
Marisa merasa tidak mengerti dengan jalan pikirannya saat ini. Dia berada di sebuah vila di kawasan puncak Bogor bersama Sang CEO arogan yang bernama Indra Perdana. Seorang CEO menyebalkan yang selama ini selalu saja menghina dan bersikap kasar kepadanya. Dan Marisa justru bersedia ikut ke vila ini untuk menjadi perawat pribadi Indra sampai pria itu sembuh. Tanpa kontrak kerja yang jelas, gaji yang belum tentu, juga akses komunikasi yang di batasi! Pekerjaan macam apa ini?!
Bukankah Marisa adalah seorang mahasiswi jurusan akuntansi yang sudah menyelesaikan praktek kerja lapangan nya di perusahaan Perdana Enterprise?! Dan sekarang kenapa Marisa masih saja berurusan dengan Indra Perdana?! Masih saja terlibat dalam kehidupan nya! Masih saja menjadi bawahannya!
Dan gila nya Marisa tidak bisa menolak! Tidak bisa pergi, tidak bisa lari, dan tidak bisa menghindar! Padahal saat berada di rumah sakit langganan Indra siang tadi, Marisa sudah punya kesempatan untuk melepaskan diri dari belenggu Indra! Indra juga sudah bersedia melepaskannya. Tapi kenapa justru Marisa sendiri yang berlari mengejar Indra dan memilih untuk terlibat kembali?!
"Aku sekarang gak bisa menghubungi siapapun! Kalau ada sesuatu yang terjadi padaku, aku harus minta tolong pada siapa?! Gawat! Apalagi Pak Indra selalu saja berusaha untuk menggoda ku! Aku takut dia khilaf dan memaksa aku untuk melayani nafsu bejatnya! Aku tidak boleh lama-lama berada disini! Kalau Pak Indra sudah membaik dan bisa berjalan sendiri, aku harus segera pergi dari sini!" batin Marisa.
"Apalagi sekarang aku gak ada akses komunikasi! Pinjam charger aja aku gak di kasih! Aku perhatikan juga gak ada telepon di vila ini! Bagaimana aku menghubungi Gery atau Mama? Aneh sekali Pak Indra itu! Apa maksudnya melarang aku berkomunikasi dengan orang lain?!"
"Aku juga sudah menyatakan perasaan ku padanya. Awalnya aku kira dia akan semakin menghina dan berbuat seenaknya terhadap ku, tapi yang ada dia malah jadi semakin intens mendekati aku! Segala panggil aku dengan sebutan Sayang! Bahkan dia tidak segan untuk mencium ku! Sialnya lagi aku malah membalas nya!"
Lelah berfikir akhirnya Marisa tidur juga. Keesokan harinya Marisa terbangun dan segera mandi dan menunaikan shalat Shubuh. Saat Marisa melihat ke kamar utama, tampak Indra masih tertidur pulas dengan bergelung didalam selimut. Marisa pun memilih keluar kamar dan mendapati kalau Bu Jum sudah berada di dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Selamat pagi, Neng Marisa" sapa Bu Jum.
"Pagi, Bu" balsa, Marisa.
"Neng mau sarapan apa? Mungkin ada sesuatu yang mau saya buatkan?"
"Apa saja, Bu. Cuma sekarang saya ingin teh manis hangat"
"Sebentar ya, saya buatkan dulu" Bu Jum segera menyiapkan secangkir teh hangat untuk Marisa dan kembali menyiapkan menu sarapan pagi.
"Ibu sudah lama bekerja di vila ini?" tanya Marisa.
"Ya Neng. Sudah lama sekali. Semenjak Pak Indra dan Pak Andro masih remaja" jawab Bu Jum.
"Apakah Pak Indra sering kesini?"
"Jarang Neng. Paling hanya sesekali"
"Sama siapa kalau Pak Indra kesini?"
__ADS_1
"Sama keluarganya, biasanya kalau ada acara malam tahun baru. Tapi semenjak Papa nya meninggal, mereka jadi jarang kesini. Seingat saya, baru dua kali Pak Indra kesini sejak Papa nya meninggal"
"Sama siapa?"
"Sama tunangannya, Bu Sofie"
"Oh..." hati Marisa mendadak merasa tidak enak kalau tidak mau dikatakan cemburu.
"Kalau Neng Marisa sendiri bekerja di rumah sakit mana?" kali ini Bu Jum yang bertanya.
"Saya tidak bekerja di rumah sakit, saya bukan perawat. Saya adalah asisten pribadinya Pak Indra"
"Dan sebentar lagi jadi calon istri saya!" tiba-tiba Indra sudah muncul di dapur dengan kursi rodanya dan segera menghampiri Marisa.
"Apa sih! Pagi-pagi sudah melantur!" kata Marisa.
"Pak Indra, maaf kami ngomongin Bapak" kata Bu Jum takut.
"Wah! Sangat cocok sekali, Pak! Neng Marisa ini cantik dan baik sekali!" kata Bu Jum seraya mengacungkan jempol nya segala!
"Dia lebih cantik dari Sofie, kan?" tanya Indra lagi.
"Iya, Pak! Neng Marisa jauh lebih cantik dan ramah!"
"Apaan sih!" Marisa melotot dan menyenggol lengan Indra yang langsung di balas dengan ciuman mesra di tangan Marisa oleh Sang CEO.
"Ih!" Marisa refleks menarik tangannya.
"Sekarang ikut saya ke kamar! Saya mau kita sarapan disana" kata Indra.
"Kenapa tidak disini saja?" kata Marisa.
"Masih dingin cuacanya. Lagipula kan obat saya ada di kamar. Jadi selesai sarapan saya bisa langsung minum obat"
__ADS_1
"Ya sudah, saya akan membawa Anda kesana"
Marisa menghabiskan teh manis nya dan mendorong kursi roda Indra.
"Sebentar saya bawakan sarapannya ke kamar, Pak" kata Bu Jum.
Marisa membawa Indra kembali ke kamar utama dan tidak lama kemudian Bu Jum juga tiba disana dan menyiapkan sarapan.
"Kalau ada yang kurang, panggil saya ya Pak" kata Bu Jum.
"Cukup, Bu. Silahkan Ibu kembali ke paviliun. Bilang pada Pak Jukri agar menyiapkan mobil, saya dan Marisa akan keluar sekitar dua jam lagi!" kata Indra.
"Baik Pak" kata Bu Jum seraya meninggalkan kamar itu.
"Saya mau kamu menyuapi saya sarapan" kata Indra pada Marisa setelah Bu Jum pergi.
"Kok Anda jadi manja? Saya kan hanya perawat Anda! Bukan pembantu Anda!" kata Marisa.
"Menyuapi itu bukan tugas pembantu, tapi tugas seorang kekasih!"
"Saya bukan kekasih Anda! Dan saya juga minta Anda jangan bilang-bilang kalau saya ini calon istri Anda! Segala membandingkan saya dengan Bu Sofie segala!"
"Lho, saya kan hanya berkata yang sebenarnya! Kamu memang lebih cantik dari Sofie!"
"Itu pasti karena Anda sudah bosan pada Bu Sofie!"
"Tidak begitu! Sejak pertama saya melihat kamu juga saya sebenarnya sudah menyukai kamu dan merasa kalau kamu lebih menarik dari Sofie! Saya saat itu sedang tidak ada masalah dengan Sofie"
"Lihat saja kalau Anda bertemu dengan gadis yang lain, pasti Anda akan berkata kalau dia lebih cantik dari saya!"
Indra meraih lengan Marisa dan menatap tajam mata gadis itu. "Dengarkan saya, Marisa! Saya semalaman tidak bisa tidur! Saya terus memikirkan perasaan saya kepada kamu! Dan saya sampai pada satu kesimpulan bahwa saya tidak bisa hidup tanpa kamu! Saya juga mencintai kamu, Marisa! Saya ingin kamu menjadi calon istri saya!" kata Indra dan tampak sangat bersungguh-sungguh.
Mata Marisa membelalak. Apakah tidak salah? Indra mengatakan kalau dia juga mencintai Marisa dan ingin Marisa jadi calon istrinya?! Ini pasti ada yang salah dengan jalan pikiran Indra! Ataukah ini efek obat yang dia minum semalam?!
__ADS_1