
Malam Minggu yang cerah, Marisa dan Fero menghabiskan waktu berdua. Sepulang Marisa dari kantor, Fero membawanya ke sebuah pasar malam dan menaiki wahana-wahana murahan disana. Sudah beberapa hari mereka tidak jalan-jalan berdua. Kalaupun Fero menjemput Marisa ke kantor, pasti langsung di ajak pulang dan ngopi bersama di kos-an.
Kekesalan Marisa hari itu pada Indra pun berkurang. Marisa selalu merasa bahagia jika berada di dekat Fero. Memangnya hanya seorang CEO yang bisa bermesraan?! Marisa juga mempunyai Fero yang tampan dan seribu kali bisa membahagiakan dibandingkan seorang CEO menyebalkan seperti Indra Perdana!
Marisa dan Fero pun mengabadikan momen mereka berdua di Instagram masing-masing. Caption mereka pun sama bertuliskan, selalu untuk selamanya.
Fero mengantarkan Marisa pulang tepat jam 9 malam ke kos-an nya. Di depan kos-an, Gery tampak sedang memainkan gitar bersama teman-teman yang lainnya. Suara fals nya menyemarakkan malam Minggu itu.
"Hai Fero! Hai Marisa!" sapa Gery.
"Hai!" balas Fero seraya menghampiri Gery dan ikut nimbrung di teras kos-an. Mereka bersalaman dengan gaya khas anak masa kini.
"Bawa makanan gak buat kita-kita, Fer?" tanya Gery.
"Ada, aku tadi beli martabak manis. Kopi juga udah beli satu lusin." jawab Fero.
"Aduh! Asyik banget! Cepetan deh bikin kopi nya!" seru Gery semangat. Dua orang teman Gery juga sama semangatnya!
"Iya, nanti aku minta Marisa bikin buat kita." kata Fero lalu menoleh pada Marisa yang sedang membuka pintu kos-annya. "Sayang, bikinin kopi buat kita semua, ya?"
"Oke, tapi aku mandi dulu, ya?" sahut Marisa.
"Jangan mandi! Cuci muka aja! Udah malem!" seru Gery.
Marisa tidak perduli pada seruan Gery. Marisa tetap mandi dengan air hangat. Seusai mandi, Marisa melihat Fero sedang berada didapurnya dan membuat kopi.
Marisa memeluk Fero dari belakang. "Sayang, maaf aku lama! Kamu jadi bikin kopi sendiri..."
"Gak papa, sayang. Kasian anak-anak udah pada mau ngopi sambil makan martabak," jawab Fero seraya membalikkan badannya hingga kini dia dan Marisa berhadapan.
Entah siapa yang memulai lebih dulu, wajah mereka saling mendekat dan bibir mereka saling bertaut erat. Kerinduan yang selama beberapa hari terpendam seolah menemukan obatnya.
Fero menghentikan ciumannya untuk memeluk Marisa erat-erat. "Aku sayang banget sama kamu, Marisa! Aku gak akan pernah mau kehilangan kamu!" bisiknya sambil menciumi pelipis Marisa.
"Aku juga sayang banget sama kamu, Fero..." balas Marisa.
"Woi!!!" tiba-tiba terdengar seruan Mbak Niki yang membahana!
__ADS_1
Marisa dan Fero pun terkejut melepaskan pelukannya masing-masing.
"Ada apa sih, Mbak?! Bikin kaget aja!" tegur Marisa.
"Gua cuma mau ikut ngopi bareng! Kata si Gery ada banyak kopi disini! Eh! Kalian malah lagi pada bermesraan!" rutuk Mbak Niki.
"Iya, ini ada banyak kopi. Aku bikinin satu, ya buat Mbak Niki?" kata Fero.
"Nah gitu dong! Makasih ya, ganteng!" Mbak Niki malah centil pada Fero, sambil kedip-kedip mata segala!
"Ya udah, Mbak Niki tunggu sana didepan! Nanti kopinya aku bawa ke depan!" kata Marisa.
Malam Minggu itu pun menjadi malam yang panjang dan semarak. Marisa berkumpul bersama para sahabat dan kekasihnya.
"Ngomong-ngomong ini udah malem, elu besok gak kerja, Marisa?" tanya Mbak Niki.
"Enggak, Mbak. Besok aku libur." jawab Marisa.
"Alhamdulillah ya, besok kita libur! Aku capek kerja keras terus! Tadi aku malah disuruh nyapu sama ngepel gudang! Gila kan?! Emangnya aku OB!" rutuk Gery.
"Masa kuliah tinggi-tinggi PKL nya cuma jadi OB?!" komentar Mbak Niki.
"Emang Pak Indra itu bikin kamu kesel gimana lagi?!" tanya Fero pada Marisa.
"Ya namanya juga orang kaya, sok berkuasa! Jadi kadang seenaknya aja! Mencoba kesabaran kita sebagai bawahan yang lagi PKL!" jawab Marisa dongkol.
"Apalagi kita kan butuh rekomendasi dari dia, jadi makin seenaknya aja sama kita!" tambah Gery.
"Padahal elu gebet aja tuh CEO, Mar! Siapa tahu kalau dia naksir, elu bisa dapet rekomendasi yang bagus!" usul Mbak Niki.
"Apaan sih, Mbak! Marisa itu milik aku!" tegur Fero.
"Ya cuma buat settingan gitu! Selama PKL aja! Biar lulus dengan nilai yang memuaskan!" kata Mbak Niki tetap pada opininya.
"Ya enggaklah, Mbak! Belajar ataupun bekerja itu harus bener-bener pake skil yang kita punya! Gak boleh ada pikiran lewat jalan pintas kayak gitu!" tukas Marisa.
"Emang CEO nya umuran berapa?! Masih muda kayak Aldebaran apa udah bangkotan kayak Bapak si Nino di ikatan cinta?! Siapa tuh namanya? Opa Chan kalau gak salah!" tanya Mbak Niki. Lah kok jadi ke Ikatan Cinta?
__ADS_1
"Masih muda Mbak, baru 30 tahun!" jawab Gery.
"Aduh! Itu mah usia matang!" seru Mbak Niki semangat!
"Matang gimana?" tanya Marisa.
"Matang segala-galanya! Matang hartanya! Matang bodinya! Matang juga dalemannya! Hik hik hik!"
"Dalemannya apa, Mbak?" tanya Gery.
"Ya dalemannya! Masa elu gak tahu?! Senjata rahasianya! Lu juga punya kan?!" Mbak Niki melirik ke arah celana Gery. Gery segera rapatkan posisi duduknya.
"Ih..!" sergah Marisa risih.
"Ah! Munafik loe! Coba mana sini gua liat foto tuh CEO! Namanya Indra kan? Elu ada fotonya gak?" Mbak Niki penasaran.
"Nih, ada di website perusahaan." kata Gery lalu buka HP nya untuk melihat profil Indra di website perusahaan Perdana Enterprise.
"Wow!!!" seru Mbak Niki kagum. "Ini mah bener-bener idaman gua banget! Wajah ganteng! Bodi bagus! Harta berlimpah!"
Fero yang sedari tadi diam melirik ke layar HP Gery dan mengakui kalau sosok Indra Perdana benar-benar terlihat sebagai seorang laki-laki matang idaman kaum hawa. Diam-diam hati Fero merasa tidak enak.
"Udahlah, Mar! Gebet aja! Kapan lagi elu punya kesempatan deket sama CEO ganteng kayak gini?! Settingan selama tiga bulan aja! Biar selama itu yayang Fero, gua yang jagain!" kata Mbak Niki lagi.
"Mbak apa-apaan sih! Kok malah menghasut yang gak bener sama Marisa!" bentak Fero.
"Iya, Mbak! Kalau mau Mbak aja yang gebet tuh Pak Indra! Aku akan setia sama Fero!" kata Marisa.
"Kalau bisa masuk kantor itu, ya udah gua gebet tuh Pak Indra! Gua kan bukan mahasiswa PKL! Bukan juga pegawai disana! Gimana gua gebet nya?!"
"Nanti lah Mbak, aku tanyain aja apa Pak Indra butuh tukang pijat!" kata Gery.
"Nah boleh juga tuh, Ger! Segera kabarin gua kalau ada job!"
Marisa hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Mbak Niki yang centil tapi julid. Melirik pada Fero, dilihatnya kalau wajah Fero agak berubah. Mungkin termakan juga sama kata-kata usil Mbak Niki!
Marisa segera mengamit lengan Fero dan menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya itu.
__ADS_1
"Aku gak akan pernah mencoba untuk mendekati Pak Indra! Aku hanya mencintai kamu, Fero! Hanya kamu! Dan kamu harus percaya akan hal itu! Aku tidak akan pernah berani untuk selingkuh dari kamu!" bisik Marisa pada Fero penuh penegasan dan sungguh-sungguh.