugas menyebarkan virus HIV?! Tugas kotor?! Dasar wanita ******!" bentak Gery yang dari tadi diam saja.


"Enak aja situ ngomong! Kita ini wanita bersih dan selalu pakai pengaman!" kata salah seorang dari mereka.

__ADS_1


"Alah! Tetap aja! Dosa ya dosa! Dasar perempuan murahan! Gak kepikiran apa kalau kena penyakit kotor?! Apalagi main bertiga kayak gitu! Nularin penyakit ke pemakai, si pemakai nularin lagi ke istri sah nya, si istri sah berpotensi nularin ke anak-anak nya! Akhirnya yang gak punya dosa juga jadi sakit! Brengsek! Sekarang juga kalian masuk kedalam apartemen itu dan jangan keluar lagi! Atau aku hajar kalian satu persatu! Jangan kalian kira aku gak akan tega mukul wanita kayak kalian!" Gery marah-marah seraya maju dan mengepalkan tinjunya.


Ketiga wanita cantik itu langsung masuk kedalam apartemen dengan ketakutan!


Tinggalah kini Marisa, Gery dan Indra di depan pintu. Suasana semakin tidak enak.


"Ya Allah... Kuatkan hatiku..." batin Marisa.


"Marisa, saya bisa menjelaskan semuanya" kata Indra seraya mendekati Marisa dan mencoba memegang lengan Marisa.


Marisa langsung menyentakan tangan Indra saat menyentuh lengannya. "Jangan sentuh saya!" desis Marisa.


"Tapi, Mar! Kamu harus mendengarkan saya!" kata Indra.


"Saya tidak mau dengar apa-apa lagi!" sergah Marisa dengan air mata mulai mengalir membasahi pipinya.


"Kamu jangan keras kepala! Saya ini tunangan kamu!" Indra malah membentak Marisa!


"Cukup, Pak Indra! Jangan kasar sama perempuan!" bentak Gery dan segera berdiri di antara Marisa dan Indra.


"Mau apa kamu?! Jangan ikut campur! Kamu bukan siapa-siapa!" bentak Indra!


"Oh ya?! Saya ini Gery! Saya sahabat Marisa! Kamu yang bukan siapa-siapa! Kamu cuma calon suami Marisa! Itu juga kalau jadi!" Gery balas membentak Indra. Sekarang Gery sudah bukan karyawan PKL di perusahaan Indra lagi! Gery tidak takut lagi kepada Indra!


"Oh... Jadi sekarang sudah kurang ajar ya kamu!" Indra melotot kepada Gery!


"Maju sini kalau berani! Jadi pria cuma bisa nyakitin hati wanita!" Gery balas melotot kepada Indra!


"Sudah, Ger! Jangan bikin masalah disini! Kita pergi saja dari sini! Kita sudah gak ada kepentingan apapun disini!" kata Marisa seraya menarik lengan Gery untuk menjauhi Indra!


"Tapi, Mar" Gery merasa sudah kepalang tanggung untuk berduel dengan Indra!


"Cukup, Ger! Aku gak mau ribut-ribut disini!" kata Marisa memelas.


Melihat bagaimana Marisa yang sudah bersimbah air mata, Gery akhirnya mundur beberapa langkah dari hadapan Indra dan mengikuti langkah Marisa yang segera bergegas meninggalkan tempat itu untuk menuju lift.


Indra segera maju untuk menahan kepergian Marisa. Di cekalnya lengan Marisa sebelum memasuki lift. "Marisa, tunggu dulu... Kamu tidak percaya pada saya?! Saya tidak ada apa-apa dengan tiga wanita itu! Saya mohon dengar dulu penjelasan saya..." kata Indra memelas.


Marisa sekali lagi menyentakan tangan Indra yang mencekal lengannya. "Saya tidak tahu apakah saya masih bisa percaya lagi kepada kamu atau tidak, tapi untuk saat ini saya mohon... Izinkan saya pergi... Saya tidak sanggup lagi menahan perasaan saya yang sakit..." ratap Marisa.

__ADS_1


__ADS_2