
Indra sampai di kantor pada pukul tujuh lewat dua puluh menit. Indra sempat merasa heran karena sesampainya di ruangan CEO, Marisa belum ada disana.
"Tumben Marisa belum ada di kantor. Ini kan hari Senin. Ada dua metting penting juga kalau tidak salah" gumam Indra. "Mumpung masih pagi, sebaiknya saya minta Bella kesini untuk menyelesaikan masalah dengan Herman!"
Indra duduk di kursi kerjanya lalu memanggil Bella lewat telepon kantor. Tak lama kemudian Bella tiba di ruangan CEO.
"Selamat pagi, Pak Indra. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Bella.
"Bella, saya minta kamu untuk membuat surat pemecatan terhadap Herman, sekarang juga! Berikan pada Herman begitu dia sampai di kantor! Saya tidak mau melihat wajahnya lagi di Perdana Enterprise! Saya juga minta Herman di pecat tanpa pesangon sedikitpun!" kata Indra tegas!
Bella kaget mendengar kata-kata Indra. "Apa, Pak? Surat pemecatan terhadap Herman?!"
"Ya"
"Tapi, kenapa?"
"Herman sudah lancang memberitahukan pada Sofie tentang keberadaan saya dengan Kayla pada Sabtu sore kemarin! Sofie akhirnya membuat keributan di apartemen saya! Itu artinya dia sudah mengkhianati saya!"
"Aduh! Kok Bu Sofie bawa-bawa nama Herman?! Kan dia sudah janji gak akan bilang-bilang ke Pak Indra masalah Herman! Untung nama aku gak ikut di bawa-bawa! Dasar Bu Sofie tidak bisa di percaya!" batin Bella.
"Kenapa kamu diam?!" bentak Indra.
"M... Maaf, Pak Indra. Saya hanya kaget. Herman kan sudah bekerja dengan Anda sejak delapan tahun lalu" kata Bella.
"Saya juga tidak mengerti kenapa dia bisa berbuat seperti itu pada saya! Saya sudah tidak meragukan loyalitas Herman kepada saya dan Perdana Enterprise! Tapi buktinya dia sudah berani mengkhianati saya!"
"Mungkin Herman juga di desak oleh Bu Sofie"
"Saya tidak mau menerima alasan apapun!"
"Baiklah, Pak Indra. Kalau begitu saya akan buatkan surat pemecatan terhadap Herman sekarang juga. Saya mohon pamit untuk kembali ke ruangan saya"
"Ya!"
"Oh ya, Pak Indra. Saya mau mengingatkan kalau Bapak hari ini ada dua agenda metting dengan klien dari Surabaya dan dengan para kepala bagian"
__ADS_1
"Ya, saya juga ingat. Marisa belum kesini? Saya belum mempelajari penawaran kerjasama dengan perusahaan Pak Setiawan di Surabaya"
"Maaf, Pak. Berkas untuk metting hari ini sudah ada pada saya"
"Ada sama kamu?"
"Iya, tadi Marisa sudah memberitahu saya kalau berkas untuk metting hari ini ada di ruangan metting dan saya sudah siapkan di ruangan saya. Barangkali Bapak mau saya bawakan sekarang untuk Bapak pelajari lebih lanjut?"
"Tunggu! Saya tidak mengerti! Berkas metting ada pada kamu? Kenapa? Bukankah Marisa bisa mengantarkan langsung kepada saya?!"
"Maaf, Pak. Marisa barusan juga sudah mengirim surat pengunduran diri kepada saya. Lewat email"
Mata Indra membelalak! Suara Bella laksana suara petir yang menyambar di depan matanya! "Apa?! Marisa mengirimkan surat pengunduran diri?!"
"Iya... Pak" Bella ketakutan melihat bagaimana ekspresi wajah Indra.
"Bagaimana bisa?! Kenapa Marisa mengundurkan diri?! Ada apa?!" tanya Indra gusar!
"Saya juga kurang tahu, Pak" jawab Bella gugup.
"Mungkinkah Marisa tidak enak atas perlakuan Bu Sofie pada Sabtu sore itu, Pak" kata Bella coba mengemukakan pendapatnya.
"Memangnya apa yang terjadi pada saat Sofie mencari saya sore itu?!"
"Bu Sofie marah besar pada saat itu dan sempat menampar wajah Marisa karena menduga kalau Marisa ada hubungan gelap dengan bapak"
"Oh, jadi seperti itu?! Marisa mendapatkan perlakuan kasar dari Sofie?! Keterlaluan Sofie!" geram Indra.
"Makanya saya pikir Herman juga tidak sepenuhnya bersalah, Bu Sofie menekan Herman waktu itu"
"Kalau masalah Herman, saya tidak mau ada toleransi! Saya tetap ingin Herman di pecat tanpa pesangon hari ini juga! Tapi kalau Marisa, saya tidak akan melepaskan dia! Marisa harus menyelesaikan pekerjaannya di Perdana Enterprise selama tiga bulan penuh seperti kontrak praktek kerja lapangannya! Saya tidak mau kehilangan Marisa!"
Sebelah alis Bella mencuat saat mendengar kata-kata Indra kalau sang CEO tidak mau kehilangan Marisa. "Pak Indra berkata kalau dia tidak mau kehilangan Marisa dengan nada yang sangat sentimentil! Hm..."
"Sekarang juga kamu buat surat pemecatan terhadap Herman! Setelah itu Berikan pada Herman saat dia sudah tiba di kantor!" perintah Indra.
__ADS_1
"Ya, Pak!"
"Bawa juga berkas-berkas untuk metting pagi ini! Saya akan pelajari sebentar!"
"Baik, Pak!" kata Bella dan bersiap untuk meninggalkan ruangan CEO.
"Saya akan pergi keluar untuk mencari Marisa dan membawanya kembali kesini!"
"Tapi Pak Indra, sekarang sudah pukul delapan. Bapak ada metting pada pukul setengah sembilan. Saya kira waktunya tidak akan cukup kalau Anda pergi keluar untuk mencari Marisa. Apalagi setahu saya, alamat kosan Marisa ada di daerah Bekasi"
Indra sampai memukul dahi nya sendiri karena panik! "Bagaimana ini?! Mana mungkin saya metting tanpa di temani Marisa?!"
Bella jadi heran. Belum pernah Bella melihat Indra panik layaknya orang yang kebakaran jenggot seperti saat ini!
"Ada apa dengan Pak Indra?! Dia seperti orang yang kelabakan karena kehilangan Marisa! Apakah Pak Indra ada perasaan tertentu pada Marisa? Bukankah Marisa menjalin hubungan dengan Pak Andro?" pikir Bella.
"Bella, kalau begitu kamu temani saya metting jam sembilan ini! Setelah itu saya akan mencari Marisa!" kata Indra.
"Baiklah, Pak. Sekarang saya akan membuat dulu surat pemecatan terhadap Herman" kata Bella.
"Ya, segera lakukan!"
"Kalau masalah metting dengan para kepala bagian, bagaimana pak? Anda ada jadwal metting pada pukul satu siang"
"Kalau metting yang itu kamu cancel saja! Ganti jadwalnya pada esok hari!"
"Baik, Pak" Bella segera meninggalkan ruangan CEO dan kembali ke ruangannya.
Tinggalah Indra sendiri memikirkan Marisa yang tiba-tiba mengundurkan diri secara mendadak.
"Apa yang terjadi pada Marisa sehingga dia mengundurkan diri dari Perdana Enterprise?! Apakah karena Sofie menekan dan menamparnya?! Keterlaluan, Sofie!" rutuk Indra tanpa berpikir kalau dia pun selama ini sudah berbuat keterlaluan pada Marisa.
"Tapi, bukankah ini yang saya inginkan?! Membuat Marisa pergi dari hidup saya agar saya bisa segera melupakannya?! Bahkan saya sampai memanfaatkan Kayla untuk memanas-manasi Marisa agar Marisa bisa sakit hati dan segera pergi?!
"Lalu kenapa sekarang saya malah merasa sangat kehilangan dia?! Apakah sebaiknya saya biarkan saja dia pergi?! Mungkin dengan cara seperti ini saya akan lebih mudah untuk membuang Marisa dari pikiran dan hati saya!"
__ADS_1