
Indra secara singkat menceritakan bagaimana kejadiannya hingga menyebabkan pertengkaran dengan Marisa.
Mendengar ceritanya, Bella sampai terbengong-bengong karena tidak percaya kalau Sang CEO arogan yang selama ini menjadi atasannya itu bisa bucin juga!
"Luar biasa! Siapa gerangan gadis beruntung itu yang telah mampu membuat seorang Indra Perdana merundukkan kepalanya dengan bunga di tangan?!" batin Bella tercekat.
"Nah! Seperti itu ceritanya! Dia tidak suka dengan apa yang saya lakukan dan malah menganggap saya lebay! Seumur hidup baru kali ini saya di katakan lebay oleh seorang wanita! Itu semua gara-gara bunga mawar yang kamu sarankan!" kata Indra kesal!
"Maaf, Pak Indra. Kalau menurut saya bukan salah bunganya, tapi itu semua terjadi karena Anda memberikan bunga mawar itu di depan banyak orang! Berarti gadis itu lebih suka suatu hubungan yang pribadi. Dia tidak suka terlalu di publikasikan. Mungkin juga dia merasa tidak enak karena takut akan pandangan orang-orang. Apalagi kan Anda baru kehilangan Bu Sofie" kata Bella.
"Jadi maksud kamu saya yang salah! Saya yang lebay?!" bentak Indra! "Bukankah seorang wanita harusnya bangga kalau ada seorang pria setampan dan sehebat saya membawakan bunga di hadapan para sahabatnya?!"
Bella menggigil ketakutan. "Maaf, Pak Indra. Wanita itu kan berbeda-beda sifatnya. Mungkin dia seorang wanita yang tidak suka pamer"
"Benar juga kata kamu! Tapi sekarang masalahnya dia tampak sangat bersedih setelah saya mencampakkan bunga mawar itu!"
"Itu pasti, Pak. Karena sebenarnya dia suka kalau saja Anda memberikannya saat Anda hanya berdua dengannya"
"Lalu saya harus bagaimana?"
"Saran saya Anda minta maaf kepadanya. Tapi jangan hari ini. Tunggulah beberapa hari sampai dia tidak marah lagi"
"Saya bawakan bunga lagi?"
"Sebaiknya ganti dengan yang lain. Coklat misalnya"
"Hm..." Indra mulai mempertimbangkan kata-kata Bella. "Akan saya coba. Jadi saya jangan dulu menghubungi ataupun menemuinya?"
"Jangan dulu, Pak. Minimal sampai lusa"
"Kalau saya rindu, bagaimana?"
Mata Bella membelalak. Tidak menyangka kalau Indra akan sebucin itu! "Kalau Anda rindu ya mau bagaimana lagi?! Harus bisa di tahan!"
"Tapi saya sudah merindukan dia! Saat ini saja saya ingin bertemu lagi dengannya walaupun kami baru saja berpisah"
"Wah... Luar biasa sekali gadis itu! Anda sepertinya sangat mencintainya?" kata Bella kagum"
__ADS_1
"Iya, Bella. Saya kali ini benar-benar jatuh cinta!"
"Kalau begitu Anda harus menjadi seorang pria yang bisa membuat dia nyaman! Seorang wanita itu akan bisa bertahan dengan pria yang membuatnya nyaman. Kalau tidak, dia akan pergi! Tidak perduli setampan atau sekaya apapun pria itu!"
"Baiklah! Saya akan berusaha! Dia harus bahagia bersama saya!"
"Semoga berjodoh ya, Pak"
"Amin...! Kalau saya nanti menikah dengan dia, saya akan daulat kamu sebagai host di acara resepsi pernikahan saya!"
"Wah! Saya mau, Pak! Insya Allah saya doakan agar Anda bisa segera mempersunting kekasih Anda itu!"
"Amin... Ya sudah kalau begitu saya akan kembali ke ruangan saya"
"Baik Pak. Ada beberapa berkas yang harus Anda tanda tangani. Saya sudah simpan di atas meja kerja Anda"
"Nanti saya periksa!"
Indra pun meninggalkan ruangan kerja Bella, membuat Bella menarik nafas lega karena tidak sampai di marahi lama-lama oleh Sang CEO!"
"Aku penasaran! Siapa kira-kira kekasih Pak Indra yang baru?! Bagaimana sosok wanita yang sudah membuat Pak Indra menjadi bucin! Mudah-mudahan wanita itu akan segera di bawa ke kantor ini untuk di perkenalkan kepada para karyawan" gumam Bella.
Indra memasuki ruangan CEO dan melihat kalau Andro ada didalam ruangan tersebut. Adik dari Indra Perdana itu tampak sedang memeriksa berkas-berkas yang ada di atas meja kerja.
"Ndro" sapa Indra.
Andro mengangkat wajahnya dan memandang Indra. "Hai, Dra" balas nya.
"Kamu sedang apa di ruangan saya? Bukankah kamu harusnya hari ini pergi ke pelabuhan dan memeriksa pengiriman barang disana?"
"Saya baru mau berangkat kesana. Ada beberapa berkas yang harus saya bawa. Tapi sebelumnya kamu harus menandatangani nya lebih dulu"
"Kenapa harus menunggu saya?! Kamu kan bisa mewakili saya untuk menandatangani berkas-berkas itu?!"
"Saya harus menunggu kamu. Karena pihak klien pasti ingin kamu langsung yang menandatangani nya"
"Merepotkan saja kamu ini!" Indra memeriksa berkas-berkas yang di maksud Andro dan segera membubuhkan tandatangan nya. "Nah, sudah selesai! Sekarang kamu boleh pergi ke pelabuhan dan memantau langsung pengiriman barang disana! Waktu kamu untuk mengisi posisi saya sebagai CEO utama sudah habis karena saya sudah kembali lagi ke ruangan ini!"
__ADS_1
"Saya memang lebih suka bekerja di luar ruangan!"
"Ya, kamu memang lebih baik bekerja diluar kantor! Ruangan saya ini sangat berantakan semenjak kamu yang menempati! Dulu almarhum Papa tidak pernah membiarkan ruangan ini berantakan, begitu juga saya!"
"Maaf, saya memang tidak seperfect kamu!"
"Ya..."
"Saya berangkat sekarang" kata Andro seraya melangkahkan kakinya untuk meninggalkan ruangan itu, tapi baru beberapa langkah Andro menghentikan langkahnya dan menoleh lagi ke arah Indra.
"Ada apa lagi?" tanya Indra.
"Dra, sebelum saya pergi ke pelabuhan apakah saya boleh menanyakan sesuatu kepada kamu?"
"Tentang apa?" Indra mengerutkan keningnya.
"Apakah kamu pergi ke Bogor? Ke kampung halaman Marisa?"
Indra tertawa perlahan seolah melecehkan Andro. "Oh... Masalah itu? Ya, saya memang berangkat kesana karena Marisa yang memintanya!"
Kebohongan Indra yang pertama, karena pada kenyataannya Indra lah yang meminta ikut ke rumah Marisa.
"Bagaimana kabarnya Ayah, Mama, dan Reno?" tanya Andro lagi.
"Alhamdulillah mereka baik-baik saja. Mereka juga sangat senang karena saya ikut kesana! Bahkan Ayah memperkenalkan saya kepada semua orang yang ada disana kalau saya ini adalah calon suami Marisa!"
"Oh ya" nada suara Andro terdengar sedih.
"Ya, saya juga membelikan Ayah seekor sapi untuk kurban dan saya juga ikut ke mesjid dan shalat Idul Adha disana!" kata Indra dengan bangganya.
"Alhamdulillah kalau begitu"
Andro jadi teringat saat dia dulu ikut ke Bogor dan Indra memarahinya habis-habisan karena menuding Andro telah mengeluarkan uang banyak untuk keluarga Marisa.
"Apakah Ayah atau mungkin Reno menanyakan saya? Kenapa saya tidak ikut atau bagaimana kabar saya?" tanya Andro penuh harapan. Berharap kalau dia masih di ingat oleh keluarga Marisa.
Indra malah tertawa sumbang. "Andro, Andro! Mereka tidak menanyakan kamu! Mereka tidak ingat kepada kamu! Buat apa mereka menanyakan ataupun mengingat kamu kalau sudah ada saya yang jelas lebih baik dari kamu?!"
__ADS_1
Kebohongan Indra yang kedua, karena pada kenyataannya keluarga Marisa selalu menyebut nama Andro dan justru itu yang membuat Indra iri!