
Metting hari itu ditutup dengan makan malam bersama di sebuah restoran sederhana yang berada di ujung desa Neglasari dan di ikuti seluruh orang yang terlibat dalam pembangunan perumahan Perdana Enterprise.
Kali ini Marisa makan dengan sikap yang anggun dan beretika. Bahkan Henry Adiputra terus menatap Marisa dengan sorot mata yang tidak bisa menyembunyikan ketertarikannya.
Beberapa kali Marisa dan Henry bertemu pandang dan saling melemparkan senyuman. Membuat Indra menjadi kesal sendiri dan malah berpikir ada baiknya kalau saat ini Marisa makan dengan cara kampungan seperti siang tadi!
Selesai makan malam itu, semuanya pun berpisah dan kembali ke kediaman masing-masing, kecuali Henry yang memang berasal dari Jakarta. Pria itu masih duduk-duduk santai sambil mengopi bersama Indra. Sementara Marisa sedang pergi ke mushola untuk menunaikan shalat.
Indra yang memang tidak suka dari awal pertemuan sore tadi dengan Henry memutuskan untuk segera pergi dari restoran itu bersama Marisa. Maka Indra segera berpamitan pada Henry.
"Maaf Pak Henry, saya dan Marisa akan segera pergi dari sini. Kami akan kembali ke penginapan. Apakah Bapak masih mau berada di restoran ini?" tanya Indra.
"Saya juga akan segera berangkat ke penginapan dekat sini." jawab Henry.
"Kita akan bertemu lagi besok di lokasi pada acara peletakan batu pertama jam 8 pagi."
"Baik, Pak Indra. Saya akan datang tepat waktu!"
"Terima kasih atas kerjasamanya, Pak Henry!"
"Sama-sama Pak Indra. Oh ya, apakah saya boleh bertanya?"
"Boleh, ada apa?"
"Mengenai asisten pribadi Anda, Marisa, apakah dia singel?"
Kening Indra berkerut sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Henry, "Iya, dia masih lajang."
"Apakah Anda bisa membuat saya berkenalan lebih dekat dengan Marisa? Terus terang saya sangat tertarik pada Marisa! Kalau Bapak mau membantu saya, saya akan permudah kerjasama perusahaan Anda dengan pihak Bank yang saya tangani. Bapak bisa langsung menerima kerjasama jangka panjang dan tidak akan menanggung bunga yang tinggi."
Indra menggeram kesal! Bagaimana mungkin Henry ingin mendekati Marisa dan menjanjikan kemudahan kerjasama Perdana Enterprise dengan pihak Bank?! Gila! Ini sama saja dengan menjual Marisa! Tidak! Indra tidak akan melepaskan Marisa hanya dengan iming-iming kemudahan kerjasama seperti ini! Marisa milik Indra dan hanya akan menjadi miliknya!
"Maaf, Pak Henry! Saya tidak tertarik pada tawaran Anda! Marisa bukan barang yang bisa di tukar dengan cara seperti itu! Saya tidak suka bermain bisnis dengan cara kotor! Saya akan membatalkan kerjasama dengan pihak Bank yang Anda tangani dan akan mencari Bank lain untuk menjadi partner bisnis saya!" kata Indra tegas.
Wajah Henry seketika itu juga berubah! Bagaimana bisa seperti itu?! Kalau Indra membatalkan kerjasama dengan pihak Bank yang Henry tangani itu artinya Henry kehilangan tender besar dan akan mendapat sanksi dari atasannya!
__ADS_1
"Maaf, Pak Indra. Saya tidak memaksa kalau Anda tidak mau memperkenalkan saya dengan Marisa. Soal kerjasama perusahaan Anda dengan pihak Bank tidak perlu sampai di batalkan. Saya minta lupakan saja perkataan saya tentang Marisa tadi. Saya minta maaf kalau sampai Anda merasa tersinggung." kata Henry dengan nada menyesal.
Indra tersenyum sinis. "Anda memang sudah menyinggung perasaan saya! Saya dan Marisa bukan hanya sekedar atasan dan asisten pribadi! Marisa juga adalah kekasih saya!" kata Indra berbohong dengan mengatakan kalau Marisa adalah kekasihnya.
Henry bertambah terkejut! "Maaf, Pak Indra! Saya sangat menyesal. Tolong lupakan dan jangan bawa masalah ini ke dalam bisnis kita,"
"Lho, bukankah Anda yang awalnya ingin mencampur adukkan bisnis kita dengan urusan pribadi?! Anda yang menawarkan kemudahan kerjasama dengan meminta saya mendekatkan Anda dengan Marisa?!"
"Sekali lagi saya minta maaf, Pak Indra!"
"Jangan pernah berani main-main dengan saya, Pak Henry! Kalau saya mau, saya bisa saja memberikan rekomendasi buruk tentang Anda pada pihak Bank dimana Anda bekerja! Saya juga bisa dengan mudah mencari Bank lain untuk menjadi partner bisnis saya!"
Henry tidak bisa menjawab lagi. Untungnya saat itu Marisa muncul dan menghampiri meja dimana Indra dan Henry mengopi bersama.
"Sudah selesai shalatnya, sayang?" tanya Indra mesra.
Marisa jadi melongo. "Apa, Pak?"
"Sudah selesai shalatnya?" ulang Indra.
"Kalau begitu kita kembali sekarang ke penginapan."
"Oke, Pak."
Indra pun melirik pada Henry. "Mari, Pak Henry? Saya duluan."
"Mari, Pak Indra." balas Henry.
Marisa tersenyum pada Henry. "Mari, Pak?"
"Mari." Henry balas tersenyum.
Indra merangkul pinggang Marisa saat mereka jalan beriringan. Marisa sempat menjauh karena terkejut, tapi Indra merangkul pinggangnya lebih erat dan melotot pada Marisa. Marisa yang tidak mengerti maksud Indra terpaksa membiarkan pinggangnya di rangkul.
Sampai di mobil, barulah Indra menjelaskan maksud nya merangkul pinggang Marisa. "Maaf tadi saya merangkul pinggang kamu. Henry Adiputra, orang dari pihak Bank yang akan bekerjasama dengan perusahaan kita itu meminta saya untuk menukar kamu dengan kemudahan kerjasama Perdana Enterprise dengan Bank tempat dia bekerja!"
__ADS_1
Wajah Marisa memucat. "Menukar saya dengan bisnis?!"
"Iya! Dia menginginkan kamu!"
"Ya Allah..!"
"Bisnis itu sama kotornya dengan politik, Marisa!"
"Keterlaluan! Dia pikir saya ini wanita macam apa?! Padahal dari penampilannya terlihat seperti orang yang berwibawa dan bermartabat!"
"Makanya saya terpaksa bilang kalau kamu adalah kekasih saya! Agar dia tidak berani macam-macam lagi!"
"Terima kasih, Pak Indra!"
"Tidak usah berlebihan! Saya hanya melindungi kamu karena kamu adalah bawahan saya! Bukannya saya memiliki perasaan atau ada perhatian pada kamu!"
"Saya tahu! Tapi saya tetap berterima kasih. Kalau Bapak tadi menyetujui kemauan Pak Henry, bagaimana saya akan melindungi diri saya sendiri?"
"Kamu tidak usah khawatir! Kamu aman bersama saya!"
"Iya Pak, saya percaya!"
"Kamu percaya pada saya?"
"Tentu saja! Saya percaya pada Bapak kalau Bapak akan melindungi saya selama kita di Sumedang ini. Saya di beritahu oleh Pak Andro kalau Anda adalah seorang kepala keluarga yang sangat bertanggung jawab pada keluarga dan lebih mementingkan kepentingan keluarga daripada kepentingan pribadi. Terutama setelah kepergian almarhum Papa kalian."
"Andro lagi!" Indra malah merutuk pelan.
"Apa Pak?" Marisa tidak mendengar suara rutukan Indra.
"Kita kembali ke penginapan sekarang!" Indra tidak mau memperpanjang pembicaraan lagi dan segera menjalankan mobilnya ke villa keluarga milik Pak Mahmud yang akan di pakai untuk menginap malam itu bersama Marisa.
Mobil Indra sampai di villa keluarga Pak Mahmud saat hujan gerimis mulai turun di langit malam desa Neglasari.
Pak penjaga villa berlarian membukakan pintu pagar agar mobil Indra bisa masuk dan istrinya membawakan payung untuk Marisa. "Ayo segera masuk Non, cuacanya dingin sekali! Bibi sudah siapkan teh hijau hangat dan kue-kue." katanya pada Marisa.
__ADS_1