
Mama dan Ayah kembali ke kamar rawat Reno sekitar satu jam kemudian. Wajah mereka tampak sedih. Marisa langsung paham kalau ada sesuatu yang terjadi pada Reno.
"Ada apa, Ma? Dokter bilang apa?" tanya Marisa.
"Kata dokter Reno memang tidak menderita luka luar yang parah. Tapi menurut hasil CT scan nya, kaki kanan Reno patah dan harus di operasi. Kalau tidak segera di operasi, Reno gak bisa jalan lagi..." kata Mama sedih.
"Ya Allah..." Marisa mengucap dengan sedih.
"Operasi bisa segera di lakukan begitu ada persetujuan dari pihak keluarga" tambah Ayah.
"Ya sudah, kita segera beri persetujuan saja untuk operasi kaki Reno" kata Marisa.
"Kata dokter biaya yang harus di bayar sebesar dua puluh lima juta dan harus di bayar sebelum operasi Reno di lakukan"
"Dua puluh lima juta!" Marisa kaget sekali.
"Iya Mar. Ayah jadi bingung. Ayah ada tabungan sepuluh juta untuk biaya kuliah semester terakhir kamu. Kita mungkin bisa pakai untuk operasi Reno tapi itu juga masih kurang"
"Aku ada uang lima juta dari hasil gaji PKL bulan kemarin"
"Itu kan untuk bekal kamu"
"Gak apa-apa, Yah. Pakai saja buat nambahin buaya operasi Reno"
"Berarti kita harus cari tambahan uang sepuluh juta lagi ya?"
"Mungkin Mama bisa pinjam dulu sama Om Budi" kata Mama.
"Iya, besok pagi kita akan coba ke rumah Om Budi untuk pinjam uang. Biar Reno bisa segera di operasi" kata Ayah.
"Maaf, saya pamit keluar sebentar" kata Andro menyela di antara obrolan Marisa dan orang tuanya.
"Oya Andro" kata Marisa.
Andro pun keluar dari ruang rawat itu.
"Marisa, apa benar kamu dan Pak Andro pacaran?" tanya Mama.
"Belum resmi sih, Ma. Aku masih ragu. Pertama aku baru kenal sama dia. Kedua aku baru putus sama Fero" kata Marisa.
"Menurut Mama ada baiknya kamu jalanin dulu sama Pak Andro. Kelihatannya dia orang baik, sopan, berada, dan gak sombong"
"Iya, Ma. Dia memang baik sekali"
"Baru kenal aja dia udah langsung mau nganter kamu kesini. Sementara Fero, pacar kamu yang lama itu belum pernah sekalipun main ke Bogor"
__ADS_1
"Tapi aku belum ada rasa sama Pak Andro. Aku gak mau nerima cinta dia kalau aku belum punya perasaan"
Ayah merangkul bahu Marisa. "Kamu memang gak bisa memulai suatu hubungan tanpa ada perasaan cinta. Nanti seiring berjalan nya waktu, kamu pasti bisa sayang juga sama Pak Andro" kata Ayah.
"Aku juga udah sayang sama Pak Andro. Selain itu aku juga ada rasa suka, rasa bergantung dan rasa terima kasih. Pak Andro udah baik banget sama aku selama aku PKL di perusahaan nya"
"Ya mudah-mudahan ada jodoh nya" kata Ayah.
"Amin" kata Mama.
"Ayah sama Mama apa-apaan sih?! Aku jadi malu!" protes Marisa "Sekarang gimana? Aku pulang ke rumah atau aku jagain Reno disini?"
"Kamu pulang aja sama Ayah. Mama akan jagain Reno disini"
"Ya udah, besok pagi aku kesini lagi"
"Iya, sebelum kesini Ayah akan ke rumah Om Budi dulu untuk pinjam uang" kata Ayah.
Marisa dan Ayah pun pamit dan keluar dari ruang rawat. Sampai di depan koridor rumah sakit, mereka bertemu dengan Andro.
"Mau kemana?" tanya Andro.
"Saya mau pulang" jawab Marisa.
Marisa cemberut. "Ya enggak lah, kamu ikut pulang sama saya. Ke rumah saya. Saya dan Ayah baru mau cari kamu!"
"Iya Andro, nanti di rumah bisa tidur di kamar Reno" kata Ayah.
"Oh ya. Kalau begitu saya pamit sama Mama dulu" kata Andro.
"Saya tunggu di lobi ya" kata Marisa.
"Iya sayang"
Marisa dan Ayah berjalan bersama menuju lobi. Ayah berinisiatif untuk membicarakan masalah biaya untuk operasi Reno besok, maka Ayah mengajak Marisa untuk ikut dulu ke bagian pembayaran.
Sampai di bagian pembayaran, Ayah membicarakan masalah biaya operasi Reno dengan seorang petugas yang ada disana.
"Jadi begini, Bu. Saya besok akan mencari dulu biaya nya untuk operasi Reno. Insya Allah kalau sudah terkumpul akan segera saya berikan agar anak saya besok bisa segera di operasi" kata Ayah.
"Maaf, ini keluarga dari Reno yang di kamar rawat no.12?" tanya petugas itu.
"Iya, saya ayahnya"
"Semua biaya rumah sakit dari mulai tindakan, obat, CT scan, ruang rawat inap dan biaya operasi besok sudah di lunasi, Pak"
__ADS_1
"Sudah di lunasi?" Ayah kaget dan saling pandang dengan Marisa.
"Iya, semua sudah di lunasi oleh Pak Andro Perdana bahkan sampai pada biaya pemulihan dan kontrol pasca operasi"
"Pak Andro?! Kapan dia melunasi nya?" tanya Marisa.
"Baru saja, Bu" jawab petugas itu.
"Oh ya, makasih"
"Sama-sama Bu"
Marisa dan Ayah kembali ke lobi untuk menunggu Andro. Marisa merasa tidak enak hati karena Andro sudah membiayai semua pengobatan Reno sampai selesai, begitu juga dengan Ayah.
"Ayah jadi gak enak, Mar. Apa kita tolak saja kebaikan Pak Andro?" kata Ayah.
"Iya, Ayah. Aku juga gak enak. Tapi kita belum bisa ganti juga uangnya. Atau kita ganti dulu sebagian dengan uang yang ada" kata Marisa.
Tak lama kemudian Andro muncul dan tersenyum manis. "Ayo kita pulang" katanya.
"Maaf Pak Andro, tadi Ayah ke bagian pembayaran katanya semua biaya pengobatan Reno sudah di lunasin sama Pak Andro. Ayak jadi gak enak ini. Ayah jadi punya hutang" kata Ayah.
"Enggak, Yah. Saya ikhlas kok bantu Reno. Saya tidak menganggap semua hutang yang harus di bayar" kata Andro.
"Besok saya akan bayar dulu sebagian" kata Marisa.
Andro menggeleng. "Enggak, sayang! Itu semua buat Reno. Saya mohon tolong terima kebaikan saya. Yang penting Reno bisa segera di operasi besok pagi"
"Tapi itu kan uang besar. Ayah takutnya kalau nanti misalnya Pak Andro gak jadi sama Marisa gimana?" kata Ayah.
"Masya Allah. Saya tidak akan menyangkut pautkan masalah hubungan saya dan Marisa dengan biaya pengobatan Reno yang sudah saya bayar. Saya ikhlas. Demi Allah"
Ayah merasa terharu sekali. Di pegang nya tangan Andro bahkan hendak di cium nya kalau saja Andro tidak segera menarik tangannya.
"Jangan berlebihan, Ayah. Saya hanya perantara dari Allah SWT untuk sedikit meringankan beban Reno" kata Andro.
"Itu tidak sedikit, Pak Andro! Itu sangat besar!"
"Gak apa-apa, saya ikhlas dan saya senang bisa ikut bantu Reno"
"Makasih, Pak Andro. Sekali lagi Ayah ucapkan terima kasih!"
"Sama-sama, Ayah" Andro bergerak memeluk Ayah dan Ayah membalas dengan erat.
Andro menatap Marisa dari balik bahu Ayah. Marisa yang tampak sedang menatap juga kepadanya. Andro malah nyengir dan mengisyaratkan cium jauh dari bibirnya. Mau tak mau Marisa tersenyum juga.
__ADS_1