
Marisa merasakan dadanya berdebar saat matanya bertemu dengan mata Indra. Ada rasa aneh menggelayuti dadanya. Rasa yang sebenarnya ada sejak awal-awal dia bertemu dengan Indra tapi berusaha di hindari karena semua sikap buruk Indra.
Indra sendiri tidak bisa menyembunyikan kekagumannya melihat bagaimana cantiknya Marisa dengan pakaian tertutup. Gadis itu terlihat begitu anggun dan religius. Indra merasa tidak berdaya dan merasa bukan siapa-siapa di hadapan Marisa yang seperti itu. Baru kali ini sepanjang hidupnya, Indra merasa bukan apa-apa.
"Cantik sekali... Ya Tuhan... Andai aku bisa memilikinya... Sialan! Saya mulai tidak waras lagi sekarang!" rutuk Indra dalam hatinya.
"Bagus kalau kamu bisa ikut, Dra. Kalau begitu kita berangkat sekarang" kata Mama membuyarkan suasana yang hening sesaat.
"Kamu mau bawa mobil, Dra?" tanya Andro.
"Ya, kamu ikut saja dengan saya" kata Indra.
"Ya sudah, Andro ikut mobil Indra. Marisa ikut mobil Mama, ya?" kata Mama.
"Iya, Ma" kata Marisa.
Berangkatlah mereka ke panti asuhan dengan menaiki dua mobil. Mobil Mama dan mobil Indra.
Dalam perjalanan, Andro sempat mengajak Indra bicara. "Kamu tadi ngeliatin Marisa, Dra?"
Indra mendengus. "Ah! Tidak! Mau apa saya memperhatikan dia?!" sangkal Indra.
"Tapi kamu melihat kan, bagaimana penampilan Marisa barusan? Dia cantik sekali! Dia tidak memalukan untuk dibawa dalam acara keluarga kita, bukan?"
"Ya..."
"Kamu sudah salah dalam menilai Marisa, bukan? Marisa bisa jadi wanita yang di banggakan!"
"Ya..."
"Kamu mau merestui hubungan saya dengan Marisa, kan Dra? Saya mohon kamu jangan membencinya lagi"
"Yayaya! Saya tidak akan menghalangi hubungan kamu dengan Marisa lagi! Toh kalau saya larang pun kamu akan tetap mempertahankan dia, bukan? Sudahlah, Andro! Kamu sudah dewasa dan bebas memilih pasangan hidup untuk dirimu sendiri!"
__ADS_1
Andro tersenyum, "Makasih, Dra. Saya akan buktikan pada kamu dan Mama kalau Marisa adalah gadis yang baik dan bisa jadi bagian dari keluarga kita!"
Indra menghela nafas. Hatinya membatin, "Kamu tidak perlu membuktikan apa-apa lagi, Dro. Saya juga tahu, Marisa gadis baik! Karena itulah saya perlahan mulai menyadari kalau saya juga menyukainya... Kalau dia tidak baik, pasti saat ini saya sudah bisa membawanya ke tempat tidur!"
"Oh ya, Dra. Kamu tahu bagaimana perasaan saya saat tadi melihat Marisa saat menjemputnya? Luar biasa! Saya tidak bisa untuk tidak memuji kecantikannya! Dia benar-benar terlihat sangat cantik dan anggun dengan pakaian tertutup seperti itu!" kata Andro lagi.
"Hm" Indra menanggapi singkat dengan berdehem.
"Sesuatu yang terbungkus memang lebih mahal, bukan?"
"Hm" Indra malah berdehem lagi.
"Kamu ini, Dra! Hm hm terus!" Andro merenggut.
"Lalu saya mau bilang apa? Saya bilang dia jelek juga tidak akan bisa merubah pandangan kamu yang sedang jatuh cinta padanya!" kata Indra kesal.
"Kamu benar, Dra! Saya memang sedang jatuh cinta pada Marisa! Saya ingin segera mengikatnya seperti kamu mengikat Sofie dengan tali pertunangan!"
"Ya sudah, segera saja kamu laksanakan!"
"Saya sedang sibuk sekarang ini!"
"Nanti kalau kamu sudah senggang ya?!"
"Ya..." Indra menjadi lemas. Apa sanggup Indra mengantarkan adiknya melamar Marisa kalau saat ini saja Indra mulai tidak bisa lagi membohongi dirinya sendiri kalau dia sebenarnya sudah jatuh cinta juga pada Marisa!
saya tidak bisa membayangkan kalau saya akan mengantar kamu meminang gadis yang juga saya inginkan, Dro...
Kenapa saya terlambat untuk menyadari kalau Marisa adalah seorang gadis yang begitu sempurna?
Kenapa kamu lebih peka untuk melihat sisi kelebihannya?
Seharian itu Indra dibuat terpana oleh Marisa.
__ADS_1
Bagaimana gadis itu berbaur dengan para anak panti dan bermain bersama mereka. Marisa terlihat sangat keibuan dan bisa mengerti bagaimana cara membuat anak-anak panti itu tertawa bahagia.
Bagaimana Marisa berbicara pada para pengurus panti asuhan dengan bahasa yang lugas dan jelas karena Mama meminta Marisa yang memberikan sambutan pada acara tersebut.
Juga bagaimana Marisa dengan fasih nya membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an saat ikut mengaji bersama para penghuni panti. Dengan wajah yang tertunduk menatap Al-Qur'an di pangkuannya, juga dengan bibir tipis yang bergetar saat melafazkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Marisa terlihat sangat mahal dan istimewa! Andro benar! Marisa adalah seorang gadis yang bisa di banggakan! Gadis yang tidak hanya cantik secara lahiriah tapi juga secara akidah.
Lalu apa yang telah Indra lakukan selama ini?! Membuat Marisa kesal, lelah, jengkel, menangis dan bahkan Indra sudah beberapa kali melecehkan Marisa!
Marisa yang tidak pernah melawan setiap kata-kata Indra yang selalu penuh dengan hinaan dan celaan!
Marisa yang selalu mengalah dan bertanya dengan mata yang berkaca-kaca, "Saya salah apa?"
Marisa yang hanya melawan jika harga dirinya sebagai wanita di lecehkan. Tapi dengan begitu tulusnya Marisa yang selalu mencoba bersikap baik lagi kepada Indra.
Acara pun di lanjutkan dengan pembacaan surat Yasin. Tak terasa mata Indra menjadi basah... Di iringi lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an yang sedang dibaca saat acara berlangsung, Indra merasa tidak berdaya...
Ya Allah... Berapa lama aku tidak membaca ayat-ayat Al-Qur'an...?
Berapa lama aku tidak menyebut nama Mu...?
Berapa lama juga aku tidak pernah mendirikan shalat...?
Indra merasa sangat terhina saat itu. Diantara semua yang berada di tempat itu. Mama, Andro, Marisa, para pengurus panti dan juga anak-anak panti asuhan. Hanya Indra saja yang tidak bisa membaca surat Yasin.
Seorang Indra Perdana bisa saja orang yang paling terhormat di antara para pengusaha muda sukses yang ada di ibukota. Tapi di hadapan Allah, apakah masih seperti itu?! Mengirim doa untuk almarhum Papa saja, Indra tidak bisa?!
Disaat seperti inilah Indra sadar bahwa jika seseorang telah tiada, tidak ada yang bisa dibawa selain amal ibadah dan doa dari orang-orang yang mengasihi terutama anak yang shaleh.
Papa telah tiada dan meninggalkan harta yang begitu banyak dan juga tahta yang terhormat untuk Indra dan Andro, lalu apa yang bisa Indra perbuat untuk Papa? Apakah dengan memajukan perusahaan dan menjamin kehidupan yang mewah untuk Mama dan Andro saja sudah cukup?
Indra ingat masa-masa kecil dulu saat Papa masih ada. Papa seorang pengusaha sukses tapi tetap religius. Papa selalu mengajak Indra dan Andro untuk shalat berjamaah di rumah, pergi ke mesjid setiap shalat Jumat, ataupun tarawih di bulan Ramadhan.
__ADS_1
Lalu sejak kapan Indra meninggalkan semua itu...? Sajak kapan semuanya berubah?