My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 96 : Pembicaraan Marisa dan Gery


__ADS_3

Gery pulang dari kantor sebelum adzan Maghrib. Setelah menunaikan shalat Maghrib, Gery berencana untuk mencari makan malam. Tapi saat Gery keluar dari kos-annya, Gery terperangah melihat Marisa sudah ada di teras depan dengan membawa rantang susun stainless.


"Ger" sapa Marisa dengan senyuman manis yang membuat hati Gery meleleh seketika.


"Ada apa?!" tanya Gery dingin, masih berusaha jaim karena masih menyayangkan keputusan Marisa yang memilih resign dari Perdana Enterprise.


"Aku tadi masak, kita makan malam bersama yuk?!" kata Marisa.


"Aku mau cari nasi goreng di depan" kata Gery.


Marisa mendekati Gery seolah mencegat agar sahabatnya itu tidak meninggalkan rumah. "Jangan beli nasi goreng dong, Ger! Kan aku udah sempetin ke pasar, masak buat kita makan malam. Udah lama kan kamu gak aku masakin?!"


"Masak apa emangnya kamu?! Itu sampe pake rantang susun segala!" Gery mulai melonggarkan sedikit jaim nya.


"Aku masuk dulu dong, masa aku buka rantang nya di teras"


"Ya udah! Ayo masuk" Gery mendahului Marisa masuk kedalam rumahnya.


Marisa pun ikut masukkan dan segera membuka rantang susun yang dibawanya. Marisa memperlihatkan hasil masaknya hari itu kepada Gery. Ada nasi putih, sayur asem, ikan asin, perkedel jagung dan sambal terasi goreng.


"Wah!" air liur Gery langsung menetes! Tapi lagi-lagi Gery menutupi ketertarikannya dengan masih pura-pura jaim.


"Gimana, mau kan malam sama aku?" tanya Marisa.


"Ya, apa boleh buat?! Walaupun dalam hati aku sebenarnya ingin makan nasi goreng, tapi kan kasihan juga kamu udah bela-belain masak buat aku" jawab Gery.


"Nah, kalaupun gitu kamu bawa piring nya. Kita makan sekarang juga!"


Gery pergi ke dapur dan membawanya dua buah piring untuk makan bersama Marisa. "Awas kalau gak enak masakannya!" kata Gery.


"Kapan aku masak sayur asem gak enak?!" kata Marisa sambil menyendokan nasi kedalam piring.


"Ya siapa tahu aja kan hati kamu lagi gak enak, jadi mempengaruhi ke hasil masakan kamu!"


"Hati aku enak-enak aja kok!"


"Itu kamu bikin perkedel jagung segala! Minyak lagi mahal, tahu! Irit dong! Jangan boros!"

__ADS_1


"Ini minyak goreng yang aku beli dua bulan lalu! Masih banyak. Jadi aku belum sampai beli yang mahal"


"Oh"


Marisa dan Gery pun makan bersama. Bukan main enaknya masakan Marisa. Marisa memang jago masak! Gery tahu itu. Maka perlahan rasa kesal dalam hati Gery pun berkurang.


Selesai makan, Marisa ikut menumpang cuci piring di rumah Gery. Gery yang merasa berterima kasih karena Marisa sudah memasak untuknya pun berinisiatif membalas kebaikan Marisa dengan membuatkan gadis itu kopi.


"Kalau udah selesai cuci piring nya, kita ngopi dulu yuk, Mar" kata Gery.


"Oke" kata Marisa yang hampir selesai dengan pekerjaannya.


"Kita ngopi dimana?" tanya Gery yang sudah selesai membuat kopi.


"Di teras ajalah" kata Marisa.


"Oke, jadi aku bisa sambil merokok"


Jadinya Marisa dan Gery ngopi bersama di teras rumah Gery. Marisa bisa melihat kalau motor Fero masih ada di depan rumah Mbak Niki. Pertanda bahwa Fero belum pulang dari kunjungannya ke rumah janda julid itu.


"Fero betah ya di rumah Mbak Niki" komentar Gery.


"Sambil metting kayaknya" Gery nyengir.


"Metting?" Marisa bingung.


"Metting, mijit yang penting-penting!"


"Ih! Apaan sih kamu!" Marisa memukul bahu Gery.


"Lho, iya kan?! Siapa tahu Fero betahnya di rumah Mbak Niki karena sedang main game! Kan harus di pijit-pijit tuh layar HP nya! Emangnya kamu pikir mijit apa?!"


"Tahu ah! By the way, masalah metting. Gimana keadaan Perdana Enterprise hari ini, Ger?" Marisa tiba-tiba langsung teringat pada Indra.


"Emangnya kamu masih perduli dengan urusan Perdana?!" tanya Gery dengan nada sinis.


"Kok kamu gitu? Kamu masih marah ya sama aku? Aku minta maaf, Ger" Marisa berkata memelas.

__ADS_1


"Ya aku gak marah. Aku hanya menyayangkan saja. Kok bisa-bisanya kamu tiba-tiba resign dari Perdana Enterprise?! Cuma Karena seorang Bu Sofie yang sama sekali tidak respect sama kamu!"


"Aku juga gak tahu, Ger. Aku kasihan sama Bu Sofie"


"Kita lihat saja! Apakah Pak Indra mau balikan lagi sama Bu Sofie?! Kalau menurut aku sih hasilnya zonk! Pak Indra itu kalau udah gak suka ya gak suka!"


"Kenapa kamu bilang gitu?"


"Ya buktinya tadi aja di kantor heboh! Pak Indra memukuli supir pribadinya, Herman sampai tidak sadarkan diri!"


"Apa?!" Marisa kaget sekali mendengar kata-kata Gery. "Pak Indra memukuli Herman?! Ada masalah apa memangnya?!"


"Aku juga gak tahu. Tapi tadi di kantor heboh sekali ngomongin Pak Indra. Walaupun aku kerja di bagian gudang, tapi keadaan didalam kantor tetap tidak luput dari perhatian ku! Apalagi ada Pak Nino! Dia kan hobi banget ngepoin atasan!"


"Menurut Pak Nino, apa yang membuat Pak Indra mukulin Herman?!"


"Katanya sih gara-gara Herman memberi tahu Bu Sofie soal lokasi kemana Pak Indra pergi bersama Kayla!"


"Oh, masalah itu. Aku juga tahu. Karena aku adalah di lokasi kejadian saat itu"


"Nah! Berarti Pak Indra memang sudah tidak suka pada Bu Sofie! Makanya Herman di pukulin! Dasar CEO arogan! Kalau orang sampai mati, gimana coba?! Yang gila nya lagi, Pak Indra malahan sesumbar kalau dia kebal hukum!"


"Kasihan juga Herman,. mudah-mudahan kondisinya gak parah"


"Iya, Amin. Katanya juga Herman langsung di pecat tanpa pesangon! Tega sekali, kan?! Herman itu udah lama kerja sama Pak Indra! Tapi itulah Indra Perdana! Sekalinya dia tidak suka pada seseorang, dia akan membuang atau bahkan tidak segan-segan untuk menyingkirkannya! Jadi jangan pernah bermimpi kalau Bu Sofie bisa mengambilnya hatinya kembali!"


"Apakah keputusan aku salah? Apakah seharusnya aku gak resign dari Perdana Enterprise?"


"Iya, Marisa! Kamu udah salah besar! Kita sudah sedari awal bersama-sama! Memulai kehidupan baru menjadi mahasiswa, berjuang di kota orang demi bisa kuliah dan punya mimpi yang sama juga! Tapi sekarang kamu menyerah dan melepaskan mimpi itu! Aku cuma bisa berdoa agar kamu diberi keajaiban dan bisa mendapatkan nilai bagus dari Pak Indra"


"Amin, Ger. Sekali lagi aku minta maaf..." mata Marisa mulai berkaca-kaca.


Gery kasihan juga melihat Marisa sudah hampir menangis. Gery merangkul bahu Marisa dengan penuh kasih sayang.


"Ya udah, Mar. Sekarang kan sudah terlanjur"


"Tapi kami mau kan maafin aku?! Jangan sinis dan cuek lagi sama aku! Aku gak punya siapa-siapa lagi di kota ini selain kamu!"

__ADS_1


"Iya, udah jangan cengeng ah! Di cuekin segitu aja baper! Hahahaha!"


__ADS_2