My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 52 : Kecelakaan Reno


__ADS_3

Beberapa hari setelah Marisa ikut makan malam di kediaman keluarga Perdana, hubungannya bersama Indra menjadi kaku dan dingin. Ada dalam satu ruangan tapi sangat asing. Tidak saling bicara seolah tidak saling mengenal. Tidak ada sekat tetapi tidak saling menatap.


Sementara itu, hubungannya bersama Andro semakin hangat. Walaupun Andro tidak mendapat kepastian apakah Marisa menerima cintanya atau tidak, tapi Andro merasa kalau kedekatannya dengan Marisa sudah lebih dari cukup.


Hingga pada Jumat sore itu, Marisa mendapat telepon dari Mamanya kalau adiknya, Reno kecelakaan saat membawa motor Ayahnya ke sekolah.


Begitu terkejutnya Marisa mendengar kabar itu. "Ya Allah, kok bisa sih Reno bawa motor ke sekolah? Reno kan masih kelas 6 SD!" kata Marisa lewat sambungan telepon dengan Mamanya.


"Mama sama Ayah lagi ke rumah Nenek. Mama gak tahu kalau Reno pulang saat jam istirahat dan nekad bawa motor ke sekolah. Kuncinya kan selalu ada di motor nya!" jawab Mama.


"Sekarang Reno gimana?"


"Reno masuk UGD. Ini Mama lagi di rumah sakit. Reno masih di tangani oleh dokter."


"Ayah juga disana?"


"Iya, ini kamu bicara saja sama Ayah." Mama menyerahkan HP nya pada Ayah.


"Halo, Mar." kata Ayah.


"Halo Ayah. Kata Mama, Reno masuk UGD?"


"Iya Mar. Ayah kaget sekali. Tadi di rumah Nenek ada telepon dari Pak RT. Katanya Reno kecelakaan saat bawa motor ke sekolah! Reno nabrak pagar pembatas toko meubel Bah Dayat! Ayah dan Mama di minta segera menyusul ke rumah sakit karena Reno udah di bawa pakai mobil Pak RT."


"Kasian sekali, Reno... Aku pulang sore ini juga dari kantor langsung kesana, Yah."


"Jangan Marisa! Nanti kamu kecapekan! Pulang kantor kan kamu harus istirahat! Kamu besok saja pulang nya! Jangan sore ini!"


"Tapi aku mau pulang! Aku khawatir sama Reno!"


"Kamu pulang naik apa? Naik bus kan rawan! Kalau kemalaman gimana?"


"Pokoknya aku pulang sekarang!"


"Ya sudah. Hati-hati di jalan, ya Mar."


"Iya, Ayah."


Marisa mengigit bibirnya sendiri karena kebingungan memikirkan nasib adiknya. Tak sengaja Marisa memandang ke arah Indra dan menyadari kalau pria itu juga ternyata sedang memandang ke arahnya. Saat itu Marisa memang belum pulang kantor karena baru jam setengah empat sore.


"Ada apa? Apakah ada sesuatu yang terjadi dengan keluarga kamu? Sepertinya kamu panik sekali saat mendapatkan telepon." tanya Indra.


"Iya Pak Indra, adik saya kecelakaan. Saya mau pulang sekarang juga ke Bogor." jawab Marisa.


"Ini belum jam pulang kantor! Tiga puluh menit lagi baru kamu boleh meninggalkan ruangan!" kata Indra tanpa empati sedikitpun.

__ADS_1


"Iya, saya mengerti."


"Kamu menginap di sana? Besok bagaimana? Kamu kan masih harus menyelesaikan agenda metting untuk Senin pagi!"


"Saya pasti menginap karena saya tidak bisa meninggalkan adik saya dalam kondisi gawat."


"Terus kamu mau bolos kantor?! Tidak ada cuti untuk karyawan PKL-an! Kamu mau tidak terima gaji seperti bulan kemarin?"


"Saya akan bekerja dari rumah. Lagipula Bapak besok kan tidak ada jadwal metting. Saya tidak harus mendampingi Bapak."


"Banyak alasan! Dasar pemalas!"


Saat itulah Andro muncul memasuki ruangan. Senyumnya selalu cerah, kontras dengan sang kakak yang selalu muncul dengan bibir merenggut.


"Sudah selesai kerja nya, sayang?" tanya Andro.


"Sebentar lagi, sayang." jawab Marisa sengaja memakai kata 'sayang' karena merasa kesal dengan sikap Indra yang tidak ada empati sama sekali dengan kecelakaan yang menimpa adiknya.


Indra bersungut-sungut pelan mendengar ucapan Marisa. "Sayang-sayang!"


"Aku tungguin sekalian aku antar pulang." kata Andro seraya merangkul bahu Marisa sambil berdiri di sisi gadis itu.


"Kamu udah resmi jadi supir pribadinya Marisa?!" tanya Indra sinis.


"Enggak juga, aku kan mau langsung ngapel ke kos-an Marisa." jawab Andro.


"Aku pulang tepat jam sembilan nanti malam!"


Marisa menyandarkan kepalanya di bahu Andro. "Aku mau pulang ke Bogor sekarang."


"Ada apa? Kok mendadak? Kamu mau ngenalin aku ke keluarga kamu?" tanya Andro seraya membelai rambut Marisa dengan sayang.


Panas sekali rasanya hati Indra melihat kemesraan Marisa dan adiknya! Dengan kesal Indra meninggalkan ruangan CEO sambil membanting pintu!


"Sewot amat!" celetuk Andro lalu menatap Marisa. "Ada apa ke Bogor? Apa ada sesuatu yang penting?" tanyanya.


"Iya, adik saya kecelakaan." jawab Marisa sedih.


"Ya Allah! Kapan?!" tanya Andro lagi. Ia terkejut sekali.


"Tadi siang sepulang sekolah."


"Sekarang keadaannya gimana?"


"Masih di tangani oleh dokter di ruangan UGD."

__ADS_1


"Mudah-mudahan tidak terjadi sesuatu yang gawat. Adik kamu akan baik-baik saja."


"Amin..."


"Saya akan antar kamu pulang ke Bogor."


Marisa menggeleng, "Tidak usah, saya pergi sendiri saja. Masih ada bus untuk ke Bogor jam segini."


Andro mencubit pipi Marisa. "Saya tidak akan membiarkan gadis yang saya cintai pergi sendirian ke luar kota apalagi dalam keadaan sore menjelang malam! Saya akan mengantarkan kamu sampai ke rumah kamu. Sekarang juga kita berangkat!" katanya tegas.


"Baiklah, saya setuju. Seorang Andro Perdana memang tidak bisa di bantah." akhirnya Marisa menyetujuinya.


"Ya sudah, ayo kita berangkat."


"Pak Indra belum datang lagi. Saya belum pamit."


"Saya akan telepon dia."


"Oke!" Marisa membereskan laptopnya dan meraih tas tangannya kemudian berjalan bersama Andro keluar ruangan CEO. Tidak ada lagi yang memperhatikan mereka saat berjalan beriringan karena semua orang di kantor sudah terbiasa melihatnya. Semuanya sudah paham kalau Andro Perdana, adik dari Indra Perdana itu memang ada hubungan khusus dengan Marisa.


Tak lama kemudian Andro sudah duduk di belakang setir mobil mewahnya dengan Marisa di sisinya. Sebelum berangkat Andro sempatkan dulu untuk menelepon Indra.


"Dra, aku antar Marisa ke Bogor sekarang." kata Andro lewat sambungan telepon.


"Terserah!" kata Indra singkat.


"Mungkin besok kami gak ngantor. Kamu ngertiin, ya? Adik Marisa kecelakaan"


"Saya tidak perduli dan tidak mau tahu!" Indra memutuskan sambungan teleponnya.


Andro hanya mengangkat bahunya. "Kita berangkat sekarang." katanya pada Marisa.


"Makasih ya, Andro. Kamu baik sekali!" kata Marisa.


"Sama-sama, sayang. Kamu telepon dulu Gery. Bilang kalau kamu mau pulang ke Bogor bersama saya."


"Oh, iya." Marisa segera menelepon Gery dan menceritakan dengan singkat tentang adiknya yang kecelakaan.


"Ya sudah, hati-hati di jalan. Maaf, ya aku gak bisa nyusul kamu ke Bogor. Besok bagian gudang sibuk!" kata Gery.


"Ya gak apa-apa, Ger. Aku sama Pak Andro." Marisa selesai menelepon Gery dan siap berangkat bersama Andro.


"Kita berangkat sekarang, ya?" kata Andro.


"Ya, Andro."

__ADS_1


"Bismillah..."


__ADS_2