
Andro sampai dirumahnya yang megah dan terletak di kawasan perumahan elite di Jakarta. Dengan dua belas asisten rumah tangga dan tukang kebun serta empat orang satpam. Rumah keluarga Perdana sudah layaknya disebut sebagai istana.
Sayangnya di rumah sebesar itu hanya dihuni oleh tiga orang keluarga inti. Andro Perdana, Mama nya yang bernama Renata Hartati, serta Indra Perdana sang kakak sulung.
Sudah lama sejak kepergian Papa mereka enam tahun lalu, Mama meminta Indra segera menikah agar bisa secepatnya memiliki keturunan dan meramaikan suasana rumah yang sepi itu.
Malahan sang Mama sampai mencarikan Indra seorang gadis untuk menjadi calon istrinya yang tak lain adalah Sofie yang kini sudah menjadi tunangan Indra. Tapi sampai saat ini Indra masih betah dengan status lajangnya.
"Mama sudah tua, Ndra! Mama ingin segera memiliki cucu agar tidak lagi kesepian di rumah ini dan bisa merasakan kebahagiaan menimang cucu. Kapan kamu menikahi Sofie? Kalian sudah lama bertunangan, kan?" itu yang selalu ditanyakan Mama pada Indra.
Tapi seperti biasa, Indra hanya bisa berkelit dengan banyak alasan. Malahan dengan nada berseloroh Indra malah meminta Andro yang lebih dulu menikah.
"Ma, aku tuh sibuk banget! Gak ada waktu untuk memikirkan masalah pernikahan! Gimana kalau Andro aja yang duluan nikah dan punya anak?!" kelit Indra.
"Mana bisa begitu, Ndra?! Andro kan adik laki-laki kamu! Andro tidak mungkin melangkahi kamu dengan menikah lebih dulu! Pamali! Nanti kamu bisa berat jodoh!" tukas sang Mama.
Untuk mengisi kesepiannya, Mama Renata memiliki banyak anak asuh di sebuah panti asuhan yang didirikannya bersama almarhum Papa. Dua Minggu sekali Mama mengunjungi anak-anak panti asuhan itu bersama Andro.
Tapi tentu saja memiliki banyak anak asuh tidak sama dengan memiliki cucu sendiri. Sampai saat ini Mama masih saja mendesak Indra untuk segera menikah. Apalagi sekarang Andro juga sudah beranjak dewasa dan sudah cukup umur juga untuk menikah.
Siang itu Mama sedang bersantai di taman belakang sambil mendengarkan musik nostalgia dengan speaker aktif yang suaranya memenuhi seantero taman. Saat Andro muncul, Mama sampai tidak menyadari kehadiran putra bungsunya.
"Assalamu'alaikum, Ma." sapa Andro seraya memeluk Mama nya dari belakang.
"Wa'alaikum salam. Andro," kata Mama seraya mengecilkan volume musik yang sedang didengarnya.
Andro mencium tangan Mama dan duduk di sampingnya. "Indra mana Ma?" tanya Andro.
"Tadi Indra sudah makan siang bersama Mama. Sekarang mungkin ada dia di ruang kerjanya. Katanya besok Indra mau ke Sumedang. Mau memulai proyek perumahan disana." jawab Mama.
"Aku mau nemuin Indra dulu, ya Ma?"
"Kamu sudah makan siang?"
"Sudah tadi sambil jalan-jalan."
"Oh, ya sudah. Sana temui kakakmu. Mungkin dia membutuhkan bantuan kamu."
__ADS_1
"Baik, Ma."
Andro pun meninggalkan Mama nya dan pergi menemui Indra di ruang kerjanya. Sesampainya disana, tampak Indra sedang menekuni laptopnya. Melihat Andro muncul, Indra langsung memanggilnya.
"Dro, sini! Bantu aku nyiapin konsep buat peletakan batu pertama di perumahan yang di Sumedang besok!"
Andro pun menghampiri Indra dan ikut duduk di kursi yang ada di seberang meja kerja Indra. "Sini laptopnya," kata Andro.
Indra memutar laptopnya agar menghadap ke Andro. "Nih! Udah mumet rasanya aku!"
Andro pun membantu kakaknya untuk menyiapkan konsep peletakan batu pertama proyek perumahan yang akan di bangun di Sumedang.
"Yang rapi, ya?!" kata Indra.
"Iya! Iya! Udah di bantu, masih aja rewel!" tukas Andro.
"Ini kan bisnis perumahan pertama Perdana Enterprise! Aku gak mau gagal dalam hal konsepnya!"
"Tenang, Dra! Duduk saja yang manis disana!" ucap Andro seraya tersenyum nyengir.
"Dengan siapa?" pancing Andro.
"Marisa."
"Marisa?" Andro pun pura-pura bingung dan terkejut.
"Iya, aku akan bawa dia. Dia adalah pembuat design perumahan itu. Biar dia presentasi disana. Dia yang paham."
"Herman ikut?" tanya Andro lagi
"Enggak,"
"Gak biasanya kamu pergi keluar kota cuma berdua sama cewek,"
"Memangnya kenapa? Kamu curiga sama aku?!"
"Bukan begitu, tapi kalau memang kamu mau pergi berdua sama Marisa, ya aku cuma bisa titip Marisa."
__ADS_1
"Titip?"
"Iya, titip dia sampai pulang ke Jakarta dengan selamat!"
"So sweet amat!"
"Aku suka Marisa, Dra!"
Selama kurang lebih tiga puluh tahun bersama, baru kali ini Indra mendengar kata-kata dari bibir adiknya itu kalau dia menyukai seorang wanita. Obrolan mereka berdua hanya sebatas bisnis dan keluarga. Tidak ada obrolan mengenai seorang wanita apalagi masalah percintaan.
Anehnya saat perkataan itu terlontar dari bibir Andro, malah ada sentakan rasa tak enak dihati Indra. Kenapa? Apa karena yang disukai Andro adalah Marisa? Wanita yang juga Indra sukai dan sudah menjadi incarannya?
"Kamu suka Marisa?! Kamu bercanda?" tanya Indra, berharap Andro hanya bergurau.
"Aku gak bercanda, Dra! Aku suka Marisa! Aku akan mendekati dia. Kamu gak apa-apa kan?" ujar Andro.
"Aku gak setuju!"
"Lho, kenapa?"
"Marisa itu hanya seorang mahasiswi dari golongan bawah! Mana pantas dia jadi pacar kamu!"
"Apa bedanya, Dra? Kamu gak boleh menilai seseorang dari status sosialnya saja! Marisa cantik, baik, cerdas dan berdedikasi tinggi. Wanita seperti itu kan bisa kita banggakan!"
"Aku tetap tidak setuju! Apalagi kalau kamu berniat serius untuk mendekati Marisa! Kamu ini memang tidak punya selera tinggi dalam hal memilih wanita! Marisa itu benar-benar kampungan!"
"Aku kan bisa penjajakan dulu, Dra! Kalau memang Marisa cocok sama aku, sama Mama, berarti dia bisa jadi bagian dari keluarga kita, kan?"
"Sorry, Dro! Aku tetap tidak setuju walaupun kamu mau penjajakan dulu! Kita sudahi saja pembicaraan ini sampai disini! Aku gak ada waktu buat ngobrolin wanita tidak penting seperti Marisa! Aku mau packing! Kamu selesaikan tugas kamu membuat konsep itu!" Indra bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan itu.
Andro membiarkan Indra pergi karena tahu kalau kakaknya itu tidak mungkin bisa di ajak berkompromi.
"Aku akan buktikan sama kamu, Dra. Marisa bisa dibanggakan dan bisa membaur dengan keluarga kita. Nanti kamu pasti akan setuju dengan pemikiran aku kalau Marisa adalah wanita yang pantas untuk dimiliki!" batin Andro.
Lain halnya dengan Indra, hatinya mendadak khawatir. Bukan karena tidak setuju kalau Andro mendekati Marisa, tapi khawatir kalau Andro bisa lebih dulu mendapatkan Marisa dari dirinya!
"Kita lihat saja, Dro! Aku yang akan mendapatkan Marisa lebih dulu dari kamu! Sudah jadi kodratnya kalau aku selalu selangkah lebih maju dari pada kamu! Aku akan menyimpannya untukku sendiri! Setelah itu, terserah kamu! Apakah kamu mau memungutnya seperti pakaian bekas setelah habis ku pakai?"
__ADS_1