
Mobil mewah itu berhenti tepat di samping Marisa dan menurunkan kaca sampingnya. Ada wajah tampan Henry Adiputra disana. "Hai, Marisa." sapanya.
Marisa yang sedang berjalan kaki langsung menoleh, "Pak Henry?"
"Ya, kamu mau kemana?" tanya Henry.
"Saya mau pulang ke Jakarta." jawab Marisa.
"Pulang ke Jakarta?" Henry mengerutkan keningnya.
"Iya, saya mau cari ojek untuk ke terminal bus antarkota."
"Ke Jakarta itu jauh, kadang-kadang bus untuk kesana harus menuruti jadwal pemberangkatan."
"Iya..."
"Kamu mau pulang bersama saya?" tawar Henry.
"Pulang bersama Anda?" Marisa pun ragu. Teringat perkataan Indra kalau Henry malam tadi menawarkan kesepakatan kerjasama dengan menukar Marisa dengan kemudahan pengurusan administrasi di pihak Bank.
"Iya, saya juga mau pulang ke Jakarta. Urusan disini dengan Pak Indra sudah selesai."
"Apakah Anda bisa saya percaya?"
Henry tersenyum pahit. "Saya tahu Pak Indra pasti sudah menceritakan tentang apa yang saya katakan semalam. Tapi kamu tidak usah khawatir. Saya juga sangat menyesal dengan semua yang sudah saya katakan semalam. Saya tidak punya niat jahat. Saya hanya ingin mengenal kamu lebih dekat. Itu saja."
"Anda tidak akan berbuat apa-apa kepada saya kalau saya ikut Anda pulang ke Jakarta?" tanya Marisa masih ragu.
"Saya berani jamin keselamatan kamu sampai ke Jakarta. Lagipula kalau saya boleh menebak, pasti kepergian kamu sekarang ini ada hubungannya dengan perkataan saya semalam pada Pak Indra. Mungkin kalian bertengkar hebat dan kamu memilih pulang lebih dahulu. Saya minta maaf. Saya tidak menduga sama sekali kalau kamu adalah kekasih Pak Indra."
Marisa berfikir sejenak. "Sepertinya ada baiknya kalau aku pulang bersama Pak Henry. Daripada aku naik bus atau kembali lagi ke Pak Indra. Tapi apakah Pak Henry bisa dipercaya? Jangan sampai aku lolos dari sarang buaya dan malah masuk ke sarang ular!"
"Kamu takut, Marisa? Atau mau saya antar saja sampai ke terminal?" tanya Henry.
__ADS_1
"Baiklah, saya akan ikut Anda ke Jakarta." kata Marisa akhirnya lalu masuk ke dalam mobil Henry.
Henry segera menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang. Bersiap pergi ke Jakarta bersama Marisa yang dari kemarin sudah menarik perhatiannya.
"Saya minta maaf, Marisa. Kalau karena perkataan saya semalam, kamu dan Indra jadi bertengkar..." kata Henry penuh penyesalan.
"Tidak apa-apa. Lagipula bukan karena masalah itu saya bertengkar dengan Pak Indra." kata Marisa.
"Lalu apa benar kamu kekasih Indra Perdana?"
"Bukan, saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Pak Indra!"
"Berarti dia tidak ingin kamu kenal dengan saya?"
"Bukan, cara Anda untuk mengenal saya juga bukan cara yang baik! Menawarkan kemudahan bekerja sama seolah saya bisa di tukar dengan bisnis!"
"Iya Marisa. Sekali lagi saya minta maaf... Saya menyesal sekali..."
"Cantik sekali gadis ini... Tapi wajahnya sangat pucat. Sepertinya dia habis menangis semalaman. Apa masalahnya dengan Indra begitu berat sehingga dia memilih kabur meninggalkan Indra padahal jarak Jakarta dan Sumedang jauh sekali? Aku merasa sangat menyesal jika masalah Marisa dan Indra berawal dari pembicaraan Indra dan aku semalam..." batin Henry.
Tak sengaja Henry melirik HP Marisa yang tampak ada panggilan video call, tapi tidak ada suara dering karena sedang di silent. Ada nama Pak Andro disana.
Beberapa kali Pak Andro memanggil via video call tapi tidak di angkat karena Marisa tertidur.
Henry mengerutkan keningnya. "Andro? Bukankah itu adiknya Indra? Apa hubungan Marisa dengan Andro? Kalau Andro berani memanggil Marisa dengan panggilan video call beberapa kali berarti ada hubungan dekat antara dia dengan Marisa. Apa sebenarnya Marisa pacar Andro? Bukan Indra? Atau kedua kakak beradik itu sama-sama menyukai Marisa?" fikir Henry.
Sekitar satu jam Marisa tertidur, akhirnya gadis itu terbangun dan melihat sekelilingnya. "Pak Henry..." kata Marisa setelah tersadar kalau dia ada di mobil Henry.
"Ya, Marisa?" kata Henry yang masih menyetir.
"Maaf, saya tertidur."
"Tidak apa-apa, perjalanan masih jauh. Kamu tidur lagi saja. Nanti kalau kita sampai di rest area, saya akan bangunkan kamu. Kita istirahat sambil makan."
__ADS_1
"Iya, hoam..." Marisa menguap panjang.
"Oh ya, dari tadi ada panggilan video call dari Pak Andro," kata Henry lagi.
"Biarkan sajalah,"
"Apakah itu Andro Perdana? Adiknya Indra?"
"Iya,"
"Kamu ada hubungan dengan dia? Panggilan video call nya terus-terusan,"
"Dia baik dan sangat memperhatikan saya. Dia lebih baik dari kakaknya!"
"Kalau kakaknya bagaimana?"
Marisa tidak menjawab, dia hanya menggeleng dan tertidur lagi. Sebenarnya Marisa tidak tidur lagi, dia hanya memejamkan matanya dan memikirkan apa yang harus dia katakan pada Andro nanti? Tidak mungkin Marisa merahasiakan kalau dia pulang lebih awal dan meninggalkan Indra di Sumedang. Andro juga pasti akan menanyakan masalahnya. Mana mungkin Marisa bilang kalau Indra hendak memperkosanya semalam?!
"Ya Allah... Apa yang harus aku katakan pada Pak Andro? Aku tidak mungkin menceritakan tentang apa yang aku alami semalam padanya. Aku masih punya kontrak kerja praktek di Perdana Enterprise. Kalau aku membuat Pak Indra dan Pak Andro ribut, pasti Pak Indra akan marah besar dan memecat ku! Yang ada aku tidak akan mendapatkan rekomendasi bagus dan tidak akan lulus kuliah tahun ini!" batin Marisa resah.
Lalu bagaimana dengan Indra Perdana? CEO arogan itu marah besar saat menyadari bahwa Marisa menghilang dari lokasi pembangunan perumahan. Indra ingin mengamuk saat ini juga tapi malu kepada semua orang yang ada disana.
Kembali ke villa, Indra semakin murka karena Marisa juga tidak ada disana. Tadinya Indra berpikir kalau Marisa kembali ke villa. Masuk ke kamar kedua, Indra mendapati barang-barang Marisa sudah tidak ada disana.
"Brengsek! Kemana gadis itu?! Mana mungkin dia pulang lebih dulu ke Jakarta! Apa dia pergi bersama Andro?! Apa Andro menjemputnya?!" batin Indra yang membuat emosinya semakin memuncak!
"Tapi itu tidak mungkin! Andro tidak bilang akan datang kesini untuk menyusulku! Lalu kemana Marisa?!" geram Indra.
Tiba-tiba Indra mengernyit ngeri. Rasanya dia tidak melihat Henry di acara jamuan makan siang tadi, apa itu artinya Henry pergi bersama Marisa?! Bukan tidak mungkin!
Indra mencoba menelpon Marisa, tapi ternyata nomer nya di blokir. Indra kesal sekali sampai membanting HP yang di pegangnya hingga pecah berantakan.
"Kurang ajar! Pasti Marisa pergi bersama Henry Adiputra brengsek itu! Dasar gadis bodoh! Sudah tahu bajingan itu mengincarnya, tapi dia malah menyerahkan diri! Bagaimana jika terjadi sesuatu padanya?! Awas kamu Marisa! Kamu akan mendapatkan hukuman berat karena berani meninggalkan tugas sebagai asisten pribadi ku dan malah pergi bersama Henry Adiputra!"
__ADS_1