My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 254 : Meninggalkan Kediaman Keluarga Perdana


__ADS_3

Mata Lilis membelalak saat mendengar kata-kata Marisa! "Bu, ada apa memangnya?! Ibu mau pergi kemana?! Apakah Ibu ada masalah sama Bapak?! Maaf kalau saya lancang, tapi Ibu bilang kalau saya tidak boleh bicara tentang kepergian Ibu pada siapapun?" tanya Lilis.


"Iya, Lis. Saya ada masalah dengan Pak Indra" jawab Marisa.


"Pantas tadi Pak Indra minta saya bawain baju kantor yang belum di masukin lemari, padahal Ibu mengunci kamar ini dan tidak memperbolehkan Pak Indra masuk?"


"Iya..."


"Apakah tidak bisa di bicarakan lagi, Bu? Kasihan Syailendra masih kecil"


"Saya sudah membicarakan tentang hal ini kepada Pak Indra dan hubungan kami sudah tidak bisa di pertahankan lagi" suara Marisa bergetar hebat saat mengatakan hal itu...


"Ya Allah..."


"Pak Indra sudah mengkhianati saya, Lis..."


"Astaghfirullah...! Yang benar, Bu! Memangnya Pak Indra selingkuh sama siapa?! Ibu kenal orangnya?!"


"Melati!"


"Astaghfirullah... Bu Melati asisten pribadi Pak Indra di kantor?!"


"Iya, Lis! Makanya saya mau pergi dan membesarkan Syailendra seorang diri saja! Saya tidak mungkin bisa terus hidup bersama dengan orang yang telah menyakiti hati dan meremukkan jiwa saya..."


Lilis tiba-tiba memegang tangan Marisa. "Bu, saya ikut sama Ibu!" katanya tegas!


"Apa?!" Marisa kaget sekali mendengar kata-kata Lilis itu! "Saya tidak mungkin membawa kamu pergi, Lis! Saya sendiri tidak tahu saya mau pergi kemana. Yang saya tahu, sekarang saya akan pergi ke rumah teman lama saya. Tapi Pak Indra mengenalnya dan pasti akan mencari saya kesana! Jadi setelah itu saya pasti akan segera pergi jauh!"


"Saya tidak perduli kalau Ibu mau pergi kemana! Yang jelas saya akan ikut kemanapun Ibu pergi! Kalau Bu Marisa tidak mau membawa saya, saya akan pulang kampung saja! Saya tidak mau bekerja lagi disini kalau tidak ada Bu Marisa dan Syailendra!"

__ADS_1


Marisa menghela nafas panjang dan akhirnya merangkul bahu Lilis. "Baiklah, Lis. Kamu boleh ikut sama saya!"


Lilis tersenyum dalam tangisnya dan memeluk Marisa, Marisa pun balas memeluk Lilis erat-erat.


"Ibu yang sabar ya, Bu..."


"Insya Allah, Lis..."


"Kalau begitu saya akan memandikan Syailendra dulu, Bu Sofie segera beres-beres baju yang akan Ibu bawa pergi!"


"Saya semalaman sudah packing sekaligus baju-baju Syailendra juga"


"Ya Allah, Bu..."


"Kalau begitu kamu jangan ikut saya sekarang, Lis! Kalau kamu ikut, otomatis semua akan tahu kalau kamu bekerja sama dengan saya dalam pelarian saya ini. Keluarga Perdana bisa mencari saya ke kampung halaman kamu dan saya takut kalau keluarga kamu akan ditekan! Saya dan Syailendra akan pergi lebih dulu. Kamu bisa minta berhenti bekerja setelah beberapa hari saya meninggalkan rumah ini. Nanti kalau saya sudah memiliki tempat tinggal tetap, saya akan segera menjemput kamu!"


Lilis mengangguk! "Baiklah, Bu! Ada baiknya Ibu pergi lebih dulu dan saya akan tetap disini untuk mengabari Ibu tentang keadaan di rumah ini!"


"Ibu yang selama ini selalu bersikap baik kepada saya dan tidak pernah memperlakukan saya seperti bawahan! Ibu selalu menganggap saya seperti keluarga sendiri!"


"Saya memang menganggap kamu sebagai adik saya, Lis!"


"Bu Marisa baik sekali dan sangat cantik! Saya tidak habis pikir kenapa Pak Indra begitu tega mengkhianati Bu Marisa! Dasar CEO tidak tahu diri! CEO s*ialan!"


"Sudahlah, Lis. Mungkin ini sudah jalan takdir saya..."


Saat Marisa melihat dari kaca jendela kamarnya kalau Mama Renata sudah meninggalkan rumah bersama mobil mewahnya, Marisa segera meminta Lilis untuk membantu membawakan koper nya keluar rumah sementara Marisa menggendong Syailendra.


Supir pribadi Marisa, Pak Mukti segera menghampiri Marisa. "Ibu mau kemana? Saya akan siapkan mobilnya segera!"

__ADS_1


"Tidak usah, saya sudah pesan taksi online" kata Marisa.


"Memangnya Ibu mau kemana? Saya takut Pak Indra marah kalau Ibu pergi sendiri!"


"Saya akan pergi ke Bogor, ke rumah keluarga saya! Saya sudah bilang pada Pak Indra" Marisa terpaksa berbohong.


"Baiklah Bu, kalau begitu"


"Itu taksi online nya sudah datang"


Sebuah taksi online berhenti di depan gerbang kediaman keluarga Perdana, seorang pria yang adalah supir dari taksi online tersebut segera menghampiri Marisa. "Dengan Bu Marisa?" tanyanya.


"Ya, saya sendiri" kata Marisa.


"Mari saya bantu bawakan barang-barangnya"


"Itu, ada koper dan tas saya"


Lilis segera menyerahkan koper dan tas Marisa kepada supir taksi online tersebut untuk di masukan kedalam bagasi mobil.


Marisa segera menyusul masuk kedalam mobil dan tidak lama kemudian mobil tersebut segera meluncur meninggalkan kediaman keluarga Perdana.


Pak Mukti yang curiga dengan kepergian Marisa yang tidak biasanya segera berinisiatif untuk mengingat plat nomor mobil taksi online yang ditumpangi oleh Marisa bersama dengan Syailendra.


"Saya akan mengingat nomor plat mobilnya! Kok tidak biasanya Bu Marisa pergi ke Bogor tanpa Pak Indra! Ini tidak biasanya! Pasti ada sesuatu!" batin Pak Mukti.


Sementara itu Marisa telah meninggalkan kediaman keluarga Perdana selama beberapa menit menuju terminal bus antarkota antarprovinsi.


"Selamat tinggal, Indra... Selamat tinggal, Mama Renata... Selamat tinggal kenangan..." batin Marisa sedih seraya memeluk erat tubuh Syailendra yang mungil.

__ADS_1


"Mama... Mama..." kata Syailendra.


"Iya, Sayang... Maafkan Mama... Mama terpaksa membawamu pergi dari sisi Papa... Mama sudah tidak sanggup lagi untuk hidup bersama Papa... Mama harap kamu bisa mengerti dengan keputusan Mama jika kamu sudah besar nanti..."


__ADS_2