
Makan malam di rumah keluarga Perdana pun di mulai. Mama duduk di kursi utama yang ada di meja makan itu. Marisa duduk di sebelah Andro, sementara di seberang Marisa ada Sofie yang duduk di sebelah Indra.
Marisa benar-benar merasa canggung saat beberapa kali melirik Indra, dan pasti atasannya itu selalu sedang menatap tajam padanya. Seolah ada satu ancaman yang di tujukan pada Marisa lewat tatapan matanya. Padahal awalnya Marisa sudah merasa nyaman berada di antara Mama dan Andro, sebelum kehadiran Indra.
"Pak Indra menatap tajam seolah ada sesuatu hal jahat yang akan di lakukannya kepada ku..." batin Marisa khawatir.
Marisa mencoba makan dengan gaya seanggun mungkin. Makan dengan piring besar terbuat dari bahan mahal dengan sendok dan garpu yang juga terlihat sangat mewah.
"Tolong ambilkan saya makanan nya, Mar," kata Andro seraya meminta Marisa mengambilkan makanan untuknya.
Marisa dengan telaten mengambilkan makanan untuk Andro. "Mau yang mana?" tanya Marisa setelah menyendokan nasi ke piring Andro.
"Mau yang itu, itu, itu," Andro menunjuk beberapa makanan yang di inginkannya.
"Jangan kaget, Marisa. Andro itu memang rakus, hehehe." kata Mama.
"Marisa tidak akan kaget, Mam! Karena dia juga sama rakusnya!" kata Indra dengan nada sinis.
Mama, Andro, dan Sofie tertawa karena menganggap kata-kata Indra adalah gurauan. Sebaliknya, Marisa paham betul kalau Indra sedang menghinanya.
Sofie juga mengambilkan makanan untuk Indra. Sofie tidak bertanya Indra mau makan apa. Artinya dia sudah paham betul makanan apa yang Indra suka.
"Mama senang melihat kalian akur dan cocok seperti ini. Mama harap kalian bisa sama-sama serius dalam menjalani hubungan ini, dan Mama minta kalian jangan lama-lama berpacaran. Sebaiknya segera menikah agar rumah ini tidak selalu sepi. Mama ingin mendengar tawa dan tangis dari cucu-cucu yang akan kalian hadiahkan pada Mama." tutur Mama penuh harap.
"Aku sih maunya serius sama Marisa, Mam. Terus gak usah pacaran lama-lama. Langsung tunangan dan nikah. Tapi gimana, Indra kan belum nikah juga." kata Andro.
Marisa jadi bengong karena tidak menyangka kalau Andro akan serius seperti ini. Marisa tidak berniat sama sekali untuk menikah dalam waktu dekat. Dia masih harus menyelesaikan pendidikannya dan meraih cita-citanya.
"Tunangan terus nikah?! Jangan asal ngomong! Kamu harus tahu lebih dulu bagaimana sifat dan tabiat pasangan kamu, Dro!" kata Indra.
__ADS_1
"Kamu sendiri kok belum juga nikah sama Sofie? Kalian sudah lama tunangan. Apa kamu belum cukup mengenal Sofie sehingga kamu belum melamarnya juga?" tanya Andro.
"Aku sudah kenal Sofie luar dalam! Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk melamarnya!"
Andro kini melirik pada Sofie. "Sof, kapan dong kamu nikah sama Indra?"
"Aku sih terserah Indra nya," kata Sofie.
"Mungkin Pak Indra sudah mengenal Bu Sofie luar dalam. Tapi Bu Sofie tidak tahu bagaimana sifat buruk dan jahatnya seorang Indra Perdana!" batin Marisa.
"Kata Andro ada benarnya juga, Dra. Ada baiknya kamu segera menikahi Sofie. Umur kalian kan semakin bertambah. Mau tunggu apa lagi?" kata Mama.
"Ya," kata Indra tanpa mau menanggapi lagi masalah pernikahan. Indra malah mengambil asinan buah untuk cuci mulut. "Hm... Asinan buahnya sedap sekali, Mam. Rasanya pas banget. Kayak beli langsung di Bogor." kata Indra.
"Iya, Dra. Itu Marisa yang bikin. Dia kan orang Bogor." kata Mama
Mata Indra mendelik dan langsung batuk-batuk. Menyesal sekali Indra sudah memuji asinan buah yang ternyata buatan Marisa! Bisa besar kepala anak itu!
"Kepedasan! Aku kira sempurna! Ternyata ada kekurangannya!" rutuk Indra.
Andro mencoba asinan juga. "Ah, gak kepedasan kok! Pas rasanya." komentar Andro.
Indra mencibir ke arah Marisa. "Sial! Rasa asinan buah buatan Marisa benar-benar sedap! Aku sampai terkecoh karena tidak menyangka kalau itu buatannya! Tapi malam ini Marisa terlihat sangat cantik! Aku baru tahu kalau dia bisa secantik itu! Kenapa bukan aku yang mendapatkan kesempatan untuk mencicipi kecantikan nya?! Kenapa aku harus kalah dari Andro?!" umpat Indra dalam hatinya.
Marisa merasa suasana menjadi kurang enak. Rasanya Marisa harus menghindar dulu untuk beberapa saat. "Maaf, saya mau ke toilet dulu," kata Marisa.
"Oh silahkan, kamu lurus aja ke kanan, nanti ada ruang baca. Nah toilet nya ada di ruangan itu." kata Mama.
"Apa mau saya antar?" tanya Andro.
__ADS_1
"Tidak usah, biar saya sendiri saja." Marisa meninggalkan ruang makan dan menuju ke sebelah kanan. Sampai Marisa menemukan ruang baca yang penuh dengan buku yang tersusun rapi di lemari buku yang menjulang tinggi sampai ke langit-langit ruangan.
Marisa berdecak kagum. "Buku nya banyak sekali! Suatu saat aku ingin bisa melihat-lihat buku apa saja yang ada disini. Tapi apakah aku akan bisa berkunjung kesini lagi? Sekarang aku harus ke toilet dulu,"
Marisa melangkah ke sudut ruangan dimana ada dua toilet bersebelahan. Marisa segera masuk ke dalam salah satunya dan buang air kecil. Setelah itu, Marisa sempat mencuci tangan di wastafel sambil memperhatikan wajahnya dari cermin yang ada disana.
"Sepertinya aku masih bisa berada disini untuk beberapa saat lagi. Setelah itu aku akan minta Pak Andro untuk mengantarkan aku pulang. Aku sudah tidak nyaman sekali dengan sikap Pak Indra."
Marisa merapikan rambutnya lalu berbalik dan membuka pintu toilet. Seketika itu juga mata Marisa membelalak saat melihat Indra berdiri tepat di hadapannya, di depan pintu toilet!
Senyum sinis Indra tersungging di sudut bibirnya. Matanya menatap tajam, bukan! Bukannya tajam tetapi buas!
Marisa refleks mundur dan masuk lebih jauh ke dalam toilet. Saat itulah Indra malah ikut masuk ke dalam toilet dan mengunci pintu toilet!
Marisa mundur dengan wajah ketakutan hingga akhirnya tersudut dan punggungnya sudah mentok ke wastafel. Kini Marisa sudah tidak bisa mundur lagi!
Dalam toilet yang berukuran satu kali satu meter itu Marisa berada bersama Indra! Indra masih dengan senyuman sinis dan tatapan buasnya seolah ingin menelan Marisa hidup-hidup!
"Anda mau apa?!" desis Marisa mencoba menggertak walaupun sebenarnya takut.
"Saya sudah pernah bilang, kalau saya mau kamu!" jawab Indra kurang ajar.
"Buka pintunya! Saya mau keluar!" bentak Marisa.
"Saya tidak akan membuka pintunya sebelum kamu izinkan saya untuk memeluk dan mencium kamu!" Indra semakin keterlaluan!
"Saya tidak akan mengizinkan Bapak untuk melakukan semua itu!"
"Kenapa tidak?! Bukankah saya sudah pernah melakukannya?! Sementara Andro belum pernah! Iya kan?! Jadi tidak ada salahnya kalau sekarang kita ulangi lagi pelukan dan ciuman yang pernah kita lakukan saat di luar kota! Kamu tentu masih ingat bukan?!"
__ADS_1
Marisa menggeleng panik! Ia sudah terjebak!