
Mama Renata tidak bisa lagi menahan emosinya kepada Andro sampai dia tega menampar wajah putra bungsunya itu. Bagi Mama Renata, sikap Andro sudah keterlaluan karena sudah berani menyatakan bahwa dia akan pergi dari kediaman keluarga Perdana tapi dengan membawa Marisa dan Baby Syailendra pergi!
"Mama sudah begitu tega memukul saya? Mama sudah tidak mengasihi saya lagi sebagai anak Mama? Begitu besarnya rasa kasih Mama kepada Indra sehingga Mama tega ingin menyingkirkan saya dari rumah ini?" tanya Andro sedih.
"Mama tidak punya pilihan lain!" kata Mama Renata. "Kamu sudah gila, Andro?! Kamu ingin membawa Marisa dan anaknya pergi dari sini bersama kamu?!! Kamu waras atau tidak? Mereka milik Indra! Kamu juga sudah merelakan Marisa untuk menikah dengan Indra dua tahun lalu! Lalu kenapa sekarang setelah mereka memiliki anak, kamu jadi macam-macam?!"
"Saya tidak macam-macam, Mam! Selama Marisa baik-baik saja bersama Baby Syailendra, saya tidak akan pernah ikut campur. Tapi kalau Marisa sampai terluka karena perbuatan Indra, saya tidak akan tinggal diam!" kata Andro.
"Kenapa Marisa sampai terluka karena perbuatan Indra?! Kamu mulai berburuk sangka pada kakak kamu sendiri?! Indra tidak mungkin menyakiti Marisa! Indra memiliki hati yang baik dan budi yang luhur!"
Marisa yang sudah tidak sanggup lagi melihat perdebatan antara ibu dan anaknya itu segera menengahinya. "Sudahlah, Mama! Aku tidak mau kita berdebat karena masalah ini! Aku minta maaf kalau aku seolah sudah memberikan celah kepada Andro untuk dekat denganku! Aku berjanji mulai sekarang tidak akan dekat-dekat dengan Andro lagi!" kata Marisa.
"Bagus, Marisa!! Mama pegang omongan kamu, Marisa!" kata Mama tegas!
"Kalau begitu saya juga akan pergi dari rumah ini sesuai dengan keinginan Mama!" kata Andro.
"Ya, pergi saja sana! Jernihkan pikiran dan hati kamu agar tidak terus terobsesi kepada istri kakak kamu sendiri!" bentak Mama pada Andro!
Andro sampai mengigit bibirnya sendiri kuat-kuat karena menahan rasa sedihnya karena selama ini Mama belum pernah memintanya untuk pergi meninggalkan rumah. Rumah dimana Andro tumbuh sejak kecil sebagai seorang putra bungsu yang di sayangi.
"Baiklah, Mam. Saya akan segera membereskan barang-barang saya dan angkat kaki dari rumah ini!" Andro menatap Marisa. "Kamu mau ikut dengan saya, Marisa?"
Mata Mama sampai membelalak karena tidak menyangka kalau Andro akan benar-benar pergi dan mengajak Marisa!
__ADS_1
Marisa menggeleng. "Tidak, Andro. Tempatku adalah disini bersama Baby Syailendra" kata Marisa.
"Nah, kamu dengar sendiri kan, Andro! Marisa masih punya harga diri untuk tidak ikut bersama kamu! Kalaupun Marisa mau ikut dengan kamu, Baby Syailendra tidak boleh ikut dan Mama bisa pastikan kalau Marisa tidak akan pernah bisa melihat Baby Syailendra lagi!"
"Mama, mana bisa Mama melarang Marisa untuk melihat ataupun membawa anaknya?!" hardik Andro!
"Tentu saja bisa! Baby Syailendra adalah anak Indra dan cucu Mama! Dia adalah keturunan termuda keluarga Perdana! Mama sebagai kepala keluarga dan orang tertua di rumah inilah yang memiliki hak penuh atas Baby Syailendra!"
"Astaghfirullah, Mama! Saya tidak mengerti dengan jalan pikiran Mama!" kata Andro kesal!
"Sudah, Andro! Sudah! Lagipula aku tidak akan ikut dengan kamu" kata Marisa dan segera pergi dari ruangan itu untuk mencari anaknya.
Marisa benar-benar merasa terpuruk saat ini... Suami yang sangat dicintainya ternyata telah mengkhianatinya, mertua yang berpikiran buruk dan tidak memihak kepadanya, juga Andro yang begitu baik tapi akan segera pergi dari kediaman mereka.
Sementara itu Andro segera membereskan barang-barangnya yang penting dan memasukkannya kedalam koper. Saat Andro turun dari lantai atas, Mama Renata ternyata masih berada di ruang tamu dengan wajah masam dan bibir cemberut!
"Kamu boleh segera pulang ke rumah ini setelah kamu bisa melupakan Marisa!" kata Mama dingin.
"Saya tidak akan pernah bisa melupakan Marisa, Mam. Tapi saya juga tidak berniat sedikitpun untuk merebutnya dari tangan Indra. Kalau saya mau, sudah dari awal saya mempertahankan Marisa dan bersaing dengan Indra. Tapi saya tahu diri, Marisa mencintai Indra dan tidak mungkin mau bersama saya"
"Kalau begitu kenapa kamu selalu saja mendekati Marisa?!"
"Itu terjadi hanya disaat Marisa membutuhkan bantuan saya, Mam. Kalau Indra ada selalu disaat Marisa membutuhkannya, pasti saya juga tidak akan ada bersama Marisa!"
__ADS_1
"Sudahlah! Kamu memang pandai bersilat lidah, Andro! Kamu dan Marisa sama saja! Kalian selalu saja membuat Mama kesal! Kalian tidak pernah berpikir bagaimana perasaan Indra jika mengetahui kalau kalian kerap bersama tanpa sepengetahuannya! Kamu sama saja menginjak kepala kakak kandung kamu sendiri, Andro!
Atau apakah Marisa yang selalu mencoba untuk mendekati kamu?! Marisa suka menggoda kamu, iya?! Jangan sampai Mama menyesal karena telah merestui Marisa sebagai istri Indra, karena seharusnya kamu ataupun Indra bisa mendapatkan yang lebih baik dari Marisa! Kalau saja seandainya Sofie tidak meninggal..."
"Cukup, Mam! Saya tidak mau lagi mendengar kata-kata Mama yang menjelek-jelekkan Marisa! Saya pergi sekarang"
"Kamu mau pergi kemana? Apakah kamu akan kembali ke Italia?"
"Saya akan memulai usaha saya sendiri, Mam. Saya tidak akan lagi berlindung di dibawah nama Perdana Enterprise"
"Maksud kamu?!"
"Bukankah Mama selalu berkata kalau Indra yang berjuang memajukan perusahaan?! Indra yang membanting tulang untuk kehidupan keluarga kita?! Indra yang menguras tenaga dan pikirannya untuk masa depan kita?! Saya sama sekali tidak ada artinya untuk Perdana Enterprise!
Saya sudah bosan selama ini selalu mengalah, Mam! Selalu mendengarkan semua pembelaan Mama terhadap Indra seolah saya ini tidak ada gunanya sama sekali! Saya kadang berpikir apakah saya juga anak Mama? Ataukah sesungguhnya saya hanya merupakan seorang anak angkat dalam keluarga ini?!
Maka dari itu saya sekarang memutuskan untuk pergi dari rumah ini dan juga Perdana Enterprise. Saya akan memulai hidup baru tanpa sedikitpun embel-embel Perdana Enterprise!" tutur Andro yang memang selama ini selalu merasa tertekan dengan keadaan keluarganya. Akhirnya saat ini Andro bisa menuturkan semua keluh kesah hatinya.
"Andro! Kamu mau kemana?! Kamu benar-benar ingin memutuskan hubungan dengan Mama dan Indra?!" Mama marah sekali!
"Tidak, Mam. Selamanya saya kalian adalah keluarga saya. Tapi untuk saat ini saya hanya ingin hidup mandiri tanpa campur tangan Indra"
Andro mencium tangan Mama dan melangkah keluar rumah untuk kemudian menuju mobilnya yang terparkir didepan rumah.
__ADS_1
Andro masuk kedalam mobilnya yang melaju perlahan meninggalkan pelataran kediaman keluarga Perdana.
"Selamat tinggal, Marisa. Kamu yang kuat disana. Sebentar lagi saya pasti akan kembali untuk menyelamatkan kamu juga Baby Syailendra dari belenggu keluarga yang mengungkung kalian..." batin Andro.