My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 39 : Tidak Ada Permintaan Maaf


__ADS_3

Marisa terbangun dari tidurnya di pagi hari dengan kepala yang terasa pusing. Untuk sejenak dia masih terbaring di atas ranjangnya, menunggu pandangannya jernih dan kepalanya tidak terlalu sakit.


Perlahan Marisa bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju pintu kamar. Di bukanya pintu perlahan dan mendapati kamar utama yang di tempati Indra masih tertutup.


Marisa segera masuk kamar mandi dan mandi dengan gerakan secepat kilat. Selesai mandi, dia langsung berpakaian dan merapikan semua barang bawaannya termasuk baju tidur yang robek di bagian dada karena di renggut Indra.


Terdengar suara bunyi guyuran air dari kamar mandi. Indra sudah mandi! Marisa menggigil ketakutan karena ingat peristiwa semalam.


"Pak Indra sudah bangun! Bagaimana aku menghadapinya pagi ini?" batin Marisa.


Marisa mulai berfikir untuk pergi saja sekarang juga dari villa itu, tapi rasa tanggung jawab akan pekerjaannya menyuruhnya untuk tetap disana sebagai asisten pribadi Indra.


"Tidak! Aku harus selesaikan tugas ku hari ini dan kembali secepatnya ke Jakarta. Aku harus bisa! Aku harus kuat di hadapannya! Ayolah Marisa! Jangan perlihatkan ketakutan mu!" Marisa coba menguatkan hatinya sendiri.


Dengan menguatkan hatinya, Marisa keluar dari kamar dan menuju ruang makan. Ternyata sarapan sudah di siapkan oleh Bi Inah. Nasi goreng, gorengan bakwan dan tahu isi, juga kopi panas. Tapi Bi Inah sendiri tidak tampak di dapur. Mungkin sudah kembali ke paviliun.


Tak lama kemudian Indra hadir di ruang makan dan ikut duduk bersama Marisa. Marisa mulai berfikir muluk, seandainya saja Indra mau meminta maaf atas apa yang telah dia lakukan tadi malam...


Tapi yang ada tanpa bicara apa-apa Indra mulai makan dengan lahap. Marisa jadi serba salah. Mau ikut makan tapi belum di tawari. Tidak ikut makan, perutnya lapar.

__ADS_1


Indra seperti tidak menganggap Marisa ada di ruangan yang sama. Dia asyik makan tanpa menghiraukan kehadiran Marisa. Hilang sudah harapan Marisa kalau Indra mau meminta maaf.


"Aku terlalu naif... Mana mungkin seorang CEO tampan, kaya raya dan terhormat seperti Indra Perdana mau meminta maaf walaupun dia sudah melakukan kesalahan padaku? Seperti apa katanya yang sering dikatakan padaku. Aku tidak penting! Apalagi perasaanku..." batin Marisa lirih.


Usai makan Indra mengambil kopinya dan pergi ke ruang depan sambil memeriksa HP nya. Tak lama terdengar dia sedang bertelepon ria dengan tunangannya, Sofie. Marisa merasa jijik sekali mendengar Indra berkata 'sayang-sayangan' pada Sofie!


Bagaimana bisa Indra semesra itu padahal tadi malam mencoba untuk memaksa wanita lain untuk tidur bersamanya?! Gila! Meminta wanita lain memuaskan nafsu semalam dan bersikap seolah tidak pernah terjadi apapun!


Marisa merasa hatinya perih dan sakit! Sambil membanting sendok dan garpu, Marisa mulai menyantap nasi goreng nya. Mata Marisa bahkan sempat berkaca-kaca meratapi nasibnya yang di anggap Indra hanya sebuah objek tanpa memiliki perasaan.


Usai sarapan, Marisa menemui Indra di ruang depan. Indra yang melihat kehadiran Marisa segera menghindar dengan keluar villa dan menghidupkan mesin mobilnya.


Marisa paham kalau Indra akan pergi ke lokasi perumahan sekarang. Marisa segera mengambil tas nya kemudian menghampiri Indra dan ikut masuk ke dalam mobil. Marisa tidak duduk di sebelah Indra melainkan di kursi belakang.


Indra sendiri merasa kesal pada Marisa. Kenapa gadis tidak tahu di untung itu tidak mau meminta maaf dan malah bersikap dingin?! Padahal Marisa yang rendah itu sudah berani menolak kenikmatan dan kesenangan yang di tawarkan padanya!


"Dasar wanita tidak tahu diri! Bukannya meminta maaf malah bersikap dingin dan malah duduk di belakang! Memangnya aku ini supir pribadi nya?! Awas Marisa Larasati! Kita lihat saja! Kamu akan menyesal telah menolak Indra Perdana! Aku hanya meminta satu malam kesenangan bersama mu, tapi kau memilih menderita sampai akhir masa kerja mu di perusahaan ku!


"Aku pastikan kamu yang nantinya akan mengemis-ngemis untuk bisa merasakan kehangatan satu malam bersama ku! Tapi saat itu terjadi, aku tidak akan sudi lagi melihat wajah apalagi untuk tidur bersama mu! Di beri hati, kamu malah meminta jantung!" batin Indra.

__ADS_1


Akhirnya Marisa dan Indra pun berangkat ke lokasi pembangunan perumahan dengan saling berdiam diri. Merasa sama-sama benar dan tidak perlu untuk meminta maaf.


Sampai di lokasi, semua orang yang berkepentingan disana sudah menunggu kehadiran Indra Perdana, termasuk Henry Adiputra yang langsung tersenyum pada Marisa.


Di lokasi pembangunan perumahan sudah terpasang pita indah yang di hiasi berbagai bentuk bunga plastik warna-warni. Ada juga beberapa karangan bunga dan berbagai papan ucapan selamat atas pembangunan perumahan cluster Perdana Enterprise.


Pak Nugraha selaku pelaksana segera menghampiri Indra dan mempersilahkan Indra untuk berdiri di tengah-tengah orang-orang yang hadir disana.


"Silahkan, Pak Indra. Bapak beri sambutan dan kita laksanakan gunting pita sekarang!" kata Pak Nugraha.


Indra mengangguk dan mulai memberikan sambutan. "Selamat pagi untuk semuanya yang telah hadir pagi ini di acara peletakan batu pertama untuk pembangunan cluster Perdana Enterprise yang akan segera saya bangun. Pertama-tama mari kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat kesehatan dan keselamatan yang kita rasakan sampai hari ini. Saya juga ingin berterima kasih kepada pihak-pihak yang terlibat di dalam proyek Perdana Enterprise terbaru ini, bla... bla... bla..."


Indra memberikan sambutan dengan penuh pesona sebagai seorang CEO muda yang sukses. Semua mata memandang kagum padanya, terkecuali Marisa yang merasa semua itu hanya kamuflase untuk menutupi kemunafikan dan keserakahan!


Bagi Marisa, Indra hanyalah seorang CEO arogan yang tidak punya hati sehingga berpikir bahwa semua yang dia inginkan bisa di beli dengan hartanya yang berlimpah termasuk kehormatan seorang gadis! Penampilan yang tampak berwibawa dan bermartabat tidak menjamin kalau kelakuan seseorang juga akan sama dengan penampilannya!


Usai memberikan sambutan, acara di lanjutkan dengan peletakan batu pertama yang di lakukan oleh Indra Perdana sendiri. Riuh tepuk tangan mengiringi Indra yang memasang batu pertama di proyek perumahan itu.


Selanjutnya acara di lanjutkan dengan acara makan-makan yang bernuansa Sunda. Semua hidangan menggiurkan untuk di santap tapi Marisa merasa memakan duri!

__ADS_1


Marisa menyelesaikan makan nya cepat-cepat dan memutuskan untuk pergi dari lokasi tersebut dan mencari terminal bus untuk ke Jakarta.


Marisa diam-diam pergi ke jalan dan menunggu ada ojek lewat karena disana belum ada transportasi umum. Tanpa Marisa sadari ada seseorang yang memperhatikan dan segera menyusulnya dengan mobil.


__ADS_2