My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 66 : Bertemu Kembali Dengan Henry Adiputra


__ADS_3

Indra Perdana mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Saat itu dia sedang dalam perjalanan menuju ke Sentul untuk mengikuti acara main golf yang di gelar komunitas antar para pengusaha muda sukses.


Indra merasa senang sekali bisa mengajak Marisa pergi. Sebaliknya Marisa merasa was-was kalau Indra akan berbuat jahat lagi seperti waktu di Sumedang dulu.


"Awas saja kalau tiba-tiba Pak Indra berbuat kurang ajar seperti waktu itu! Aku akan langsung menceritakan semuanya pada Pak Andro!" batin Marisa.


Seperti bisa mengetahui apa yang sedang dirasakan Marisa, Indra tiba-tiba berkata. "Saya tidak akan mengajak kamu menginap di Sentul. Kita segera pulang kalau acaranya sudah selesai"


"Iya, Pak. Mudah-mudahan tidak hujan" kata Marisa yang hari itu berpakaian casual, dengan baju kaos lengan pendek, celana jeans panjang dan rambut yang di ekor kuda yang di masukan kedalam celah di belakang topinya.


Indra diam-diam merasa kagum pada Marisa. Mau pakai gaya apapun, casual, kantoran, bergaun. gadis itu tetap enak di pandang mata.


"Kamu sudah bilang dan meminta izin pada Andro kalau hari ini akan menemani saya ke Sentul?" tanya Indra.


"Sudah" jawab Marisa walaupun didalam hatinya merasa heran, sejak kapan Indra perduli apakah Marisa sudah memberi tahu ataupun meminta izin pada Andro jika akan pergi bersama Indra.


Hanya itu saja, selebihnya tidak ada percakapan yang penting antara Indra dan Marisa selama dalam perjalanan. Hingga akhirnya mereka tiba di Sentul dan bertemu dengan para klien Indra yang tergabung dalam komunitas pengusaha muda sukses untuk bermain golf bersama.


Marisa tidak terlalu suka dengan permainan golf. Baginya permainan golf adalah permainan konyol, hanya cocok untuk para bapak-bapak yang kurang kerjaan. Tapi sebaliknya Indra tampak semangat dan menikmati permainan itu.


Marisa memilih duduk santai di kursi panjang yang di sediakan di sisi lapangan golf untuk para penonton. Suasana dan pemandangan di Sentul saat itu sangat indah dan sejuk. Walaupun cuaca cerah tapi tidak terasa panasnya, apalagi ada payung besar yang menaungi setiap kursi panjang yang ada disana.


Marisa mengambil HP nya dan membuat satu video story untuk memperlihatkan bahwa dia sedang ada di Sentul, di sebuah area permainan golf yang tidak sembarangan orang bisa masuk kesana. Hanya pengusaha yang berkantong tebal bisa masuk area itu.


"Hai Marisa" tiba-tiba Marisa di kejutkan oleh satu suara yang menyapanya. Marisa menghentikan kegiatannya membuat video story dan melihat siapa gerangan orang yang menyapanya.


"Pak Henry?" kata Marisa begitu melihat ternyata orang yang menyapanya adalah Henry Adiputra, orang dari pihak Bank yang pernah pulang bersamanya saat mereka di Sumedang beberapa waktu yang lalu. Saat Indra berbuat tidak senonoh dan Marisa terpaksa pergi lebih dulu dari Sumedang.


"Hai, kamu masih ingat dengan saya?" tanya Henry sambil mengulas senyum manis.


"Iya, saya masih ingat" jawab Marisa seraya membalas senyuman Henry.


"Kamu apa kabar? Saya beberapa coba DM kamu lewat Ig tapi tidak pernah kamu baca" Henry mengulurkan tangannya yang segera disambut oleh Marisa.


"Maaf, saya jarang main Ig sekarang. Kabar saya baik, Bapak sendiri bagaimana?"

__ADS_1


"Saya baik juga"


"Bapak ada acara disini?"


"Ya, menemani CEO saya main golf"


"Anda tidak ikut main?"


"Saya gak suka. Hehe. Oya, kamu masih bersama Indra Perdana? Maksud saya, kamu masih menjadi asisten pribadi Indra?"


"Ya, begitulah"


"Kamu menikmati permainan golf nya?"


"Saya juga tidak begitu suka! Kita memukul bola untuk memasukkannya kedalam lubang yang jauh sekali! Konyol!"


"Hahahaha! Kamu sependapat dengan saya! Nah, karena kamu tidak menikmati permainan golf disini, bagaimana kalau kamu ikut saya?!"


"Kemana?"


"Golf cart? Mobil besar yang terbuka itu, kan?"


"Iya!"


Marisa mengangguk semangat! "Baiklah! Saya mau!"


"Ya sudah, Ayi kita cari golf cart nya!" Henry berjalan beriringan bersama Marisa menuju tempat penyewaan golf cart yang ada disana dan kemudian mereka jalan-jalan di sekitar area lapangan disana.


Marisa senang sekali karena bisa naik mobil terbuka, menyusuri padang rumput hijau hingga ke pinggir danau. Malahan kadang Marisa berdiri dan berseru layaknya anak laki-laki!


Henry hanya tersenyum melihat kelakuan Marisa yang seperti itu.


"Wow! Seru banget naik mobil golf cart ini ya!" kata Marisa pada Henry saat mereka mengelilingi area sekitar danau.


"Kamu senang?"

__ADS_1


"Iya, saya senang sekali! Makasih!"


"Tapi sepertinya kita tidak bisa lama-lama. Sebenar lagi permainan golf itu akan selesai dan pasti CEO kita akan mencari kita"


"Iya betul! Kalau begitu kita kembali saja kesana!"


"Saya sebenarnya masih ingin bersama kamu, Marisa. Apakah saya bisa mengajak kamu bertemu lain kali? Kalau kita sudah berada di Jakarta?"


"Saya gak tahu, saya sibuk"


Raut wajah Henry tampak kecewa. "Saya tahu kamu tidak tertarik pada saya, Marisa. Kamu lebih tertarik pada Indra Perdana"


Marisa menggeleng, "Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Pak Indra. Selesai PKL di perusahaannya, saya tidak akan berkomunikasi lagi dengan dia"


"Kalau begitu, saya harus menunggu sampai kamu selesai PKL baru saya biasa mendekati kamu?"


Marisa mengangkat bahunya.


Tak lama kemudian Henry dan Marisa sampai di area lapangan golf dimana Indra dan para kliennya bermain. Rupanya permainan mereka telah selesai dan Indra tampak masih ada di pinggir lapangan dengan wajah kesal dan bertolak pinggang!


Henry mengembalikan golf cart yang di sewanya dan mengantar Marisa menghampiri Indra. Henry merasa tidak enak karena melihat wajah Indra yang menunjukkan kemarahan. Henry khawatir Marisa kena matahari karena meninggalkan lapangan golf tanpa izin Indra.


"Pak Indra, sudah selesai main golf nya?" tanya Marisa.


"Kamu bisa lihat sendiri! Saya sudah selesai dan sudah tidak ada lagi permainan golf disini!" jawab Indra dingin.


"Maaf, saya tadi pergi sebentar dengan Pak Henry. Kami naik golf cart dan mengelilingi area sekitar sini" kata Marisa.


Indra mendengus kesal. "Jadi kamu pergi lagi bersama orang ini! Orang yang dulu pernah membawa kamu pergi dari saya sewaktu di Sumedang?!" lalu Indra mengalihkan pandangannya pada Henry. "Anda tidak ada jera nya mengganggu Marisa! Rupanya kamu memang ingin mencari masalah dengan saya!"


"Maaf, Pak Indra. Saya bukannya mau membawa Marisa pergi dari Anda. Saya hanya membawa Marisa jalan-jalan sebentar karena dia terlihat bosan" kata Henry.


Indra meremas kerah baju Henry dengan keras! "Kamu tidak ada hak untuk membawa Marisa jalan-jalan, apalagi tanpa seizin saya!"


'Buk!' Indra meninju wajah Henry dengan keras hingga Henry terhuyung! Sekilas terlihat ada darah di sudut bibirnya!

__ADS_1


Marisa memekik histeris!


__ADS_2