My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 236 : Sang Penolong


__ADS_3

Disaat Indra sedang memburu kenikmatan tubuh Melati malam itu, sebaliknya Marisa justru sedang sibuk dengan Baby Syailendra yang terus menangis. Anak itu seolah merasakan kembali rasa sakit sehingga membuat tubuhnya kembali demam.


"Ya Allah... Kenapa Baby Syailendra demam lagi! Mana sudah larut malam!" marisa menimang-nimang anaknya dengan hati yang sedih dan tubuh yang terasa sangat lelah karena tidak beristirahat sedari malam kemarin.


"Ibu, istirahat saja. Biar saya yang gendong Baby Syailendra" kata Lilis yang ikut berjaga di rumah sakit.


"Mana bisa saya tidur kalau keadaan anak saya demam tinggi seperti ini, Lis" kata Marisa.


"Kemarin malam juga seperti ini, Bu. Menurut saya Baby Syailendra tidak mau di tinggal pergi malam hari sama Pak Indra. Apakah Ibu sudah bisa menghubungi Pak Indra?"


"Sudah, Lis. Tapi Bapak juga sedang tidak enak hati di Surabaya. Jadi saya minta Bapak besok pagi saja pulangnya. Saya kira malam ini Baby Syailendra akan anteng dan tidak naik lagi demam nya"


"Padahal suruh Bapak pulang saja, Bu. Saya tidak pernah melihat Baby Syailendra seperti ini. Mungkin ada ikatan batin sama Papa nya. Mungkin Baby Syailendra tidak mau di tinggal"


"Iya ya..."


"Oek... Oek... Oek...!" Baby Syailendra terus menangis semakin kencang. Marisa sudah berusaha menggendong, mengajak bicara dan menyusuinya tapi anak itu tetap menangis bahkan semakin histeris!


"Bagaimana ini, ya Allah..." Marisa hampir putus asa. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul dua dini hari.


"Apa saya panggilkan perawat, Bu?" kata Lilis yang juga ikutan panik dan sedih.


"Mungkin, Lis. Tapi apakah tidak menggangu kalau kita panggil perawat malam-malam begini? Masalah anak menangis saja saya tidak bisa menangani... Ibu macam apa saya ini..." Marisa mulai menangis.


Lilis jadi ikut menangis. "Ibu jangan nangis, Bu..."


"Sayang, jangan nangis terus... Kamu mau apa? Apa yang harus Mama lakukan untuk meredakan tangisan kamu..." Marisa menciumi wajah anaknya "Apakah kamu kangen sama Papa?"


"Apa kita telepon saja Pak Indra, Bu? Saya khawatir..." kata Lilis yang juga sudah bersimbah air mata.


"Ya Allah... Berilah hamba pertolongan... Tolong datangkan seorang penolong untuk meredakan kesakitan anak hamba yang masih kecil ini..." ratap Marisa...


Dan pertolongan Allah SWT untuk Marisa dan anaknya pun segera datang. Allah SWT tidak akan membiarkan seorang hamba-nya dengan cobaan yang berat dan tidak mampu di pikul lagi...

__ADS_1


Saat itu juga seolah menjadi jawaban atas doa Marisa, pintu ruangan rawat inap Baby Syailendra terbuka dan masuklah seorang pria tampan yang bukan lain adalah Andro! Andro yang segera pulang ke Indonesia begitu mendengar kabar bahwa Baby Syailendra tengah terbaring sakit.


"Assalamu'alaikum" sapa Andro.


"Wa'alaikum salam!" seru Marisa dan Lilis bersamaan dengan hati yang sangat lega seolah mendapatkan pertolongan dari langit!


Andro segera melepaskan jaketnya dan menghampiri Marisa untuk kemudian mengulurkan kedua tangannya. "Sini! Berikan Baby Syailendra pada saya!"


"Tapi kamu kan baru sampai" kata Marisa.


"Saya sudah mencuci tangan. Kamu tidak usah khawatir kalau saya membawa virus dari pesawat"


"Bukannya begitu! Aku takut kamu lelah"


"Tidak, saya tidak lelah! Sekarang berikan Baby Syailendra kepada saya!"


Marisa menyerahkan Baby Syailendra pada Andro yang segera menggendong anak itu dengan erat dan menciumi wajahnya. "Cup cup cup, Sayang. Anak Om yang tampan. Jangan menangis terus. Ini Om pulang untuk kamu, nak..." kata Andro sambil terus mengusap-usap punggung Baby Syailendra yang kini memeluk Andro dengan erat dan menyandarkan kepalanya di bahu Andro. Begitu nyaman kelihatannya sehingga perlahan tangisan Baby Syailendra mulai berhenti menjadi isakan kecil saja.


"Masya Allah..." seru Marisa lega sekali melihat anaknya kini sudah berhenti menangis dan tampak tenang dalam pelukan Andro.


"Iya, Lis! Alhamdulillah ya Allah...!" Marisa tidak sanggup menahan rasa harunya sehingga memeluk Lilis dan menangis di bahunya. Begitu derasnya tangisan Marisa seolah-olah tanggul air matanya jebol karena tidak sanggup menahan rasa harunya.


Lilis balas memeluk Marisa dan berbisik. "Jangan nangis, Bu. Ibu gak usah khawatir lagi! Ada Pak Andro disini! Sang penolong kita!"


"Aku gak kuat, Lis...! Hks hks hks! Aku udah capek..."


"Ibu yang sabar, Bu..."


"St...!" desis Andro "Hentikan tangisan kalian berdua! Ini Baby Syailendra sudah mau tidur"


Marisa dan Lilis kompak langsung menghentikan tangisan mereka dan melepaskan pelukan masing-masing. Saat itulah mata Marisa bertemu dengan mata Andro dan Marisa melihat bagaimana adik dari suaminya itu tampak tersenyum lebar dengan Baby Syailendra yang sudah terlelap dalam pelukannya.


"Jangan berisk! Kamu mau Baby Syailendra bangun dan menangis lagi?" kata Andro dengan suara pelan.

__ADS_1


...Marisa menghampiri Andro dan menatap wajah Baby Syailendra yang tampak begitu nyaman dalam dekapan nya....


"Masya Allah... Aku gak tahu harus berkata apa lagi, Ndro! Baby Syailendra sedari jam sepuluh malam tadi terus menangis! Sama seperti kemarin malam! Dia terus menerus menangis dan akhirnya demam tinggi..." kata Marisa.


"Mungkin dia kangen sama Om nya" kata Andro.


"Gak tahu, Ndro. Cuma aku pikir sepertinya Baby Syailendra ingat sama Papa nya. Gak biasanya dia seperti ini. Selama ini kan Indra selalu ada di sisinya setiap malam"


"Kamu sudah bisa menghubungi Indra?"


"Sudah. Tapi dia juga sedang tidak enak badan di Surabaya. Besok pagi dia akan segera pulang"


"Oh ya?"


Lilis yang merasa kagok terus berada di ruangan perawatan itu, akhirnya memohon diri pada Marisa untuk keluar sebentar. "Bu, saya di depan dulu ya?" kata Lilis.


"Kamu bobo saja, Lis! Mumpung masih ada waktu. Sudah jam setengah tiga" kata Marisa.


"Iya, Lis! Sebaiknya kamu tidur dulu!" kata Andro.


"Baik, Bu" Lilis akhirnya memutuskan untuk tidur di sudut ruangan dengan menggunakan kasur lantai kecil.


Marisa menatap Andro. "Makasih banyak, Ndro. Kamu sudah seperti sang penolong untuk aku dan Baby Syailendra"


"Sama-sama, Marisa. Ini kewajiban saya juga kan?" kata Andro.


"Kamu sampai pulang dari Italia secara mendadak"


"Ya gak apa-apa, saya juga kan sudah lama tidak pulang"


"Makasih sekali lagi, Ndro"


"Iya, Marisa. Tapi bagaimana dengan Indra? Apakah benar dia sedang tidak enak badan? Kenapa HP nya tidak aktif terus? Saya bukannya mau mempengaruhi kamu, Marisa. Tapi sebaiknya kamu juga jangan terlalu percaya kepada Indra dan Melati!"

__ADS_1


Marisa diam. Sebenarnya dalam hatinya pun sudah ada perasaan aneh seolah merasakan ada sesuatu yang beda dari Indra semenjak kepergiannya bersama Melati ke Surabaya.


"Marisa, kamu adalah istri Indra. Kamu yang paling mengenal Indra. Pakai felling kamu! Apakah kamu tidak merasa ada sinyal berbahaya dari kedekatan mereka?" kata Andro lagi.


__ADS_2