My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 198 : Jadi Nakal


__ADS_3

"Saya minta Anda meresepkan vitamin dan kalsium khusus ibu hamil yang terbaik juga rekomendasi susu hamil yang paling bagus untuk istri saya. Selama masa kehamilan sampai proses persalinannya saya akan percayakan sepenuhnya kepada Anda" kata Indra pada dokter spesialis kandungan yang memeriksa Marisa. Namanya dokter Febri.


"Baik, Pak Indra. Saya akan memberikan pelayanan yang terbaik untuk Anda dan istri Anda" kata dokter Febriani.


"Terima kasih, dokter"


"Sama-sama, Pak Indra. Sekarang apakah masih ada yang ingin Anda tanyakan tentang masalah kehamilan Ibu Marisa?"


"Ada, dokter. Tapi maaf sebelumnya" Indra agak ragu-ragu untuk mengatakan sesuatu.


"Ada apa, Pak Indra?"


"Tentang masalah hubungan intim dengan istri saya, apakah saya masih boleh melakukannya?"


"Dra...!" Marisa melirik Indra seraya memelototinya.


"Lho, kenapa? Saya kan ingin tahu sejelas-jelasnya" kata Indra.


Dokter Febriani tersenyum. "Tidak apa-apa, Bu Marisa. Ada baiknya untuk bertanya kepada ahlinya jika kita ingin mengetahui lebih jelas" katanya.


"Jadi bagaimana, dokter?" tanya Indra.


"Hubungan intim selama masa kehamilan boleh-boleh saja untuk dilakukan selama itu tidak membuat Bu Marisa kelelahan. Misalnya dengan durasi yang tidak terlalu lama"


"Kalau masalah jadwalnya bagaimana? Apakah saya masih bisa melakukannya dengan rutin? Masalahnya saya dan istri saya baru tiga bulan menikah dan kami biasa melakukannya hampir setiap hari"


Marisa langsung memerah saat mendengar perkataan Indra.


Dokter Febriani tersenyum. "Selama hal itu tidak menyakiti dan membuat Bu Marisa kelelahan, hubungan intim bisa dilakukan dengan rutin"


"Masalah posisi berhubungan intim yang aman, bahagianya dokter? Posisi apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak boleh dilakukan?" Indra masih penasaran dan kembali mengajukan pertanyaan.


"Ya Allah..." keluh Marisa pelan. "Kan sekarang ada Google. Apakah tidak lebih baik kalau coba browsing sendiri?!" batin Marisa.


"Posisi yang boleh untuk berhubungan intim selama masa kehamilan adalah posisi wanita di atas, posisi menyamping, dan bisa juga dengan posisi wanita berbaring sementara pria nya duduk. Sementara untuk posisi yang tidak boleh, sebaiknya hindari posisi yang akan menekan bagian perut wanita. Tidak boleh terlalu kencang, tidak boleh terlalu kasar, dan juga jangan terlalu dalam" tutur dokter Febriani.


"Oh... Jadi masih aman ya dokter" kata Indra lega.


"Tentu saja, Pak. Yang penting tidak terjadi keluhan setelah selesai melakukan hubungan intim itu"

__ADS_1


"Makasih, dokter"


"Sama-sama, Pak. Apakah ada sesuatu yang masih ingin di tanyakan?"


"Untuk saat ini cukup, dokter"


Indra pun menebus vitamin dan kalsium untuk Marisa setelah itu mereka ke sebuah supermarket untuk membeli susu hamil.


"Dra, aku kok tiba-tiba pengen beli baju ya?" kata Marisa saat Indra selesai membayar susu hamil di kasir.


"Tumben pengen belanja baju. Biasanya harus di paksa" kata Indra.


"Gak tahu, kayaknya aku pengen daster dan baju-baju yang nyaman buat aku pakai sehari-hari dan untuk tidur"


"Ya sudah, kamu borong saja semua yang kamu butuhkan" Indra membawa Marisa ke bagian fashion dan membiarkan Marisa memilih semua baju yang di inginkan nya.


"Ada baiknya kamu pakai baju-baju longgar supaya adem. Kasihan anak saya kalau kegerahan didalam perut kamu" kata Indra sambil bantu memilihkan daster-daster untuk Marisa.


" Makasih ya, Papa" kata Marisa seraya tersenyum manis dan mengerlingkan mata nya.


"Mungkin ini juga bawaan kehamilan. Kamu yang tidak suka belanja tiba-tiba saja jadi ingin belanja. Mungkin kamu ngidam" kata Indra sambil membelai perut Marisa.


"Dia kan anak seorang CEO yang kaya raya dan hebat! Ngidam nya juga pasti tidak sembarangan!"


"Ada-ada saja" Marisa geleng-geleng kepala.


"Setelah ini saya akan ke kantor. Kamu mau ikut atau saya antarkan pulang dulu?"


"Aku ikut ke kantor..."


"Gak kecapean?"


"Enggak, aku masih kuat kerja dan aku juga gak mau jauh dari suami aku!"


"Dasar manja!" Indra mencubit pipi Marisa dengan gemas.


Begitulah kehidupan rumah tangga Marisa dan Indra yang penuh dengan kebahagiaan. Semenjak mengetahui kehamilan Marisa, Indra menjadi semakin memanjakan dan membanjiri Marisa dengan perhatian. Indra juga sangat over protektif terhadap Marisa.


Indra memperlakukan Marisa dengan sangat lembut termasuk saat mereka berdua melakukan hubungan badan. Indra melakukannya dengan sangat hati-hati dan lembut hingga kadang-kadang Marisa yang jadi gemas sendiri karena menginginkan sisi kasar seorang Indra Perdana. Justru saat hamil muda begini, gairah Marisa yang sering tidak tertahankan.

__ADS_1


Seperti saat malam itu, Marisa sampai merengek-rengek meminta agar Indra menekankan senjatanya lebih dalam lagi. Dalam posisi Marisa berbaring dan Indra duduk di hadapannya.


"Dra... Tekan lebih dalam... Please... Please..." rengek Marisa.


"Ini sudah dalam, Marisa" geram Indra gemas karena sebenarnya dia juga ingin memasuki tubuh Marisa sedalam-dalamnya.


"Sedikit lagi, Dra... Please... Tekan lagi! Abisin... Abisin...!"


"Kamu jangan membuat saya lupa diri, Marisa!"


"Tapi aku mau lebih dalam... Aku gak tahan, Dra... Argh...! Gatel...!"


Mendengar kata-kata Marisa yang membuat Indra akhirnya tidak sanggup menahan diri lagi, di renggangkan nya kedua kaki Marisa lebar-lebar dan di habiskan nya seluruh senjata miliknya hingga habis dan menyentuh bagian terdalam di tubuh Marisa.


"Awh...!!!" Marisa memekik histeris dengan mata membeliak saat merasakan apa yang sedari tadi dia inginkan akhirnya didapatkan.


"Ini yang kamu inginkan, Sayang!" geram Indra dan mulai memompa tubuh Marisa dengan gerakan cepat dan memutar.


"Argh...!!! Enak, Dra... Ah... Ah... Enak banget... Ouh... Nikmat nya...!!!" Marisa tidak sanggup menahan kenikmatan hingga giginya bergemeletukan dan sekujur tubuhnya menggigil!


"Kamu jadi nakal, Marisa! Kamu membuat saya tidak sanggup mengendalikan diri!" Indra terus menggempur Marisa hingga akhirnya istrinya itu mengeluarkan pekikan panjang di sertai sampainya ke puncak kenikmatan.


Marisa terkulai lemah dengan nafas terengah-engah. Tapi Indra belum selesai.


"Saya belum, Marisa" bisik Indra.


"Jangan lama-lama, Dra... Aku udah lemes..."


"Tahan Sayang!" Indra yang semenjak Marisa hamil tidak pernah lagi berlama-lama dalam berhubungan badan kini dengan cepat menggerakkan pinggulnya maju mundur untuk mengaduk-aduk isi bagian bawah tubuh Marisa.


Marisa merasakan bagian bawah tubuhnya seperti di bor sehingga membuat nya menjerit histeris dan memohon ampun kepada Indra.


"Aaawww.....!!!!! Udah, Dra... Ampun...! Ouhg...! Ampun, Dra... Pelan-pelan... Ngilu... Gak kuat..."


"Tadi kamu yang bilang gatal?! Hah!" bentak Indra gemas sambil terus mengoyak-ngoyak tubuh Marisa!


"Ampun, Dra... Gak lagi-lagi...! Udah... Udah..." rintih Marisa dengan wajah menghiba.


"Sebentar lagi, Sayang!" dan Indra pun sampai di puncak kenikmatannya dan langsung membanjiri bagian terdalam di bawah tubuh Marisa dengan derasnya.

__ADS_1


"Ah...! Ah...! Ah..." Marisa mengerang nikmat saat merasakan derasnya semburan Indra...


__ADS_2