
Marisa untuk sesaat terpana melihat bagaimana tampannya seseorang yang telah menopang tubuhnya agar tidak terjerembab ke tanah. Beberapa saat Marisa masih terdiam dalam pelukan sang penolongnya dengan matanya yang saling bertatapan dengan mata pria tersebut.
Sudah lama sekali rasanya Marisa tidak pernah terpesona dengan ketampanan seseorang setelah dia jatuh cinta pada Indra Perdana. Teringat pada Indra, Marisa sadar dan segera meluruskan tubuhnya untuk kemudian menjauh dari pelukan sang penolongnya.
"Maaf, saya tadi merangkul badan Neng. Habisnya takut jatuh ke tanah" kata sang penolongnya dengan senyum manis dan anggukan kepala yang sopan.
Marisa terpesona lagi.
"Tidak apa-apa, justru saya yang berterima kasih. Kalau akang tidak ada, saya pasti sudah terjerembab" kata Marisa.
"Jangan panggil akang, saya orang Jawa. Nama saya Aji. Panggil aja Mas Aji" kata sang penolong yang ternyata bernama Aji.
"Oh, maaf. Saya Marisa" kata Marisa.
"Orang baru ya?"
"Iya, baru kemarin saya pindahan"
"Jemurannya sudah lapuk ya?" Aji memeriksa jemuran kayu yang sudah patah itu sementara Marisa memunguti pakaiannya yang jadi kotor lagi.
"Iya"
"Saya akan bantu perbaiki"
"Eh! Gak usah! Gak apa! Nanti malah jadi merepotkan!"
"Ah tidak kok! Saya akan ambil paku dan palu nya dulu"
"Tuh repot kan!"
"Rumah saya itu, di sebelah kanan rumah ini, cuma terpisah kebun saja. Jadi tidak merepotkan" Aji menunjuk rumahnya yang ternyata ada di sebelah rumah Marisa.
"Oh. Jadi Mas tetangga saya?"
__ADS_1
"Iya, tunggu sebentar ya Neng" Aji meninggalkan Marisa untuk mengambil palu dan paku di rumahnya.
Marisa menatap langkah Aji dengan tatapan kagum. "Ganteng banget sih pria itu... Sopan dan ramah lagi! Ya Allah... Kok aku jadi seneng begini ya?! Astaghfirullah...! Aku ini apa-apaan sih! Kagum boleh tapi jangan berlebihan! Aku ini adalah seorang wanita yang sudah bersuami dan punya seorang anak!" batin Marisa.
Tak lama kemudian Aji sudah muncul kembali dan memperbaiki jemuran kayu Marisa yang patah. Herman juga segera keluar rumah saat melihat Aji memperbaiki jemuran itu.
"Wah jemuran nya rusak ya, Bu?" tanya Herman yang sedang menggendong Syailendra.
"Iya Her" jawab Marisa seraya mengambil Syailendra dari gendongan Herman.
"Tadi juga hampir menimpa Neng Marisa" kata Aji.
"Kalau begitu biar saya yang memperbaikinya, Pak Aji" kata Herman.
"Biar sama saya saja. Ini juga sudah hampir selesai"
"Makasih ya, Pak Aji. Saya memang belum sempat membuat jemuran baru untuk Bu Marisa"
Jemuran pun selesai di perbaiki. "Nah sudah selesai sekarang" kata Aji.
"Makasih ya Mas" kata Marisa.
"Iya sama-sama, Neng" Aji melirik Syailendra yang ada dalam gendongan Marisa. "Hai, Dede kecil! Kamu lucu sekali!" katanya sambil mengusap pipi Syailendra sehingga membuat anak itu tertawa.
"Ini anak saya, namanya Syailendra" kata Marisa.
"Oh, anak Neng Marisa. Saya kira adiknya" kata Aji.
"Bukan, ini anak saya"
"Ganteng sekali ya?"
"Makasih"
__ADS_1
"Ehem!!!" Herman tiba-tiba berdehem keras. "Maaf, Bu Marisa. Bagaimana kalau Bu Marisa saya antar saja ke kota untuk membeli jemuran stainless? Saya nanti akan menelepon Pak Henry untuk meminta izin padanya"
"Oh iya boleh, Her. Biar saya yang menelepon Henry. Kita bisa berangkat siang nanti setelah makan siang. Kebetulan saya juga ada beberapa bahan pokok yang ingin di beli di pasar. Jadi kamu dan Ina bisa mengantar saya" kata Marisa.
"Siap Bu!"
Marisa melirik Aji yang nampak sedang memperhatikannya dan wajah tampan pria itu tampak bersemu merah saat kedapatan sedang memperhatikan Marisa.
"Saya ke rumah dulu ya, Mas Aji" kata Marisa.
"Oh ya, Neng"
Marisa pun segera kembali kedalam rumahnya begitupun Aji juga memilih kembali ke rumahnya. Tinggal Herman sendiri dengan jalan pikirannya yang mencurigai kalau Aji memiliki pandangan istimewa pada Marisa.
"Aku bisa merasakan kalau Mas Aji memiliki perasaan istimewa kepada Bu Marisa. Hm... Ini tidak bisa dibiarkan! Aku harus memberitahu Pak Henry secepatnya! Aku yakin Pak Henry menolong Bu Marisa karena dia juga memiliki perasaan istimewa kepada wanita itu! Jangan sampai Pak Henry keduluan lagi untuk mendapatkan Bu Marisa! Dulu ada Pak Indra! Sekarang Mas Aji!" batin Herman yang rupanya sifat lamanya sebagai orang yang selalu ingin cari muka masih tertanam dalam dirinya.
Herman pun segera menelepon Henry untuk menceritahukan tentang kedekatan Marisa dengan Mas Aji. Dengan nada yang berapi-api, Herman menceritakan semuanya.
"Saya bisa melihat sendiri bagaimana Mas Aji mendekati Bu Marisa dengan sok aksi membetulkan jemuran kayu didepan rumah Bu Marisa yang tadi rusak! Anda harus hati-hati, Pak Henry! Bu Marisa itu cantik sekali dan Mas aji adalah seorang pria muda yang simpatik! Anda harus sering berkunjung kesini jika Anda tidak mau kehilangan Bu Marisa untuk yang kedua kalinya!"
Tapi diluar dugaan Herman, Henry justru menyikapinya dengan tenang. "Tidak apa-apa, Her. Kalau ada seseorang yang menyukai Marisa selama tinggal disana, itu adalah hal wajar karena Marisa adalah seorang wanita yang cantik dan baik hati. Saya sama sekali tidak keberatan"
Herman menjadi bingung. "Kenapa bisa begitu, Pak?! Bukankah Anda membantu Bu Marisa dengan sepenuh hati karena menaruh hati kepada Bu Marisa?"
"Saya memang pernah ingin mendekati Marisa, tapi itu dulu. Sekarang saya tidak berniat seperti itu. Marisa sudah saya anggap sebagai sahabat saya sendiri. Saya tidak akan mencoba untuk mendapatkannya lagi"
"Tapi Pak, sekarang kesempatan terbuka lebar untuk Anda!"
"Kalau Marisa ingin menerima cinta saya, sudah sejak dulu dia sudah menjadi istri saya, Her. Tapi nyatanya dia memilih Indra, bahkan dia meninggalkan Andro yang jauh lebih baik dari saya dan Indra! Jadi menurut saya sampai kapanpun perasaan cinta Marisa hanya untuk Indra!"
"Tapi masih ada kesempatan kedua kan, Pak!"
"Biarkan semua mengalir sesuai takdir Allah, Her. Yang jelas saya menolong Marisa karena saya kasihan kepadanya dan satu hal lagi, yang penting dendam saya kepada Indra sudah terbalas! Saya senang karena bisa menambah kesengsaraannya! Saya tahu persis kalau Indra sebenarnya sangat mencintai Marisa. Perselingkuhannya dengan Melati hanyalah sebuah kekhilafan dan kini saya sudah membuat Marisa pergi jauh dari kehidupannya! Dengan hal itu saya merasa puas bisa membuat Indra kehilangan seorang yang paling berharga dalam kehidupannya!"
__ADS_1