
Bukan hanya seorang Marisa yang menjalani hari berat. Di saat yang sama, Gery juga mengalami hal yang tidak mengenakkan di bagian gudang.
Bagaimana tidak? Gery yang sudah susah payah mengangkut suku cadang mobil yang beratnya bukan main ke dalam truk kontainer tiba-tiba harus mengulangi pekerjaannya lagi dikarenakan truk kontainernya harus di ganti!
"Mana mungkin saya pindahkan lagi barang-barang sebanyak itu ke truk lain, Pak!" protes Gery.
"Tapi ini keputusan dari Pak Herman! Truk kontainer yang barusan kamu isi penuh itu harus di ganti dengan yang baru karena harus di ganti oli hari ini, Ger!" tukas Pak Nino.
"Tapi saya mengangkut semua itu dari tadi pagi sampai sekarang jam makan siang! Itu artinya saya harus memindahkannya dari siang ini sampai sore nanti!"
"Kamu lakukan saja apa kata saya, Ger! Ini juga demi kebaikan kamu! Pak Herman adalah orang kepercayaan Pak Indra Perdana, CEO utama perusahaan ini! Kamu butuh rekomendasi bagus dari perusahaan ini kan? Rekomendasi akan diberikan hanya dari berkas laporan yang sudah di tanda tangani oleh CEO!"
"Enggak! Saya gak mau!" Gery tetap ogah memindahkan barang-barang seperti intrusi dari Pak Nino.
"Siapa yang berani bicara tidak mau dalam melaksanakan tugas yang telah saya berikan?!" tiba-tiba terdengar suara berat dari arah belakang Gery.
Gery menoleh pada orang yang barusan berbicara tapi dia tidak mengenal siapa orang itu.
"Pak Herman." sapa Pak Nino hormat.
"Oh, jadi ini Pak Herman? Orang kepercayaan Pak Indra Perdana! Wajahnya jahat! Aku harus hati-hati!" batin Gery curiga.
Herman menyeringai pada Gery. Seringai licik yang menyebalkan. "Kamu Gery Iskandar, kan? Mahasiswa PKL dari universitas Guna Bakti?" tanya Herman.
"Iya, saya Gery Iskandar!" jawab Gery.
"Kamu sudah mendapatkan intruksi dari Pak Nino untuk memindahkan semua barang dari truk kontainer itu ke truk kontainer yang satunya?!"
"Sudah Pak."
"Tapi saya dengar barusan kamu menolak untuk melaksanakan tugas itu! Kenapa?!"
__ADS_1
"Bagaimana ya, Pak. Habisnya tugas itu berat sekali! Masak saya harus memindahkan begitu banyak barang berat dari satu truk ke truk lainnya?! Saya kan bukan robot Pak! Saya susah payah masukin semua barang itu dari gudang ke truk!" tolak Gery.
"Hm! Berani kamu menolak tugas itu?!" Hernan terlihat berang.
"Begini Pak, saya ada pertanyaan ide! Kan truknya mau ganti oli, gimana kalau ganti oli nya nanti saja? Pulang dari nganter barang! Jadi gak usah dipindahin sekarang barang-barangnya! Antar saja dulu ke tempat tujuan!" usul Gery.
"Saya adalah orang kepercayaan Pak Indra Perdana untuk mengurus semua kendaraan miliknya! Siapa kamu berani mengatur-atur saya seperti itu?!"
"Ya kan ide bagus pak!"
"Saya tidak mau dengar apa itu ide bagus kamu! Sekarang mudah saja, kamu menolak melaksanakan tugas itu berarti kamu boleh sekarang juga angkat kaki dari perusahaan ini!"
Bukan main terkejutnya Gery mendengar perkataan Herman itu! "M-maksud Bapak, saya di pecat?!" tanya Gery dengan wajah yang pucat.
"Tepat sekali! Siapapun yang menolak melaksanakan tugas dari Pak Indra Perdana berarti harus pergi dari perusahaan saat itu juga!" jawab Herman.
"Jangan, Pak! Kalau saya di pecat, saya gak bisa lulus kuliah tahun ini!"
"M... Maaf Pak! Baiklah, saya akan memindahkan semua barang itu ke dalam truk kontainer lainnya. Tolong jangan pecat saya, Pak..." ratap Gery.
"Bagus! Tahu diri juga kamu! Kalau begitu laksanakan tugas kamu sekarang juga!" bentak Herman.
"Sekarang juga?! Ini kan jam makan siang, Pak!" protes Gery.
"Kalau kamu mau tetap bertahan disini, selesaikan tugas kamu dan mulai sekarang juga! Saya tidak mengizinkan kamu keluar walaupun hanya untuk mencari makan siang!" sergah Herman tanpa pengertian.
"Tapi pak, bolehkah saya menghubungi dulu seseorang? Lewat WA?"
"Untuk apa?! Menghubungi siapa?!"
"Anu Pak, saya khawatir pada Marisa. Dia biasa keluar mencari makan siang dengan saya. Saya cuma mau WA kalau dia lebih baik cari makan sendiri aja. Takutnya dia nungguin saya."
__ADS_1
"Siapa itu Marisa?!" tanya Herman pura-pura tidak tahu.
"Marisa teman satu kampus saya yang juga PKL disini. Dia asisten pribadi Pak Indra."
"Oh, asisten pribadi Pak Indra yang baru! Dia pacar kamu?!"
"Bukan, Pak! Tapi dia udah kayak saudara saya sendiri!"
"Kamu tidak saya izinkan menghubungi Marisa! Mulai bekerja sekarang juga! Pindahkan semua isi truk kontainer itu ke truk kontainer yang satunya!"
"Baik Pak..." Gery akhirnya mengalah dan memulai dengan pekerjaannya yang dibuat-buat oleh Herman. "Kasihan Marisa! Mudah-mudahan dia udah makan dan gak nungguin aku!" batin Gery, tanpa dia tahu kalau disaat yang sama juga Marisa sedang dipersulit oleh Indra sampai tidak bisa makan siang.
Dimana ada pekerjaan yang sudah selesai dikerjakan dengan baik malah di minta diulang kembali?! Tentu saja itu tidak ada! Itu semua hanya akal-akalan Herman untuk mempersulit seorang Gery.
Siapa lagi yang menyuruh Herman kalau bukan seorang Indra Perdana?! Ini semua hanya permainan Indra Perdana yang merasa tersinggung karena Marisa menolak untuk tinggal di apartemen mewahnya hanya karena tidak tega meninggalkan seorang Gery di kosan.
"Saya sudah melaksanakan perintah Bapak! Mahasiswa bernama Gery itu sudah saya suruh memindahkan semua barang yang sudah dia susunkan ke dalam truk kontainer untuk di pindahkan ke truk lainnya!" kata Herman pada Indra lewat sambungan telepon.
"Bagus! Ini hanya permulaan! Selanjutnya akan lebih banyak hal tidak menyenangkan yang akan Gery alami!" ucap Indra dengan senyum liciknya.
Saat itu Indra masih berada diruanganya bersama Marisa yang sedang sibuk mencari berkas. Hingga akhirnya Marisa menyadari kalau Indra hanya mempermainkannya dengan menyuruhnya mencari berkas yang tidak ada sama sekali di ruangan itu!
Saat pulang kantor, barulah Marisa dan Gery bertemu dan menceritakan tentang masalah yang mereka hadapi di kantor hari itu.
"Aneh banget ya, CEO Indra Perdana itu! Kayaknya emang gak bisa lihat kita tenang dan mau bikin kita susah! Salah apa coba kita ini?! Mentang-mentang CEO kaya raya, enak aja nyiksa orang semaunya!" rutuk Gery.
"Memangnya kamu merasa kalau pekerjaan kamu hari ini dibuat susah oleh Pak Indra?" tanya Marisa.
"Iya lah! Orang kepercayaannya sendiri yang bilang sama aku kalau ini semua adalah keputusan Pak Indra!"
Dada Marisa tiba-tiba merasa tidak enak! Apa kesulitan yang Gery alami adalah buntut dari kemarahan Indra karena Marisa menolak tinggal di apartemen mewahnya?!
__ADS_1
"Kasihan kalau Gery ikut susah gara-gara masalahku sama Pak Indra! Pak Indra boleh menyulitkan pekerjaanku tapi jangan pekerjaan Gery! Gery gak tahu apa-apa! Aku harus bicara pada Pak Indra!" batin Marisa tekad.