
Lalu, kenapa Fero bisa ada di rumah Mbak Niki malam itu?
Sabtu sore itu Mbak Niki sedang berada di pasar belakang kompleks kos-an untuk membeli sayur-sayuran. Biasanya sayuran pada sore hari masih segar-segar karena baru datang dari tengkulak.
Saat itu Mbak Niki sedang berjalan santai sambil menenteng keranjang belanjaan nya yang serupa dengan keranjang-keranjang merah mini yang ada di supermarket. Mbak Niki berjalan sambil mendendangkan lagu dangdut kesukaannya.
Tiba-tiba dari arah belakang melaju kencang sebuah motor dengan suara knalpot racing yang memekakkan telinga! Mbak Niki terkejut dan mencoba menyisi, tapi terlambat! Motor itu menyerempet Mbak Niki hingga ia jatuh terguling-guling di pinggir jalan dengan sayuran yang tumpah berantakan!
'Jebret!!!'
"Whua!!!" Mbak Niki berteriak keras merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya yang bersinggungan dengan aspal jalanan!
Motor yang menyerempet Mbak Niki bukannya berhenti tapi malah melaju lebih kencang meninggalkan Mbak Niki yang tergeletak di jalan!
"Whoi!!! Sialan lu, ya! Orang jalan lu serempet! Gua sumpahin kecelakaan lu!!!" teriak Mbak Niki.
Beberapa orang yang melihat kejadian itu segera menolong Mbak Niki agar duduk di pinggir trotoar. Mbak Niki meringis sambil memijat kakinya yang bengkak dan lebam.
"Ada yang sakit, Mbak?" tanya seorang pria.
"Pake nanya lagi! Ya jelas sakit lah! Keserempet motor ngebut! Mana mungkin gak sakit?!" sentak Mbak Niki.
"Ya saya kan cuma nanya!" pria itu jadi kesal dan pergi meninggalkan kerumunan.
"Apa mau di bawa ke rumah sakit, Mbak?" tanya seorang ibu-ibu.
"Gak usah! Gua gak ada duit! Aduh... Mana puskesmas udah tutup!" keluh Mbak Niki.
"Atau ke tukang urut aja, Mbak?" kata seorang lagi.
"Iya juga, ya... Tukang urut yang deket dimana, ya?"
Saat itulah Fero datang dan menyeruak di antara kerumunan karena melihat Mbak Niki yang terduduk di pinggir trotoar. "Mbak Niki?" tegur Fero.
__ADS_1
Wajah Mbak Niki seketika berubah jadi bersemangat! "Fero! Ya Tuhan! Kamu hadir untuk menolongku?!"
Fero menatap pada orang-orang sekelilingnya. "Ini teman saya. Biar saya yang mengurusnya."
"Oh ya, sudah, syukur deh." kata seseorang, lalu kerumunan orang yang mengelilingi Mbak Niki pun membubarkan diri.
Fero berjongkok di depan Mbak Niki. "Mbak Niki kenapa?"
"Aku keserempet motor ngebut... Aduh sakit banget! Mana sayuran belanjaan ikut melayang! Tuh lihat! Semuanya berantakan! Tomat-tomat pada hancur! Mana lagi mahal!" keluh Mbak Niki sedih.
Fero melihat bagaimana sayur-sayuran belanjaan Mbak Niki yang berantakan dan tidak bisa diselamatkan lagi. Iba juga hati Fero. Pasti saat ini anak-anak Mbak Niki yang masih kecil sedang menunggu ibunya. Apalagi Mbak Niki seorang janda.
"Ya sudah, Mbak. Sayurannya buang saja," kata Fero.
"Buang aja! Terus gimana aku masak malam ini?! Anak-anak aku belum makan!"
"Kita beli saja di rumah makan Padang, ya?"
"Biar saya yang beliin makanannya! Sekalian saya yang antar Mbak ke tukang urut."
"Hah?" Mbak Niki ternganga tapi tampak berbunga-bunga. "Kamu mau beliin aku makanan dan anterin aku ke tukang urut?"
"Iya, yuk kita jalan pelan-pelan? Motor saya ada di parkiran," Fero membantu Mbak Niki berdiri.
Mbak Niki mempergunakan kesempatan dengan bergelayutan di bahu Fero dan sikap manja yang dibuat berlebihan.
"Aduh! Pelan-pelan jalannya, Fero! Kaki aku sakit banget!!" jerit Mbak Niki manja.
Akhirnya sore itu Fero mengantar Mbak Niki ke tukang urut, membelikannya makanan di rumah makan Padang dan mengantarkan Mbak Niki sampai di rumah menjelang Maghrib.
Awalnya Fero menolak untuk mampir tapi Mbak Niki memaksa dengan beralasan kalau dia masih membutuhkan Fero untuk mengantarkannya membeli susu untuk anaknya yang paling kecil di minimarket.
Mau tak mau Fero jadi tertahan lebih lama di rumah Mbak Niki hingga malam hari sampai Marisa pulang bersama Gery dan melihat ada motor Fero di depan rumah Mbak Niki.
__ADS_1
Fero juga sempat makan malam di rumah Mbak Niki dan anak-anaknya dengan makanan yang tadi dia beli di rumah makan Padang. Saat makan bersama itu Fero melihat anak-anak Mbak Niki yang masih kecil-kecil, berebutan makanan dengan riangnya.
Fero tahu kalau Mbak Niki janda tapi dia tidak tahu kenapa Mbak Niki berpisah dengan suaminya. Dan kini saat melihat sendiri bagaimana anak-anak Mbak Niki yang lucu-lucu mau tak mau hati Fero terenyuh.
Fero tiba-tiba suka pada anak-anak Mbak Niki. Mereka tampak bersih dan terawat. Tidak seperti anak-anak lainnya yang tinggal di lokasi itu yang kebanyakan kurus dan lusuh.
Ada satu sisi baik dari diri Mbak Niki yang Fero lihat malam itu. Ternyata di balik sikap julid dan nyinyir nya, Mbak Niki merupakan seorang ibu yang baik dan hangat. Dan lagi wajah Mbak Niki juga sebenarnya manis walau tidak secantik Marisa.
Menjelang pukul delapan malam, barulah Fero pamit pulang dan melihat Marisa ada di depan kos-an nya bersama Gery. Marisa tampak menatap sedih pada Fero yang baru keluar dari rumah Mbak Niki.
"Marisa!" gumam Fero. Dadanya berdebar keras! Bagaimanapun Fero belum bisa melupakan Marisa dan kini keduanya bertemu kembali.
"Marisa udah jadian sama Bos nya, Pak Indra Perdana yang ganteng!" kata Mbak Niki yang ada di sebelah Fero.
"Mbak tahu?" tanya Fero.
"Iyalah! Kan Minggu kemarin Pak Indra kesini!" kata Mbak Niki yang salah paham mengira kalau Andro yang mengunjungi Marisa adalah Indra. "Malahan besoknya Marisa di ajak ke luar kota! Nginep dua hari! Gak tahu ngapain aja tuh Marisa ama si CEO ganteng!" kejulidan Mbak Niki malah timbul kembali!
Fero mendengus kesal! Tidak ada salahnya kalau dia memutuskan Marisa! Buktinya Marisa langsung membawa Bos nya itu ke kos-an nya!
Fero tidak perduli bagaimana Marisa menatapnya dengan tatapan yang sedih. Malahan dengan niat memanas-manasi Marisa, Fero merangkul pinggang Mbak Niki dengan mesra sebelum pamit pulang.
"Ya sudah, aku pulang dulu. Cepat sembuh, ya? Lain kali hati-hati," kata Fero pada Mbak Niki dengan suara dikeraskan agar Marisa mendengar.
"Iya, sayang! Makasih ya, untuk semuanya. Kamu juga hati-hati di jalan." kata Mbak Niki.
Fero pun pergi dengan motornya dan sengaja menggerung-gerung knalpotnya tepat di depan rumah Marisa. Marisa sampai terlonjak saking terkejutnya
"Woi!!! Songong lu Fer!!!" teriak Gery.
"Udah aja, Ger!" kata Marisa.
Di rumahnya, Mbak Niki menatap Marisa penuh rasa kemenangan. Benar-benar kecelakaan yang membawa berkah untuk Mbak Niki!
__ADS_1