
Satu jam kemudian Indra sudah mendapatkan kabar kalau taksi online yang ditumpangi oleh Marisa ternyata telah menurunkan Marisa di terminal bus antarkota antarprovinsi. Indra pun segera memberi tahu Mama Renata tentang kabar yang di terimanya.
Mendengar itu, Mama Renata semakin marah besar! "Berani sekali Marisa membawa Syailendra naik bus kota?! Bagaimana jika cucu kesayangan Mama sampai jatuh sakit karena tidak pernah naik bus kota?! Awas saja kalau sampai terjadi sesuatu kepada Syailendra! Mama tidak akan pernah memaafkan Marisa!" geram Mama!
"Saya juga tidak menyangka kalau Marisa berani membawa Syailendra naik bus kota!" kata Indra yang juga merasa khawatir dengan Syailendra.
"Marisa mungkin saja masih ingat dengan bus kota karena dulu dia memang berasal dari kalangan bawah. Tapi Syailendra adalah keturunan keluarga kita yang terhormat!"
"Saya akan segera menyusul Marisa ke Bogor, Man. Marisa sudah pasti pergi kesana" kata Indra.
"Pergilah sekarang juga, Ndra. Mumpung belum terlalu sore"
"Iya Mam"
"Tapi Mama ingin bertanya satu ini kepada kamu, Ndra! Apakah kamu tidak ada masalah sebelumnya dengan Marisa?! Kalian kan baru saja merayakan ulang tahun Syailendra dan Anniversary pernikahan kalian yang kedua?!"
Indra menggeleng. "Tidak, Mam. Saya tidak ada masalah apapun dengan Marisa. Kamu baik-baik saja" Indra terpaksa berbohong kepada Mama agar tidak disalahkan atas kepergian Marisa.
"Kalau begitu benar dugaan Mama! Marisa pasti pergi bersama Andro! Buktinya Andro tidak hadir dalam acara ulang tahun Syailendra! Mungkin mereka sudah berjanji untuk melakukan pelarian secara bersama-sama!"
"Saya tidak bisa menyimpulkan hal itu, Mam. Saya harap Marisa ada di rumah orang tuanya"
"Ya sudah. Segera susul Marisa sekarang juga, Ndra"
"Doakan saya, Mam" Indra mencium tangan Mamanya.
"Iya, Sayang! Mama akan selalu mendoakan kamu! Kamu yang sabar ya dalam menghadapi istri seperti Marisa yang bisanya hanya membuat masalah!"
"Saya akan selalu bersabar untuk Marisa, Mam. Demi Syailendra!"
Indra pun segera melakukan perjalanan ke Bogor untuk menyusul Marisa. Dalam hatinya Indra merasa sangat bersalah. Indra tahu persis kalau Marisa sakit hati kepadanya.
"Marisa, Sayang... Maafkan saya... Saya khilaf... Saya tidak akan pernah mengkhianati kamu lagi. Saya mohon agar kamu mau kembali. Saya tidak bisa membayangkan kalau harus kehilangan kamu...
Sial! Ini semua gara-gara Melati si wanita kotor itu! Kalau saja dia tidak pernah menceritakan tentang perselingkuhan kami kepada Marisa! Padahal saya sudah memberikan dia uang dalam jumlah yang banyak, bahkan untuk operasi selaput dara! Harusnya dia bisa menjaga rahasia!"
*******
__ADS_1
Sementara itu Marisa sedang menerima telepon dari Lilis dengan menggunakan HP Gery karena Marisa sudah tidak lagi memakai HP nya setelah keluar dari rumah Indra.
Marisa merasa bersyukur karena sempat mengganti taksi online-nya di terminal untuk pergi ke rumah Gerry karena ternyata menurut Lilis, Indra sudah mencatat nomor plat taksi online-nya dengan berbekal informasi dari Pak Mukti.
"Berarti Pak Mukti sudah mencurigai saya sejak awal" kata Marisa lewat sambungan telepon dengan Lilis.
"Iya, Bu. Untungnya Ibu sudah ganti taksi online-nya. Sekarang bagaimana, Bu? Ibu menginap di rumah teman Ibu itu?"
"Iya, Lis. Malam ini saya menginap di rumah Gery yang punya HP ini"
"Syailendra anteng, Bu?"
"Alhamdulillah, Lis. Syailendra anteng. Cuma tadi menjelang Maghrib, dia menanyakan kamu"
"Ya Allah... Saya juga kangen banget sama Syailendra"
"Kalian akan segera berkumpul bersama kembali, insya Allah"
"Amin..."
"Saya akan segera menjemput kamu kalau saya sudah punya tempat tinggal tetap, Lis"
"Kamu tetap disana dan pantau keadaan"
"Iya Bu"
"Lalu sekarang bagaimana dengan Pak Indra?"
"Pak Indra sudah berangkat menyusul Ibu ke Bogor"
"Baiklah kalau begitu, kita sudahi dulu teleponnya ya? Setelah ini kamu harus segera menghapus riwayat telepon dengan saya, Lis!"
"Baik Bu!"
"Terima kasih atas bantuan kamu, Lis"
"Sama-sama, Bu. Ibu juga disana baik-baik ya? Jaga kesehatan dan jangan lupa makan!"
__ADS_1
"Iya, Lis. Sekali lagi terima kasih"
Marisa menutup teleponnya dan tepat saat itu Gery tiba di rumah bersama seseorang yang tidak lain adalah Henry Adiputra. Saat itu Marisa sedang duduk di kursi ruang tamu sambil memangku Syailendra yang baru saja tertidur.
"Assalamu'alaikum" kata Gery sambil memasuki rumah bersama Henry di belakangnya.
"Wa'alaikum salam" kata Marisa.
Henry menghampiri Marisa sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Apa kabar, Marisa? Lama kita tidak bertemu ya? Sejak pernikahan kamu dengan Pak" katanya.
Marisa menyambut tangan Henry dengan senyuman pahit di bibirnya. "Alhamdulillah"
Gery duduk di samping Marisa dan segera memulai pembicaraan. "Jadi begini, Mar. Aku sengaja mengajak Henry kesini untuk meminta bantuannya. Aku sudah menceritakan tentang masalah kamu yang ingin pergi jauh dari Jakarta agar Indra tidak bisa menemukan kamu"
Marisa hanya mengangguk.
"Jadi Henry siap untuk mengantarkan kamu ke Cirebon kapanpun kamu mau" kata Gery lagi.
Marisa menatap Henry, sekilas teringat lagi oleh Marisa tentang masa lalunya bersama Henry. Saat Marisa menumpang mobil Henry ketika berada di Sumedang karena Indra hendak memperkosa. Juga saat pertemuan mereka yang kedua disaat Marisa meninggalkan Indra di arena golf untuk pergi dengan Henry sehingga membuat Indra marah dan menghancurkan karir Henry yang sedang diatas.
Dan kali ini sepertinya Marisa harus menahan rasa malunya untuk kembali meminta bantuan kepada Henry.
"Kalau kamu mau membantu, aku akan sangat berterimakasih" kata Marisa.
"Bagaimana dengan Andro? Bukankah dia selama ini selalu ada untuk kamu? Kenapa kamu tidak minta bantuan Andro?"
"Andro sendiri sedang ada masalah dengan Indra sehingga saat ini aku juga tidak tahu Andro ada dimana"
"Dasar Indra Perdana si arogan! Saudara sendiri di musuhi! Maunya akur sama siapa sih?!" rutuk Gery.
"Aku akan membantu kamu Tapi kalau aku boleh bertanya, apakah tidak ada cara lain yang bisa ditempuh untuk memperbaiki hubungan kamu dengan Indra? Bagaimanapun juga kalian sudah memiliki seorang anak dan masih kecil" kata Henry.
Marisa menggeleng. "Aku sudah tidak bisa bersama Indra lagi! Kesalahan dan rasa sakit hati yang aku rasakan sudah terlalu dalam..."
"Ya sudah kalau begitu, kapan kamu mau aku antarkan ke Cirebon? Tempat dimana Indra tidak bisa menemukan kamu, mudah-mudahan"
"Besok pagi saja! Saat ini Indra sedang menyusulku ke Bogor, ke rumah orang tuaku. Saat dia dapati kalau aku tidak ada disana, dia pasti akan segera mencari Gery"
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Besok pagi aku akan menjemput kamu kesini!"
"Kalau masalah Indra, kamu tenang aja! Kalau dia kesini aku tidak akan mengatakan hal yang sebenarnya!" kata Gery.