
Gery menghela nafas. Di pandang nya Marisa yang masih tergolek lemah di atas ranjang perawatan. "Ada apa sebenarnya antara kamu dan Pak Indra, Mar?" gumam Gery.
Setengah jam kemudian HP Gery berbunyi, ada panggilan masuk dari Indra. Gery segera mengangkat teleponnya. "Ya, Pak"
"Saya sudah di parkiran klinik. Kamu kesini sekarang!" terdengar suara Indra yang tegas.
"Ya, Pak. Saya ke depan sekarang!" Gery segera menemui Indra yang memang sudah ada di depan klinik.
Selama dua bulan bekerja di Perdana Enterprise, baru kali ini Gery berhadapan dengan sosok CEO nya secara dekat. Ternyata Indra Perdana ini memang sangat mirip dengan adiknya, Andro Perdana. Hanya saja raut wajah keduanya sangat berbeda.
Kalau Andro memiliki wajah tampan yang ramah dan selalu penuh dengan senyuman, sebaliknya sang kakak memiliki wajah tampan dingin yang terkesan arogan.
"Antar saya ke ruangan Marisa di rawat!" perintah Indra.
"Silahkan, Pak" Gery berjalan mendahului Indra menyusuri koridor klinik yang gelap karena kurang cahaya penerangan.
Indra mengerutkan keningnya. "Kamu bawa Marisa ke klinik murahan seperti ini?! Lihat keadaan disini! Gelap! Suram dan kelam seperti wajah kamu! Lihat juga lantainya! Kotor dan menjijikkan! Sudah berapa lama mereka tidak mengepel lantai klinik ini?! Apakah mereka tidak memiliki cukup dana untuk membayar petugas kebersihan?! Pasti banyak virus disini! Bla bla bla!" sepanjang koridor Indra malah marah-marah.
Gery jadi bingung. Mau menjawab takut salah, kalau tidak menjawab takut makin salah! Untungnya mereka sudah tiba di kamar rawat Marisa, jadi Indra berhenti marah-marah dan fokus menghampiri Marisa yang terbaring di ranjang perawatan.
Indra mendekati Marisa dan tanpa canggung meraba dahinya. "Panas sekali!" gumam Indra. Indra bukan cuma meraba dahi, tapi juga pipi dan leher Marisa dengan punggung tangannya.
Gery makin bingung. Indra sedekat itu dengan Marisa? Sejak kapan? Trus Andro gimana?
"Marisa, bangun Mar! Kita pindah ke rumah sakit yang besar dan bagus! Saya mau kami mendapatkan perawatan medis yang tebaik!" bisik Indra di telinga Marisa, tapi Marisa tidak bergeming.
Indra menatap Gery. "Sebenarnya apa yang terjadi dengan Marisa?" tanyanya.
"Saya juga kurang tahu, Pak. Tapi kata dokter sih Marisa lemah dan panas tinggi, jadi tidak sadarkan diri" jawab Gery.
"Lalu kenapa Marisa bisa sakit?!"
"Saya juga gak tahu, Pak. Pas saya pulang kantor, Marisa udah gak sadarkan diri di kamarnya"
__ADS_1
"Kamu sudah masuk kedalam kamarnya?!"
"Enggak, Pak. Saya cuma bingung aja kenapa tadi sore Marisa gak ada pas pulang kantor. Kan biasanya kami pulang bersama. Saya khawatir dan melihat ke rumahnya. Nah saya lihat Marisa sudah tergolek lemah di atas ranjang. Saya segera panggil tetangga untuk bantu bawa Marisa ke klinik ini naik taksi online"
"Oh, begitu"
"Kan Bapak yang dari pagi bersama Marisa. Bapak juga bilang kalau Marisa sempat ikut metting sama Bapak. Nah kenapa Marisa bisa sakit setelah selesai metting bareng Bapak?" kali ini Gery yang balik bertanya.
Indra melotot. "Bukan urusan kamu!" bentaknya.
Gery jadi ciut. "Gila banget ini orang! Gak ada ramah-ramah nya! Dasar CEO arogan!" rutuknya dalam hati.
"Saya akan pindahkan Marisa ke rumah sakit yang besar dan mahal! Saya tidak suka Marisa di rawat di tempat murahan dan menjijikkan seperti ini! Bukannya sembuh nanti malah tambah parah!" kata Indra.
"Tapi, Pak" Gery semakin bingung.
"Apa lagi?!" bentak Indra kesal! "Kamu bilang saja kalau pelayanan disini tidak memuaskan! Kamu selesaikan administrasi Marisa dan kamu sekalian sewa ambulans! Ini bawa kartu kredit saya untuk membayar semuanya!" Indra mengeluarkan dompetnya dan menyerahkan salah satu kartu kredit nya.
Tapi Gery tidak mau mengambil kartu kredit yang di sodorkan oleh Indra.
"Saya bingung, Pak. Saya gak berani bilang kalau Marisa mau di pindahkan dari sini. Saya takut pihak klinik tersinggung"
"Untuk apa kamu memikirkan perasaan mereka?! Mau tersinggung ataupun tidak, saya tidak perduli! Saya mau Marisa di pindahkan sekarang juga dari klinik murahan ini!"
Saat itulah Marisa sadar karena merasa terganggu dengan kata-kata keras Indra. Marisa mengerjapkan mata nya dan melihat ada Indra dan Gery. Tampak Indra sedang marah-marah pada Gery yang hanya bisa diam tertunduk.
"Aku ada dimana? Kepala ku pusing sekali... Ada Gery dan Pak Indra! Mau apa dia ada disini?!" batin Marisa. Tubuhnya bergetar ketakutan karena merasa takut pada Indra.
"Ger..." panggil Marisa pelan.
"Marisa" Indra dan Gery memanggil Marisa berbarengan.
"Aku dimana?" tanya Marisa.
__ADS_1
"Kamu ada di klinik, Mar. Kamu panas tinggi sampai tidak sadarkan diri. Aku bawa kamu kesini sama Mbak Niki" tutur Gery.
"Aku mau pulang..."
"Kamu harus di rawat, Mar. Ini masih malam. Besok pagi dokter akan periksa kamu. Kalau udah boleh pulang, baru kamu bisa pulang"
"Marisa" kali ini Indra yang bicara. "Saya akan memindahkan kamu ke rumah sakit yang besar dan pelayanannya bagus"
Marisa menggeleng takut. "Saya tidak mau. Saya mau disini saja. Saya mau pulang besok pagi"
"Tapi perawatan disini tidak memadai! Malam ini juga kamu sudah bisa pindah ke rumah sakit langganan keluarga Perdana!" kata Indra tegas.
"Saya tidak mau! Saya bilang saya tidak mau!!!" Marisa kini setengah berteriak.
Indra khawatir juga kalau Marisa akan histeris. Maka dia mengalah dan membiarkan Marisa tetap di rawat di klinik itu. "Oke, baik! Saya akan membiarkan kamu tetap berada disini. Kamu jangan khawatir!" nada suara Indra kali ini agak pelan.
"Anda mau apa berada disini?!" tanya Marisa dengan sorot mata masih menatap takut.
"Saya akan menjaga kamu disini" kata Indra lalu melirik Gery. "Gery, kamu boleh meninggalkan saya dan Marisa sekarang!"
"Tapi Pak" Gery enggan meninggalkan Marisa dan Indra berdua.
"Saya bilang kamu tinggalkan ruangan ini!" Indra mengeluarkan perintah nya.
"Jangan! Jangan tinggalkan aku, Gery" kata Marisa panik.
"Saya bilang kamu pergi!" Indra mengulangi lagi perintah nya.
Gery makin bingung. Harus pergi atau bertahan?
"Pergi kamu dari sini! Saya tidak akan mengulangi lagi perintah saya, atau kamu saya pecat!" bentak Indra seraya mengancam Gery.
"Jangan!" Marisa berteriak parau.
__ADS_1
Indra kini memegangi kedua pipi Marisa. Wajahnya di dekatkan ke wajah Marisa. Marisa menggeleng panik mencoba melepaskan wajahnya dari kedua tangan Indra, tapi Indra tidak melepaskan wajah Marisa.
"Kamu diam! Jangan panik ataupun berontak! Kamu mau infus kamu lepas?! Saya akan tetap berada disini untuk menjaga kamu! Kamu jangan menghendaki saya pergi! Kalau kamu marah atas perbuatan saya siang hari tadi pada kamu, oke! Saya minta maaf!"