
Melati mendumal dalam hatinya! "Dasar menyebalkan! Tadi saja jelalatan melihat belahan rok ku! Sekarang malah asyik video call dengan istrinya! Lihat saja nanti, Pak Indra Perdana! Ini baru awalan saja! Siasat utama yang aku sudah persiapkan akan segera menyusul! Kalau itu sudah terjadi, maka bisa aku pastikan kamu tidak akan mengingat lagi Bu Marisa!"
Melati mengerjakan tugasnya hari itu dengan perasaan kesal! Maka saat jam makan siang tiba, Melati segera pergi untuk mencari makan siang juga udara segar di luar agar bisa mendinginkan hatinya yang panas.
Saat makan siang itulah Melati tersadar kalau dia tidak berhak untuk cemburu kepada Marisa. Melati merasa konyol sendiri karena membiarkan dirinya larut dalam perasaan suka kepada Indra.
"Tidak! Aku tidak boleh cemburu kepada Bu Marisa! Aku tidak boleh jatuh cinta pada Pak Indra! Aku hanya boleh menyukai dan menikmati kebersamaan ku dengan Pak Indra! Aku tidak mau sakit hati nantinya! Aku harus fokus pada tujuan utama ku berada di Perdana Enterprise! Berusaha untuk menggoda Pak Indra agar dia jatuh kedalam perangkap ku!"
Melati pun segera menyelesaikan makan siangnya dan kembali ke kantor. Saat memasuki ruangan CEO, ternyata Indra belum ada disana. Melati segera menyusun strategi agar bisa melaksanakan niatnya untuk menggoda Indra.
Melati sengaja menunggu Indra di dekat lemari besar tempat penyimpanan berkas-berkas perusahaan. Saat pintu terdengar terbuka, Melati yakin sekali bahwa yang masuk adalah Indra. Melati pun segera pura-pura merunduk untuk mencari-cari berkas. Posisinya saat itu sangat merendah sehingga membuat Melati seolah sedang menungging membelakangi Indra.
Indra yang baru saja selesai makan siang bersama Andro di restoran seafood favorit mereka saat itu memasuki ruangan dan melihat bagaimana Melati seperti sedang menungging di depan lemari besar penyimpanan berkas. Belahan rok span panjang Melati terbuka lebar hingga sedikit memperlihatkan CD nya yang berwarna merah muda karena Melati memang sengaja tidak memakai celana short didalam rok nya itu.
Seketika itu juga Indra menghentikan langkahnya untuk melihat bagaimana seksinya tubuh bagi belakang Melati. Bokong Melati yang bulat walaupun tidak sebesar Marisa, paha jenjangnya yang berkulit gelap eksotis, dan CD nya yang terlihat sedikit. Posisi Melati seolah sedang menantang Indra untuk mendekati nya dari belakang. Senjata dalam celana Indra pun mau tak mau langsung bangkit dan tegang! Apalagi Indra sudah lama tidak menyentuh Marisa sejak kandungan Marisa menginjak usia sembilan bulan.
Indra dengan cepat menutup pintu ruangan CEO dan mendekati Melati yang masih dalam keadaan menungging. Dengan perlahan Indra melangkah hingga sampai di dekat Melati. Kini posisi Indra tepat ada di belakang tubuh Melati.
Indra tidak dapat menahan godaan dari tubuh Melati, maka dengan kurang ajar nya Indra mengulurkan tangannya untuk memegang bokong Melati dan meremasnya dengan gemas!
"Awh!!!" Melati menjerit seolah kaget dan langsung menjauhi Indra dengan wajah pucat dan nafas terengah-engah. Betapa sempurnanya akting Melati sehingga terlihat seolah dia kaget atas perlakuan Indra, padahal justru hal itulah yang Melati inginkan, yaitu saat Indra meremas bokongnya.
__ADS_1
"Pak Indra! Astaghfirullah! Pak Indra maunapa?! Jangan kurang ajar ya, Pak! Atau saya teriak!" bentak Melati.
Indra malah tersenyum sinis. "Jangan munafik kamu! Kamu suka kan dengan remasan nya saya pada tubuh kamu?!" katanya.
Melati melotot, "Jangan asal bicara ya, Pak Indra! Saya wanita baik-baik! Jangan pernah menghina saya! Walaupun saya cuma bawahan Anda, tapi saya punya harga diri!"
"Oh ya? Kamu punya harga diri? Berapa harga diri kamu? Pasti tidak akan semahal gaji kamu selama setahun bekerja disini! Hahahaha! Melati, Melati! Saya sudah tahu betul wanita macam apa kamu ini! Sok suci padahal ingin sekali berkencan dengan saya!"
Melati tidak menjawab apa-apa melainkan segera kembali ke meja kerjanya dan menangis terisak-isak. Melati melipat kedua tangannya di atas meja dan menyusupkan wajahnya disana.
Indra mau tak mau merasa kasihan juga pada Melati. Bagaimana jika memang Melati bukan wanita murahan? Bagaimana jika Melati merasa shock atas perlakuan Indra dan jatuh sakit seperti Marisa dulu? Gawat juga!
"Dasar wanita cengeng! Di pegang sedikit saja langsung menangis! Bagaimana cara ada yang masuk kedalam ruangan ini dan melihat Melati menangis?! Merepotkan saja! Apalagi kalau sampai Andro yang datang! Bisa-bisa dia heboh dan menceritakannya kepada Marisa!" batin Indra khawatir.
Melati tidak berhenti menangis.
Indra menghela nafas berat dan duduk di atas meja kerja Melati. Di belai nya rambut Melati untuk menenangkan gadis itu. "Melati, kamu dengarkan saya! Saya minta maaf atas perbuatan dan ucapan saya tadi"
Perlahan Melati mulai menghentikan tangisannya tapi wajahnya masih menyusup di antara kedua tangannya yang terlipat di atas meja.
Indra kini menepuk pundak Melati. "Sudah ya? Jangan menangis lagi. Saya berjanji tidak akan mengulangi kata-kata saya yang menyakiti hati kamu. Saya tahu kamu wanita baik-baik"
__ADS_1
Perlahan Melati mengangkat wajahnya sehingga terlihat bagaimana mata nya sembab dan pipinya yang basah dengan air mata.
Hati Indra terasa bergetar. Ada rasa kasihan kepada Melati. Indra teringat bagaimana dulu Marisa yang kerap menangis saat mendapatkan perlakuan kasar darinya.
Indra mengulurkan tangannya untuk menyeka air mata Melati. "Sudah ya, saya minta maaf" katanya.
"Iya, Pak. Saya memaafkan Bapak walaupun sebenarnya hati saya sangat sakit sekali! Semua ini saya lakukan karena saya sangat mencintai Bapak..." kata Melati manis sekali. Padahal dalam hatinya dia cekikikan.
"Saya sudah punya istri, Melati" kata Indra.
"Lalu kenapa tadi Anda meremas bokong saya? Saya tidak mau Anda hanya jadikan pelampiasan! Jangan pernah lagi menyentuh tubuh saya, Pak Indra!" kata Melati dengan nada suara yangsedih.
"Iya, Oke. Saya tidak akan berbuat nakal lagi kepada kamu"
"Bapak mungkin bisa mendapatkan wanita manapun yang Bapak mau, tapi saya bukan wanita seperti itu! Saya tidak mau merusak kebahagiaan pernikahan Bapak dengan Bu Marisa"
"Iya Melati. Saya juga tidak akan mungkin mengkhianati keluarga saya. Tadi saya khilaf karena melihat kamu seolah menunggingkan bokong kamu di depan saya"
Seketika itu juga wajah Melati bersemu merah!
"Maaf, Pak Indra. Saya tidak sengaja. Saya tidak tahu kalau Anda sudah memasuki ruangan ini. Saya tadi sedang mencari berkas"
__ADS_1
Melati bicara seraya menundukkan kepalanya seolah-olah dia adalah wanita lugu. Melati berpura-pura polos di hadapan Indra.