My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 76 : Namanya Marisa


__ADS_3

Marisa tidak habis pikir. Bagaimana tadi didalam mobil Indra, Marisa diam saja saat atasannya itu memeluk tubuhnya! Bahkan Marisa menyandarkan kepalanya di bahu Indra yang terasa sangat nyaman.


Hingga akhirnya Marisa tersadar untuk mundur dengan pipi bersemu merah dan segera keluar dari mobil Indra. Marisa bergegas pergi meninggalkan mobil Indra tanpa pernah menoleh lagi!


Ini gila! Sungguh gila! Bagaimana bisa ini semua terjadi?! Bukankah Marisa sudah mulai yakin untuk menerima lamaran Andro sepulang dari Turki nanti?! Lalu kenapa Marisa malah bisa-bisanya larut dalam pelukan Indra!


Tapi pelukan Indra tadi benar-benar nyaman, hangat dan menyenangkan! Tidak ada ******* nafas penuh nafsu seperti yang pernah Marisa rasakan saat dulu Indra pernah memeluknya di Sumedang atau di dalam toilet saat Marisa berkunjung ke kediaman Indra.


Pelukan Indra terasa penuh perasaan dan rasa rindu. Membuat Marisa merasa di sayangi dan di lindungi.


"Mustahil! Mana mungkin Indra merindukan aku! Apalagi menyayangi dan melindungi aku! Pasti dia berniat tidak baik lagi dan mau berbuat tidak senonoh lagi! Aku harus hati-hati!


Duh! Marisa! Kenapa kamu begitu bodoh?! Orang seperti Indra Perdana tidak akan pernah bisa memiliki ketulusan hati pada kamu! Dia hanya ingin mempermainkan kamu!


Kamu sudah memiliki Andro dan jangan pernah mencoba bermain api dengan Indra! Atau kamu akan terbakar jadi abu!


Cukup sudah tadi kamu larut dalam pelukan Indra! Tidak ada lagi pelukan ataupun berduaan dengan Indra lagi! Ingat Andro yang sedang berjuang di negri orang untuk bisa melamar kamu nantinya! Mulai sekarang jauhi Indra dan jaga jarak aman!" Marisa menasehati dirinya sendiri didalam hati!"


"Lalu kenapa aku bisa larut dalam pelukan Indra? Aku malah merasa nyaman dan berdebar-debar bahagia! Ya Allah... Apa aku sebenarnya mencintai Indra?! Gak! Gak boleh! Gak mungkin!" Marisa merasa ngeri sendiri saat berpikir kalau dia jangan-jangan sudah mencintai Indra!


Marisa tidak memungkiri kalau Indra Perdana adalah seorang pria tampan yang sangat sempurna dalam fisik maupun materi. Tapi bukankah Andro juga sama? Sama tampan dan sama mapan?


Lalu kenapa Marisa justru merasa berdebar-debar saat bersama Indra? Saat berada dalam pelukan? Beberapa kali Andro juga pernah memeluknya, tapi Marisa malah merasa perasaannya seperti mengambang.


Tapi saat Indra yang memeluknya, Marisa malah merasakan sensasi yang luar biasa! Perasaan ini bahkan tidak Marisa rasakan saat dulu berpelukan semasa mereka masih pacaran.


"Andaikan saja Pak Indra berlaku sopan dan baik kepadaku dari awal pertemuan kami dulu, mungkin aku sudah jatuh cinta setengah mati padanya! Di peluk saja aku sudah gelisah parah seperti ini!"


*******


Sementara itu Indra juga sedang memikirkan Marisa. Di taman belakang kediamannya, Indra duduk sendiri di temani secangkir kopi hitam kesukaannya, Indra termenung memikirkan perasaan nya pada Marisa yang semakin hari semakin bertambah dalam.

__ADS_1


Kini Indra sudah tidak bisa membohongi dirinya lagi kalau dia benar-benar sudah jatuh cinta pada Marisa. Asisten pribadi baru nya yang cantik dan juga baik hati.


Siapa sangka seorang gadis dari kalangan biasa seperti Marisa justru yang kini bisa membuat seorang Indra Perdana jadi tidak menentu karena terus memikirkannya!


Andaikan saja dari awal Indra tidak memandang Marisa dengan sebelah mata, mungkin saat ini Indra sudah bisa menyatakan perasaannya dan meminta Marisa untuk jadi kekasihnya.


Tapi kenyataannya yang terjadi adalah Andro, adiknya sendiri yang berhasil menjadi kekasih Marisa dan bahkan segera ingin meresmikan hubungan mereka dalam sebuah ikatan pertunangan.


Indra tidak pernah seperti ini sebelumnya. Memeluk seorang wanita dengan perasaan yang dalam, dengan rasa kasih sayang, dengan kehangatan dan kelembutan.


Tidak ada lagi nafsu seperti yang selalu Indra rasakan pada setiap wanita yang jatuh dalam pelukannya. Walaupun awalnya Indra memang menyukai Marisa karena wajah gadis itu yang cantik dan fisiknya yang menarik, tapi pada hari ini Indra merasakan perasaan yang lain.


Ternyata sebuah pelukan bukan hanya sekedar untuk melepaskan hasrat tapi bisa jadi sebuah bentuk dari rasa sayang, rasa rindu, dan rasa tulus. Rasa yang tidak pernah Indra rasakan sebelumnya pada setiap wanita yang dekat dengannya.


Tiba-tiba HP Indra berbunyi karena ada panggilan video call dari Sofie. Indra hanya meliriknya sekilas dan tidak memperdulikannya. Beberapa kali HP Indra masih saja berbunyi dan Indra malah mematikan nada dering nya. Kini hanya layar HP Indra saja yang terlihat menyala terus-menerus.


Indra sudah bulat hati untuk memutuskan pertunangannya dengan Sofie. Tidak ada gunanya menjalin sebuah hubungan kalau Indra sudah yakin kalau hatinya bukan untuk Sofie melainkan untuk Marisa.


"Dra, ini Mama buatkan kue cokies kesukaan kamu" kata Mama.


"Oh ya, makasih Mam" kata Indra seraya mencicipi kue yang dibawakan sang Mama.


"Enak?"


"Enak dong, Mam! Kapan Mama gak enak kalau bikin sesuatu"


Mama tersenyum, "Dra, Mama mau bicara sebentar sama kamu"


"Ada apa, Mam?" Indra menatap Mama dengan serius.


"Malam tadi Sofie kesini? Mama lihat dia pergi meninggalkan kamar kamu sambil menangis" Mama bertanya dengan hati-hati.

__ADS_1


"Ya... Mama tahu?"


"Ya. Memangnya ada apa? Mama lihat selama ini kalian baik-baik saja. Tidak pernah ada masalah"


"Justru karena selama ini kami terlihat baik-baik saja, jadi saat kami ada masalah semuanya meledak dengan begitu dahsyat"


"Ada apa? Mama boleh tahu?"


Indra menghela nafas panjang. "Maafkan saya, Mam. Saya baru menyadari sekarang"


"Tentang apa?"


"Saya tidak pernah mencintai Sofie. Selama ini saya mengikuti perjodohan karena saya pikir cinta itu tidak penting. Tidak ada. Tidak akan menjadi masalah. Tapi ternyata saya salah. Saya merasa tertekan"


"Kamu belum bisa mencintai Sofie? Setelah sekian lama kalian bersama? Padahal Sofie cantik dan sangat perhatian sama kamu"


"Mungkin semua itu tidak akan menjadi masalah apa-apa, Mam. Selama ini juga saya menikmati kebersamaan dengan Sofie. Yang penting dia cantik, baik, sederajat dengan keluarga kita, tidak cerewet dan tidak menuntut saya untuk segera menikah!"


"Lalu, masalahnya apa?"


"Masalahnya saya jatuh cinta pada wanita lain, Mam. Saya tidak bisa berhenti untuk memikirkan wanita itu! Sofie tahu dan mulai menekan saya! Meminta saya untuk segera menikahi dia! Mulai cerewet dan menyebalkan!"


"Sofie tahu?"


"Ya, karena katanya saya pernah menyebut nama wanita itu tanpa saya sadari"


"Memangnya siapa wanita itu?! Sofie mengenalnya?"


"Iya, Mam. Bahkan Mama juga mengenalinya"


Kening Mama berkerut. "Siapa?"

__ADS_1


Indra terdiam sejenak sebelum akhirnya berterus terang. "Namanya Marisa"


__ADS_2