
Keesokan harinya Indra Perdana tidak ada di ruangan CEO saat Marisa sampai disana. Marisa tahu hari itu Indra ada jadwal fitnes. Setelah jam makan siang barulah sang CEO muda tiba dikantornya.
"Selamat siang, Pak Indra." sapa Marisa.
"Hm!" seperti biasa, hanya itu jawaban dari sang CEO Indra Perdana.
"Ada beberapa berkas yang harus Bapak tanda tangani." kata Marisa.
"Kamu tidak bisa sabar sebentar?! Saya baru saja tiba dikantor!" bentak Indra emosi.
Marisa cukup terkejut. "Maaf Pak, tapi saya tidak bilang Bapak harus tanda tangani berkas ini sekarang." ujar Marisa membela diri.
"Wanita yang suka berkelit! Dasar bermuka dua!" hardik Indra.
"Muka dua bagaimana maksud Bapak?!" tanya Marisa tak terima.
"Di depan adik saya, Andro, kamu sok manis! Sok baik! Sok cantik! Tapi di depan saya, kamu ini sangat menyebalkan! Pengganggu dan cerewet!" topik pembicaraan Indra jadi kemana-mana.
"Menyebalkan, pengganggu dan cerewet?! Bukankah sebaliknya?!" batin Marisa, namun tak mampu melontarkan pernyataannya itu.
"Kamu memanfaatkan kecantikan kamu untuk memikat hati adik saya yang masih polos?! Iya kan?!" nada suara Indra semakin tinggi.
Sementara Marisa tidak bisa berkata apa-apa karena kurang mengerti juga arah pembicaraan Indra. Memikat hati Andro yang masih polos?! Hai, Andro Perdana itu seorang pria mapan berusia 30 tahun! Hanya terpaut usia tiga tahun dari Indra Perdana!
"Saya belum pernah melihat adik saya bertelepon ria berjam-jam dengan seseorang seperti yang tadi malam dia lakukan! Dan saya yakin dia sedang menelepon kamu, kan?!" tekan Indra.
"Tadi malam memang Pak Andro memang menelepon saya." Marisa mengaku.
"Kamu memberikan nomor telepon kamu pada Andro?!"
"Iya, tapi Pak Andro yang memintanya, Pak."
"Siapa yang mau percaya pada betina licik bermuka dua seperti kamu?!"
"Masya Allah!" hampir saja kesabaran Marisa habis. Ia terus beristighfar dalam hati agar tidak terpancing emosi oleh satu CEO ini.
"Seperti kamu yang mempermainkan cinta Gery dan Fero! Begitu juga kamu mempermainkan saya dan Andro!"
__ADS_1
"Mempermainkan Bapak dan Pak Andro bagaimana?!"
"Kamu pertama berniat memikat saya, kan?! Sehingga saya hampir saja mencium kamu di tempat fitnes saat itu! Sekarang karena saya tidak terpikat pada kamu, kamu berusaha memikat adik saya! Saya tahu kamu butuh rekomendasi bagus dari perusahaan ini! Tapi maaf Nona Marisa Larasati, bukan seperti ini caranya!"
Mata Marisa mulai berkaca-kaca karena tidak sanggup mendengar kata-kata Indra yang penuh penudingan!
"Apa maksud Bapak?! Saya tidak pernah sekalipun menduakan Fero! Gery hanya sahabat dekat bagi saya! Dan saya juga tidak terima kalau Bapak bilang saya berusaha memikat Pak Andro! Pak Andro yang kemarin datang kesini! Pak Andro juga yang meminta nomer HP saya! Pak Andro yang mengajak saya makan siang! Dan Pak Andro juga yang menelepon saya tadi malam!" ujar Marisa penuh penjelasan.
"Saya tidak mau mendengarkan perkataan kamu! Saya cukup tahu kamu ini wanita seperti apa!"
"Wanita seperti apa! Wanita seperti apa saya?!"
"Sudahlah! Saya tidak mau membuang-buang waktu saya untuk berdebat dengan kamu! Sekarang saya ada tugas untuk kamu!"
"Tapi Pak-"
"Kamu mau menjalankan tugas dari saya atau tidak?!" Indra memandang Marisa dengan wajah tampannya yang menyebalkan!
Marisa menghela nafas berat. Tidak mau membuang-buang waktu untuk berdebat? Siapa yang memulai perdebatan ini lebih dulu?! Memangnya Marisa akan diam saja ketika Indra menudingnya dan menekannya terus-menerus?! Tapi ia harus sabar! Ia butuh rekomendasi yang baik! Disini ia yang harus mengalah.
"Tugas apa, Pak?" tanya Marisa.
"Benar, Pak."
"Nah, sekarang saya pinta kamu kesana dan belikan saya kepiting asam manis saus tiram! Kamu bilang saja ini pesanan dari Indra Perdana. Mereka sudah tahu racikan sesuai selera saya. Kamu bersedia?"
"Saya bersedia, Pak. Tapi kesana lumayan jauh, kan? Saya juga kemarin naik mobil Pak Andro."
"Kamu tidak boleh naik motor atau mobil! Kamu harus kesana jalan kaki!"
Marisa cukup kesal, namun tak ada niat untuk melawan dan berdebat. "Baik Pak, saya akan pergi kesana jalan kaki."
"Ya sudah! Pergi kamu sekarang! Pakai kartu kredit saya yang dulu kamu pegang waktu kamu membeli baju olahraga!"
"Baik Pak, permisi."
Indra tidak menjawab. Marisa tidak perduli. Pergi membeli makanan seafood lebih baik daripada harus terus berdebat dengan seorang Indra Perdana! Marisa keluar dari ruangan Indra dan menuju lantai dasar.
__ADS_1
Hari itu cuaca sangat panas. Marisa sebenarnya bisa saja naik ojek atau taksi ke restoran seafood langganan Indra, tapi Marisa yakin saat ini sang CEO menyebalkan itu pasti sedang mengawasi dari atas sana!
"Dia pasti lagi ngintip lewat jendela buat mastiin kalau aku jalan kaki! Dasar CEO sinting! Apa sih maunya?! Kayaknya nyari masalah terus sama aku!" rutuk Marisa. "Ya Tuhan! Kalau saja aku tidak terikat dengan perusahaan ini untuk mendapatkan rekomendasi kelulusan kuliah ku, saat ini aku sudah acungkan jari tengah ke arah jendela ruangannya!"
Marisa keluar dari gerbang gedung perkantoran dan mulai berjalan kaki menuju restoran seafood yang kemarin dia datangi bersama Andro. Bedanya kalau kemarin dia kesana dengan menaiki mobil mewah, kali ini dengan berjalan kaki.
Jarak dari kantor ke restoran seafood itu kurang lebih satu kilometer. Marisa berjalan kaki di bawah teriknya sinar mentari. Keringat mulai memercik dikeningnya dan membasahi bajunya. Tenggorokan Marisa juga terasa kering dan haus.
"Ya ampun Pak Indra! Jahat banget sih dia! Kalau saja aku tidak membutuhkan rekomendasi bagus dari perusahaannya, sudah dari awal aku mengundurkan diri!" batin Marisa seraya menyeka keringat yang mengucur di keningnya.
Sampai di restoran seafood yang dituju, Marisa segera menghampiri pelayan untuk memesan kepiting asam manis saus tiram pesanan Indra.
"Ada yang bisa dibantu?" sapa seorang pelayan restoran kepada Marisa.
"Saya mau pesan kepiting asam manis saus tiram untuk Pak Indra Perdana." kata Marisa.
"Untuk Pak Indra Perdana dari Perdana Enterprise?" tanya sang pelayan seraya mengerutkan keningnya.
"Iya, beliau sudah biasa pesan menu kesukaannya itu disini." jawab Marisa.
"Pak Indra Perdana memang sudah memesan menu kepiting asam manis saus tiram hari ini lewat sekretarisnya, Bella."
"Oh iya, tidak apa-apa kalau begitu. Saya akan mengambil pesanan itu dan membawanya ke kantor sekarang."
"Tapi masalahnya, Mbak, beliau memesan via delivery dan sudah diantar barusan oleh kurir kami ke kantornya"
Marisa pun terbengong. "Lewat jalur delivery? Kenapa seperti itu? Pasti Mbak Bella bilang kalau saya yang akan datang kesini untuk mengambil pesanan itu kan?"
"Tidak Mbak, justru Mbak Bella yang meminta agar pesanan tersebut diantar langsung ke kantor."
"Baiklah kalau begitu. Saya tidak jadi pesannya." kata Marisa lesu seraya pergi meninggalkan pelayan tersebut dengan langkah yang gontai.
Untuk sesaat Marisa termangu sendiri di depan restoran seafood itu karena merasa bingung dengan apa yang terjadi.
"Mbak Bella aneh, kan aku yang di suruh pergi kesini untuk memesan kepiting asam manis saus tiram itu oleh Pak Indra. Kenapa Mbak Bella minta di antar via delivery? Tapi Mbak Bella juga gak akan minta seperti itu kalau bukan karena perintah Pak Indra."
Tiba-tiba Marisa tersadar akan suatu hal. Kalau menurut pelayan tadi Pak Indra sudah biasa memesan via delivery, itu artinya kedatangan Marisa kesini adalah sia-sia!
__ADS_1
"Ini pasti memang sudah menjadi rencana licik Indra untuk mengerjai aku seperti waktu dia menyuruhku untuk mencari berkas tempo hari!" fikir Marisa.
"Keterlaluan! Salah apa aku ini?! Aku bela-belain jalan panas-panasan kesini tapi ternyata dia udah pesan via delivery! Gila banget sumpah!" rutuk Marisa penuh emosi!