My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 21 : Kemarahan Indra


__ADS_3

Marisa tertegun mendengar kata-kata Andro yang bertanya apakah Marisa bersedia menjadi pacarnya? Apa-apaan ini?! Bertemu baru beberapa kali, kok malah bertanya seperti itu?!


"Marisa, kamu belum menjawab pertanyaan saya." tegur Andro.


"Eh!" Marisa terkejut mendengar teguran Andro. "Maaf Pak, saya hanya terkejut mendengar perkataan Bapak. Bapak sedang bercanda, kan?"


"Saya tidak bercanda, Marisa! Saya serius! Saya suka sama kamu!"


"Tapi kan Pak, mengajak seseorang pacaran itu bukan hanya karena rasa suka! Tapi juga karena rasa cinta dan kasih sayang."


Andro tersenyum kalem. "Saya rasa kalau saya suka kamu, maka pasti saya cinta dan sayang juga sama kamu."


"Maaf Pak, saya tetap tidak bisa menjadi pacar Bapak." tolak Marisa.


"Kenapa? Kamu gak ada perasaan sama saya?" tanya Andro.


"Bukan begitu, Pak. Tapi saya... Saya... Saya sudah ada pacar." Marisa pun mengakui kalau dia sudah punya pacar.


Andro melongo dengan wajah lucu dan mulut terbuka lebar yang sialnya membuat wajahnya terlihat semakin tampan!


"Pak Andro ganteng banget! Bikin aku merasa bersalah karena telah menolaknya!" batin Marisa gemas dan sedikit menyesal. "Pak Andro, Bapak baik-baik saja?" tanya Marisa sambil melambaikan tangan di depan wajah Andro karena terus saja melongo.


"Ah!" Andro tergagap. "Maaf Marisa, saya gak tahu kamu sudah ada pacar!" nada suara Andro sangat menyesal.


"Iya, gak apa-apa Pak." ucap Marisa seraya tersenyum manis.


"Kamu lupakan saja apa yang saya katakan tadi, ya?"

__ADS_1


"Baik, Pak." Marisa mengangguk.


"Saya harap kamu gak marah dan hubungan kita bisa tetap berjalan baik. Kamu jangan sampai merasa canggung setelah kejadian ini!" harap Andro.


"Tentu saja tidak, Pak."


'Ceklek!'


Tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan Indra muncul disana. Keningnya berkerut melihat ada Andro diruangan kerjanya.


"Kamu disini Dro?!" tanya Indra dengan nada yang gusar.


"Iya, aku nunggu kamu. Mau ambil proposal buat barang yang akan aku ambil di Bandara besok." jawab Andro.


"Sudah lama kamu disini?!" tanya Indra lagi.


"Hm... Lumayan."


"Ini, aku lihat hasil kerja Marisa. Dia bikin contoh denah buat proyek perumahan kamu yang diluar kota. Hasilnya luar biasa! Bagus banget lho, Dra!" ujar Andro antusias.


"Nanti aku periksa! Sekarang kamu ambil proposal yang kamu maksud dan tinggalkan ruangan aku!" Indra tidak menunjukkan ketertarikannya malah menyuruh Andro pergi dari ruangan itu.


"Lho! Kenapa?! Ini ruangan aku juga kan? Aku ini adik kamu, Dra!" Andro pun heran dengan sikap Indra. Memang sudah tidak aneh baginya kalau Indra bersikap dingin atau sinis, tapi kalau mengusir baru kali ini terjadi.


"Iya! Ini memang ruangan kamu juga! Tapi aku gak suka kalau kamu kesini bukan untuk bekerja, melainkan hanya untuk bertemu gadis tidak penting itu!" sergah Indra tajam seraya melirik Marisa dengan ujung dagunya.


Marisa pun merasa tersinggung atas perkataan Indra. "Ya, Pak Indra Perdana yang terhormat! Saya memang tidak penting!" kata Marisa dengan penuh rasa kesal.

__ADS_1


"Bagus kalau kamu tahu diri! Padahal saya sudah bilang kamu tidak boleh mendekati adik saya lagi!" bentak Indra.


"Kamu apa-apaan sih, Dra?! Marisa gak coba dekati aku kok! Aku yang mendekati dia!" jelas Andro.


"Lalu mau apa kamu mendekati dia?! Dia hanya asisten pribadi sambilan! Dia hanya menumpang mencari nilai di perusahaan ini! Aku sudah bermurah hati menerima dia sebagai asisten pribadi karena atas rekomendasi kamu! Tapi bukan berarti dia bebas berdekatan dengan kamu!" Indra kali ini memaki-maki Andro.


"Terserah kamu lah, Dra! Bingung aku sama sikap kamu! Kamu terlalu arogan! Aku pergi dulu! Mana proposal yang aku butuhkan?"


"Ambil saja di Bella!"


"Oke, aku pamit! Aku memang tidak ada tempat disini!" kata Andro seraya meninggalkan ruangan itu, tapi Andro masih sempat melirik pada Marisa dan berkata, "Yang kuat ya, Mar!"


"Kamu apa-apaan sih?!" bentak Indra tapi Andro sudah berlalu. Kini kemarahan Indra tertumpah pada Marisa. Matanya melotot menyeramkan! Suaranya menggelegar saat membentak Marisa, "Puas kamu?!! Puas sudah membuat adik saya menentang saya?!!"


"Membuat adik saya menentang saya?! Bukannya dia yang duluan berkata tidak enak pada Pak Andro?!" batin Marisa. Rasanya ia mau menjawab tapi tidak berani! Indra sangat menyeramkan saat ini. "Ya Tuhan... Andai saja aku tidak membutuhkan rekomendasi dari CEO arogan ini..!"


"Saya sudah bilang kalau kamu tidak boleh mendekati adik saya lagi! Tapi kamu tidak mau mendengarkan kata-kata saya! Apa kamu pikir kamu bisa mendapatkan adik saya?! Kamu jangan bermimpi! Setelah selesai masa PKL kamu disini, kamu dan adik saya tidak akan pernah bertemu lagi! Dia akan segera dengan cepat melupakan kamu! Kamu sama sekali tidak penting! Saya ingin kamu bisa segera meninggalkan kantor ini secepatnya, dan kamu sebaiknya berdoa dari sekarang agar saya mau bermurah hati dan memberikan kamu nilai lumayan! Karena saya sama sekali tidak sudi memberikan nilai bagus untuk kamu dan Gery! Saya muak dengan kalian!" Indra pun marah besar pada Marisa.


Marisa merasa hatinya sudah terluka parah. Tapi kali ini Marisa tidak menangis. Air matanya seolah sudah mengering. "Aku gak boleh menangis lagi! Marisa! Kamu harus perlihatkan pada Indra Perdana kalau kamu sudah tidak punya perasaan sakit hati dan juga sudah tidak mempunyai air mata!" batin Marisa pada dirinya sendiri.


"Kamu beberapa hari ini juga berusaha menjauh dari saya! Kamu bersikap seolah tidak ada saya padahal kita berada dalam satu ruangan! Saya kamu anggap apa?! Sementara pada Andro, kamu begitu manis dan lembut! Kamu ini sudah punya pacar, kan?! Kamu tahu artinya kesetiaan, bukan?! Seorang wanita tidak ada harga dirinya tanpa adanya kesetiaan!" Indra masih belum puas memarahi Marisa.


"Maaf Pak Indra Perdana yang terhormat! Saya sama sekali tidak berniat untuk berlaku tidak setia dengan mendekati Pak Andro! Saya sangat mencintai pacar saya! Dan masalah saya menjauhi Anda, itu karena saya tidak ingin terlibat masalah lagi dengan Anda! Saya menjaga jarak sejauh mungkin agar tidak bersinggungan dengan Anda. Saya takut, Pak!" Marisa coba berkata untuk sedikit membela dirinya.


"Kenapa kamu takut pada saya?! Memangnya saya ini hantu?!"


"Bukan seperti itu maksud saya! Tapi apakah Anda tidak merasa kalau Anda seorang CEO yang arogan?! Jangankan saya! Adik Anda sendiri saja tidak nyaman dekat dengan Anda!"

__ADS_1


Kali ini Indra terdiam. Dia tidak marah-marah lagi seperti tadi. Marisa juga tidak bicara apa-apa melainkan sibuk dengan laptopnya kembali.


Beberapa saat terjadi keheningan di ruangan itu. Hingga akhirnya jam makan siang tiba. Marisa menghembuskan nafas lega dan berniat berpamitan untuk pergi makan siang, tapi Indra meninggalkan ruangan lebih dulu.


__ADS_2