
Melati perlahan berusaha untuk turun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Cukup lama dia berada disana hingga akhirnya Melati selesai dan keluar dari kamar mandi. Melati tidak segera naik kembali ke tempat tidur melainkan mengambil tas nya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam sana.
Kalau tadi sebelum bercinta dengan Indra, Melati mengambil satu kapsul obat perangsang, kini Melati mengeluarkan sebuah botol kecil terbuat dari kaca dan terlihat berwarna merah darah. Ternyata botol tersebut berisikan darah palsu yang Melati beli secara online. Melati sengaja membeli darah palsu itu untuk mengelabuhi Indra.
Melati membuka tutup botol tersebut dan menuangkan isinya ke atas tempat tidur hingga membuat banyak noda di seprei persis seperti ceceran darah asli. Kemudian Melati segera membuang botol bekas tersebut kedalam tempat sampah.
"Beres! Akhirnya aku berhasil mengelabuhi Indra! Dasar CEO bodoh! Pengusaha muda sukses tapi otak di dengkul! Nafsu saja di gedein!" batin Melati sambil tersenyum puas.
Melati naik ke atas ranjang dan menutupi tubuhnya dan juga tubuh telanjang Indra dengan selimut dan mengganti lampu ruangan dengan lampu yang redup. Di peluknya tubuh kekar Indra dan menyusupkan wajahnya di dada bidang Sang CEO.
"Kalau besok Indra bangun, dia pasti akan melihat banyak ceceran darah di seprei dan menganggap bahwa itu adalah darah keperawanan ku! Siasat ku berhasil! Dengan memberikan obat perangsang sebelum bercinta, pasti dia tidak memperhatikan apakah aku masih perawan atau tidak! Dengan cara ini aku bisa membuat Indra merasa berhutang karena merasa telah merenggut kegadisan ku!" batin Melati puas! Akhirnya dia bisa mendapatkan apa yang selama ini sudah di rencanakan nya!
Tangan Melati menyusup ke bawah dan menggenggam senjata Indra yang sudah tertidur dan mengecil. "Luar biasa! Dalam keadaan tidur begini saja ukurannya masih sangat besar! Apa rahasia yang di miliki Indra hingga memiliki ukuran senjata sebesar ini?!" Melati merasa kagum sekali dengan ukuran benda yang saat itu sedang di genggam nya.
"Kalau sudah begini, bagaimana aku bisa melepaskan Indra? Aku bisa ketagihan dengan permainan ranjangnya! Sial! Aku begitu menikmati persetubuhan kami! Aku tidak akan bisa melupakan bagaimana dahsyatnya kekuatan seorang Indra Perdana! Tapi aku tahu pasti kalau Indra hanya mencintai Marisa! Dia tidak mungkin akan menikahi aku!"
Perlahan Melati mulai tertidur dalam dekapan Indra dan dengan keadaan sedang menggenggam erat senjata Indra...
Hingga akhirnya saat pagi menjelang dan keadaan udara sangat dingin karena hari masih gelap, Melati merasakan bagaimana bagian bawah tubuhnya terasa sangat nikmat akibat dari perbuatan Indra yang sedang menyusupkan wajahnya dibawah sana.
"Ah... Pak Indra...! Masih gelap, Pak... Milik saya masih sakit..." rengek Melati tetapi semakin melebarkan kedua pahanya sambil tangannya meremas rambut Indra.
Tidak ada jawaban dari Indra melainkan suara-suara berdecak dari bagian bawah tubuh Melati yang semakin membanjir dan membengkak akibat rangsangan Indra.
"Arh... Argh... Nikmat, Pak Indra...!"
Melati tidak bisa menolak saat akhirnya Indra perlahan naik keatas tubuhnya dan mulai melesakan senjatanya yang sudah tegang sempurna kedalam tubuhnya.
__ADS_1
Melati hanya bisa memeluk tubuh Indra erat-erat dengan gigi bergemeletuk dan tubuh menggigil karena tidak tahan dengan rasa nikmat yang luar biasa.
Semakin dalam... Semakin dalam dan akhirnya sampai di dasar kewanitaan Melati! Begitu sesak dan menghentak!
"Ugh...! Nikmat, Melati!" desah Indra.
"Bapak kuat banget, Pak... Milik saya masih sakit..." rintih Melati.
"Sakit tapi nikmat kan, Sayang...?"
"Iya... Pak... Nikmat..."
Indra mulai bergerak naik turun perlahan karena merasa tidak tega untuk menyakiti Melati hingga membuat wanita itu langsung merintih-rintih penuh kenikmatan. "Ah...! Nikmat, Pak Indra...! Terus Pak... Terus... Oh... Pak Indra Perdana!!!"
"Kenapa, Melati Sayang?!" desak Indra seraya meremas keras buah dada Melati dan mempercepat gerakan pinggulnya turun naik!
"Nikmat... Pak... Punya Bapak... Nikmat sekali rasanya didalam punya saya...!"
*****
Sementara itu di kediaman keluarga Perdana, Marisa semalaman tidak bisa tidur karena Baby Syailendra sangat rewel! Bayi berusia delapan bulan itu tidak mau tidur walaupun Marisa sudah menyusui dan menimang-nimang nya.
Baby Syailendra menangis dan terus menangis tanpa henti. Hingga akhirnya Marisa terpaksa menelepon Lilis agar datang ke kamarnya. Tak lama kemudian Lilis pun datang ke kamar Marisa.
"Ada apa, Bu?" tanya Lilis yang merasa kaget karena mendapati bagaimana Marisa sedang kerepotan mengurus Baby Syailendra yang terus menangis. Tidak biasanya Marisa memanggil Lilis karena Marisa biasa mengurus Baby Syailendra bersama Indra jika malam hari.
"Baby Syailendra rewel banget, Lis! Saya bingung! Segala cara sudah saya lakukan tapi dia terus menangis seolah ada rasa sakit yang dia rasakan!" kata Marisa panik. Matanya sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
"Ya Allah, sini saya gendong Baby Syailendra-nya, Bu" Lilis menggendong Baby Syailendra dan menimang-nimang nya tapi bayi itu tetap rewel. Malahan tangisnya semakin keras!
"Bagaimana ini, Lis?" tanya Marisa sedih.
"Pak Indra gak ada, Bu?" Lilis balik menanyakan Indra.
"Gak ada, dia lagi ada metting diluar kota"
"Mungkin Baby Syailendra kangen sama Papa nya, Bu. Gak biasanya kan Bapak tidak pulang semenjak kelahiran anaknya"
"Iya, mungkin ya... Coba saya video call Bapak. Mungkin kalau video call sama Papa nya, Baby Syailendra bisa tenang"
Marisa coba menelepon Indra tapi tidak aktif. Indra memang sengaja mematikan daya HP nya agar malam pertama nya dengan Melati tidak terganggu.
"Gak aktif, Lis" keluh Marisa.
Akhirnya menjelang shubuh, Marisa merasakan bagaimana tubuh Baby Syailendra menjadi demam. Marisa langsung panik karena Baby Syailendra tidak pernah menderita demam tinggi seperti itu! Saat itu keadaan Baby Syailendra sudah lemas karena terlalu lama menangis.
"Lis!Baby Syailendra panas!" seru Marisa panik!
"Iya, Bu! Tinggi sekali!" Lilis segera mengecek suhu tubuh Baby Syailendra dan terperanjat kaget karena mendapati bahwa suhunya sudah mencapai 39 derajat Celcius! "Panasnya tinggi banget, Bu! 39 derajat Celcius!"
"Ya Allah! Kita harus segera membawa Baby Syailendra ke dokter, Lis!"
"Iya, Bu! Saya akan siapkan keperluan Baby Syailendra sekarang!"
"Saya akan menelepon Pak Maman untuk menyiapkan mobil!" Marisa segera menelepon Pak Maman yang adalah supir pribadi di keluarga Perdana. "Pak Maman! Tolong siapkan mobil! Saya mau ke dokter! Baby Syailendra panas!"
__ADS_1
Marisa pun membawa Baby Syailendra ke dokter bersama Lilis dan Pak Maman pada pagi yang masih gelap itu. Di dalam perjalanan Marisa masih berusaha untuk menghubungi Indra tapi HP suaminya itu masih belum aktif. Tentu saja karena saat itu Indra sedang sibuk memburu kenikmatan tubuh Melati.
"Aneh! Kenapa HP Indra gak aktif? Gak biasanya dia mematikan HP nya kecuali jika sedang tidur bersamaku!" batin Marisa sedih dan merasa kesal karena dalam keadaan darurat seperti itu, Indra malah tidak bisa di hubungi!