My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 115 : Aku Akan Pergi


__ADS_3

Marisa membawa Gery ke kamar perawatan Indra. Disana tampak Indra masih terbaring lemah dengan wajah yang penuh bekas luka dan kening di balut dengan perban.


"Ayo, Ger" kata Marisa sambil membawa Gery mendekat.


Dari jarak dekat barulah Gery melihat ternyata keadaan Indra sangat parah. Bibir dan sudut matanya biru, ada bengkak juga di beberapa bagian lainnya.


"Kena batunya juga akhirnya si CEO arogan!" batin Gery.


"Pak Indra, ini Gery sudah tiba" kata Marisa.


"Selamat pagi, Pak Indra" kata Gery.


"Hm, saya mau berangkat sekarang juga ke rumah sakit langganan keluarga saya. Kamu bisa tolong ambilkan kursi roda untuk saya?" kata Indra.


"Baik, Pak!" seru Gery dan segera membawakan sebuah kursi roda untuk Indra.


Untungnya tubuh Gery juga tinggi besar, maka tidak begitu sulit saat Gery memindahkan Indra dari ranjang perawatan ke dalam mobil di pelataran parkir. Selanjutnya Gery mengemudikan mobil Indra menuju sebuah rumah sakit besar di kawasan Jakarta Pusat.


Sesampainya disana, Indra segera memasuki ruang tindakan dan menjalani pemeriksaan menyeluruh. Sementara Marisa dan Gery menunggu diluar ruangan.


Sudah hampir dua jam dan Indra masih belum selesai menjalani pemeriksaan.


"Mar, aku jadi bingung melihat bagaimana hubungan kamu dengan Pak Indra" kata Gery.


"Jangankan kamu, aku juga bingung!" kata Marisa.


"Kamu kan udah resign dari Perdana Enterprise, tapi sekarang kamu ada disini untuk menemani dia berobat. Semalaman juga kamu yang menunggui dia di rumah sakit"


"Aku di minta tolong sama Mama nya"


"Lalu bagaimana dengan perasaan kamu? Aku merasa ada sesuatu antara kamu dengan Pak Indra! Waktu dulu kamu sakit, dia yang heboh! Sekarang saat dia yang sakit, kamu yang repot! Sebenarnya ada apakah di antara kalian berdua?"


"Gak ada apa-apa, Ger. Aku dan dia hanya secara kebetulan berada di tempat yang sama dalam satu waktu"


"Kebetulan apanya?! Justru kalian berdua yang saling memperhatikan dan saling mencari satu sama lain!"

__ADS_1


"Entahlah..."


"Aku minta kamu jujur sama aku, Marisa! Kita adalah sahabat dekat sehidup sekampus!"


"Tentang apa?"


"Kamu mencintai Pak Indra! Iya kan?! Kamu menaruh perasaan pada CEO arogan itu?!"


Marisa menghela nafas panjang dan kemudian mengangguk. Sama hal nya seperti pada Fero, tidak ada gunanya juga menyembunyikan kebenaran dari Gery.


"Ya, Ger. Aku mencintai Pak Indra" kata Marisa.


Gery melongo sesaat sebelum akhirnya berkomentar. "Sulit aku percaya! Aneh tapi nyata!"


"Aku juga kadang gak percaya kalau aku mencintai pria itu!"


"Pria yang selama ini membuat masa PKL kita menjadi tidak menyenangkan!"


"Iya, tapi aku gak bisa bohong lagi! Aku memang mencintainya! Bahkan selama beberapa hari tidak masuk kantor, aku selalu memikirkannya... Kamu pikir apa aku mau malam-malam mencari seseorang ke tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya?! Apalagi tempat seperti bar?! Itu semua tidak mungkin aku lakukan kalau aku tidak mencintai Indra Perdana!"


"Lalu bagaimana dengan Pak Andro?! Kalau dia pulang bagaimana?! Bukankah sepulang dia dari Turki, kalian akan bertunangan?!"


"Masya Allah, Marisa! Kamu selama ini menjalin kebersamaan dengan Pak Andro dan bersikap seolah-olah kamu juga mencintai dia!"


"Aku cuma menjadikan Pak Andro pelarian. Agar aku bisa segera melupakan Pak Indra! Tapi kenyataannya aku bukan lupa, yang ada aku malah semakin tidak bisa berpaling lagi! Dan rasa ini begitu kuat, Ger! Hingga menenggelamkan semua akal sehat ku!"


"Itu namanya kamu jahat sama Pak Andro! Kamu PHP! Kamu cuma memberi harapan palsu! Kamu meraih hatinya hanya untuk kemudian mencampakkan nya!"


Mata Marisa mulai basah. "Iya, aku tahu aku salah! Maka dari itu aku akan meminta maaf pada Pak Andro dan memutuskan hubungan dengannya. Aku tidak akan bertemu dengan dia lagi. Aku akan pergi selamanya dari kehidupannya"


"Mana bisa kamu pergi dari kehidupannya kalau kamu memilih Pak Indra! Yang ada kamu hanya akan terus-menerus menyakiti hati Pak Andro karena dia harus terus melihat kamu bersama Pak Indra!"


"Tidak, Ger! Aku juga akan pergi dari kehidupan Pak Indra"


"Jadi kamu tidak akan bersama Pak Indra setelah dia keluar dari rumah sakit nanti?"

__ADS_1


"Tidak, itu tidak mungkin! Aku bukan hanya akan menyakiti hati Pak Andro, tapi juga akan menyakiti hati Bu Sofie. Aku hanya akan menemani Pak Indra sampai di titik ini. Setelah itu aku akan pergi. Masa PKL kita sudah berakhir tepat pada hari ini. Senin depan kita akan kembali ke kampus. Kita akan kembali hidup sebagai mahasiswa biasa. Aku yakin, Ger. Aku akan bisa kembali seperti sedia kala disaat aku belum bertemu Pak Indra!"


"seperti sedia kala dimana kau bisa bercanda dan...


perlahan kau pun lupakan Indra,


mimpi buruk mu" Gery malah menyanyikan lagu lawas milik Sheila on 7, Dan.


"Kok jadi nyanyi?! Lagu nya jadul banget lagi! Zaman aku balita itu!" rutuk Marisa.


"Abis lagu zaman sekarang gak ada yang enak!"


"Tapi aku serius, Ger. Aku akan pergi dari semua ini. Aku sudah lelah... Aku rindu kita yang dulu... Sebagai mahasiswa biasa yang tidak terlibat dalam urusan Pak Indra Perdana yang rumit ini! Kita akan bisa fokus menyelesaikan masa kuliah kita yang tinggal tiga bulan lagi, jadi sarjana dan meniti karir bersama!"


"Dan bersama Fero lagi?!"


"Itu tidak termasuk!"


"Iya Marisa,. aku juga tidak setuju kalau kamu bersama Pak Indra! Dia itu terlalu arogan! Dia hanya akan baik pada kamu kalau ada maunya! Lihat saja sekarang, dia dengan mudahnya bisa meninggalkan Bu Sofie setelah dia melihat kamu! Kalau kamu sama Pak Andro juga aku gak setuju! Karena Pak Indra pasti akan tetap jadi duri dalam daging di kehidupan kamu dan Pak Andro!"


"Iya Ger. Aku juga paham itu"


"Akan banyak hati yang tersakiti"


Saat itulah pintu ruang tindakan terbuka dan tubuh Indra yang masih terbaring di atas ranjang perawatan dibawa keluar oleh dua orang perawat untuk di pindahkan ke ruang rawat inap.


"Bagaimana Pak Indra, dokter?" tanya Marisa kepada seorang dokter yang terakhir keluar dari ruangan tindakan.


"Kita bisa bicara berdua, Bu? Ini tentang kondisi Pak Indra" kata dokter itu.


"Bisa dokter" jawab Marisa.


"Mari ikuti saya"


Dan Marisa pun ikut ke ruangan dokter, meninggalkan Gery yang masih duduk di ruang tunggu.

__ADS_1


Gery hanya bisa memandangi Marisa dari belakang. Melihat bagaimana sahabat nya itu memasuki ruangan dokter.


"Aku gak yakin kalau kamu bisa pergi dari kehidupan Pak Indra, Mar" batin Gery.


__ADS_2