
Jam lima pagi Gery memasuki ruangan rawat inap Marisa untuk meminta izin pada Indra untuk pulang ke kosan karena akan bersiap berangkat ke kantor.
"Ya, kamu pulang saja duluan. Saya tetap disini sampai dokter datang dan memeriksa keadaan Marisa" kata Indra.
"Baik, Pak. Makasih ya udah bantu jagain Marisa" kata Gery.
"Ini sudah menjadi kewajiban saya"
"Kewajiban Bapak?" Gery mengerutkan keningnya.
"Iya, Marisa kekasih Andro, bukan? Andro adalah adik saya dan saat ini Andro sedang pergi ke luar kota! Jadi kewajiban saya untuk menjaga Marisa!"
"Oh gitu" Gery agak meruncingkan bibirnya. "Kalau begitu saya pamit dulu, Pak"
"Kalau kamu sudah sampai di kantor, katakan kepada Pak Nino untuk menghubungi Bella, sekretaris saya kalau saya tidak masuk kantor hari ini"
"Siap Pak!"
"Kamu jangan mengatakan kalau saya tidak masuk kantor hari ini karena menunggui Marisa! Katakan saja pada Pak Nino kalau saya ada urusan kerja dengan Marisa!"
"Siap, Pak! Tapi Pak, kenapa Anda perhatian banget sama Marisa? Sampai tidak masuk kantor segala? Maaf nih saya kepo"
Indra tidak menjawab pertanyaan Gery. Matanya menatapku sinis pada Gery. Sebuah isyarat kalau Indra tidak mau menjawab pertanyaan tersebut.
Gery nyengir lalu segera meninggalkan ruangan itu.
"Dasar gila! Berani nya dia menanyakan hal yang bersifat pribadi pada saya!" rutuk Indra.
Sekitar pukul tujuh pagi, Marisa bangun dan melihat kalau Indra masih ada di dalam ruangan dimana Marisa di rawat. Marisa merasa tidak enak. Apalagi dia lihat dari jendela kalau saat ini sudah pagi.
Marisa kemudian ingat satu hal. Indra sempat mengecup keningnya saat suster selesai memeriksa keadaannya. Marisa saat itu merasa aneh, takut, dan tidak mengerti apa maksud Indra mengecup keningnya.
Saat itu Marisa juga tidak ingin membuka matanya untuk memperlihatkan bahwa dia tahu apa yang telah di lakukan Indra. Marisa sendiri merasa ada yang aneh pada perasaannya.
Marisa tidak merasa marah pada Indra, Marisa justru merasa kalau dia nyaman dengan kecupan Indra di keningnya. Hangat dan menyenangkan. Gila bukan?! Bukankah selama ini Marisa benci dan tidak nyaman dengan segala sikap buruk Indra kepadanya?! Kenapa satu kecupan saja bisa membuat Marisa terlena dan terjebak dalam rasa nyaman?!
Marisa berdehem dan Indra langsung menatapnya. "Marisa" panggil Indra.
"Pak Indra" jawab Marisa.
"Kamu sudah bangun, apakah ada yang sakit?"
"Tidak ada, saya hanya merasa lemas"
"Kamu mau makan? Ini ada sarapan dari pihak klinik, tapi sepertinya tidak enaknya sekali! Saya juga khawatir ini tidak steril! Apa kamu mau saya pesankan makanan?"
"Tidak, saya tidak mau. Saya mau makan yang ada saja"
"Ya sudah kalau begitu, ayo di makan dulu"
"Sebentar, saya masih mual. Gery mana?"
"Gery ke kantor"
"Oh iya! Ini sudah pagi! Anda tidak ke kantor?"
"Tidak"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Saya menjaga kamu disini"
Marisa kaget. "Saya tidak merepotkan Anda! Silahkan Anda pergi dari sini dan berangkat ke kantor"
"Kamu ini kenapa sih?! Saya kan sudah minta maaf! Kamu masih saja tidak menginginkan keberadaan saya!"
"Saya tidak enak. Nanti ujung-ujungnya Anda marah-marah lagi pada saya"
"Tidak! Saya tidak akan berbuat jahat lagi pada kamu"
"Kenapa Anda berubah seperti ini?"
"Kamu curiga pada saya?!"
"Tentu saja! Selama ini Anda selalu bersikap tidak baik pada saya!"
Saat itu pintu terbuka dan muncul seorang dokter dan seorang perawat memasuki ruangan. Indra jadi tidak berkesempatan untuk membalas kata-kata Marisa.
"Selamat pagi, kita periksa dulu ya" kata dokter itu lalu memeriksa keadaan Marisa.
Sesaat kemudian dokter itu tersenyum dan berkata. "Alhamdulillah, kondisinya sudah bagus! Bisa pulang sekarang"
"Alhamdulillah, makasih dokter" kata Marisa senang.
"Kalau begitu kita lepas dulu infus nya ya" kata perawat dan mulai melepaskan infus di tangan Marisa.
"Saya akan buatkan resep obat untuk di bawa pulang" kata dokter lalu pergi lebih dahulu dari ruangan itu.
"Jadi saya bisa membawanya pulang Marisa sekarang?" tanya Indra pada perawat yang masih ada disana.
"Saya akan menyelesaikan nya sekarang" kata Indra.
Tak lama kemudian Indra sudah kembali dengan membawa obat untuk Marisa bawa pulang. "Kamu sudah siap? Kita pulang sekarang" kata Indra pada Marisa.
"Saya akan pulang naik taksi" kata Marisa.
"Jangan aneh-aneh! Kamu pulang bersama saya!"
"Pulang bersama Anda?"
"Iya! Kalau pulang sendiri nanti kamu ada apa-apa di jalan bagaimana?!"
"Bapak kenapa sih tiba-tiba baik pada saya? Saya semakin curiga!"
"Terserah! Saya tunggu kamu sekarang di parkiran! Jangan sampai saya kembali kesini lagi dan menggendong kamu agar mau pulang bersama saya!"
"Iya-iya!" kata Marisa sambil turun dari ranjang rawat.
Sampai di parkiran ternyata Indra sudah memanaskan mobilnya dan langsung membuka pintu mobil saat Marisa sudah ada di sampingnya.
Marisa masuk kedalam mobil Indra. Mobil mewah itupun langsung melaju membawa Marisa pergi.
"Bapak sudah bayar biaya perawatan saya?" tanya Marisa.
"Sudah" jawab Indra singkat.
__ADS_1
"Berapa?"
"Sedikit. Cuma tujuh ratus ribu"
"Nanti saya bayar, ya?"
"Tidak usah! Uang segitu hanya receh bagi saya!"
"Sombongnya masih" gumam Marisa pelan.
"Apa kata kamu?! Coba ulangi sekali lagi!" bentak Indra.
"Eh?!" Marisa kaget karena kelepasan. "Maaf, saya lupa tadi bilang apa"
"Saya mendengarnya! Kamu bilang saya sombong!"
"Maaf..."
"Ya, tidak apa-apa. Saya memang sombong! Wajar kan?! Saya punya segalanya!"
Marisa cuma mengangguk.
"Rumah kamu dimana?"
"Sebentar lagi. Nanti ada belokan, saya akan beri tahu"
"Oke"
"Pak Indra"
"Hm?" Indra menoleh sekilas.
"Makasih"
"Makasih apa?"
"Sudah mau menunggui saya selama di klinik dan sudah membayar biaya perawatan saya juga"
"Sama-sama"
Mobil terus melaju dan ketika sampai di belokan, Marisa minta Indra berhenti. "Berhenti disini, Pak"
Indra menghentikan mobilnya. "Mana rumah kamu?" tanya Indra karena merasa bingung karena tidak ada rumah disana. Hanya ada beberapa tukang jualan di kiri kanan jalan menjajakan makanan untuk sarapan.
"Rumah saya masuk kedalam gang sana" jawab Marisa.
"Masih bisa masuk mobil kan?"
"Iya, tapi saya mau berhenti disini"
"Kenapa?"
"Maaf Pak. Saya tidak mau ada tetangga saya yang melihat Anda mengantar saya ke depan rumah"
"Alasannya?"
"Saya selama ini hanya membawa Pak Andro ke rumah saya setelah saya putus dengan mantan saya. Saya tidak mau tetangga-tetangga saya berpikir kalau saya ini gonta-ganti pacar"
__ADS_1
"Tapi kan saya ini kakaknya Andro!"
"Mereka mana perduli! Yang akan mereka pikirkan adalah saya membawa laki-laki yang berbeda ke rumah! Tolong hargai privasi saya. Saya juga tidak yakin apa Anda akan merasa nyaman kalau nanti mampir ke rumah saya. Rumah saya berada di lokasi kumuh yang tidak pantas di datangi oleh orang terhormat seperti Anda!"