My Arrogant CEO

My Arrogant CEO
BAB 65 : Saya Bosan!


__ADS_3

Indra tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Sofie. "Saya tergoda oleh wanita lain?! Wanita yang mana?! Kamu jangan aneh-aneh! Saya sudah melewati waktu satu tahun bersama kamu! Saya sudah mengikat kamu dengan tali pertunangan, itu artinya kamu adalah calon istri saya!"


"Kamu yakin?! Kamu tidak akan tergoda oleh wanita lain?!" tanya Sofie lagi.


"Sudahlah Sofie! Saya tidak mau membicarakan tentang masalah ini! Buang-buang waktu saja! Tidak ada gunanya sama sekali!"


"Kamu bicara seperti itu! Tapi saat tidur bersama ku, kamu menyebut nama Marisa!" jerit batin Sofie. "Lalu bagaimana masa depan kita, Dra?" hanya itu yang dapat keluar dari mulut Sofie.


"Saya sudah menerima kamu sebagai calon istri saya seperti apa yang orang tua kita inginkan! Saya pasti akan menikahi kamu! Tapi saya tidak tahu kapan itu! Saya lebih suka hidup bebas seperti ini! Saya juga tidak suka berkomitmen dan saya tidak percaya pada sebuah hubungan yang namanya pernikahan!" kata Indra tegas.


"Kamu gak bisa begini terus, Dra! Aku butuh kepastian! Aku mau kita menikah!" nada suara Sofie mulai meninggi dan ini membuat Indra marah!


"Kamu jangan aneh-aneh, Sofie! Kamu sudah tahu saya ini seperti apa! Saat pertama kita berkenalan dan orang tua kita menjodohkan kita, saya sudah bilang kalau saya mau mencoba menjalin hubungan dengan kamu tapi tidak untuk menikah cepat-cepat!" tegas Indra setengah membentak!


"Iya! Aku ingat pembicaraan kita waktu itu! Tapi sekarang keadaannya sudah beda, Dra! Kita sudah setahun menjalani hubungan ini!" Sofie tetap mendesak Indra.


"Saya mulai kesal pada kamu, Sofie! Saya minta sekarang kamu pulang! Saya akan antar kamu pulang ke rumah!"


"Tapi kita sudah sepakat mau makan diluar, Dra!"


"Saya berubah pikiran! Saya tidak berselera makan setelah apa yang kita bicarakan tadi!"


"Tapi Indra-"


"Pulang sekarang! Atau saya akan pulang sendiri!"


"Indra! Kamu ini kenapa? Kamu seolah mengusir aku dari sini!"


"Saya akan pergi! Kamu mau ikut saya atau tidak?!" Indra bergerak meninggalkan ruangan itu dan Sofie segera menyusulnya.


Mereka berjalan beriringan tanpa bicara dan wajah keduanya muram. Siapapun yang melihat pasti akan bisa menebak kalau mereka berdua sedang ada dalam masalah.


Indra masuk ke dalam mobilnya dan Sofie langsung ikut duduk di sampingnya karena tidak membawa kendaraan sendiri. Indra memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Indra masih merasa kesal karena pembicaraannya tadi dengan Sofie.


"Dra, aku minta maaf kalau tadi terlalu memaksa kamu..." kata Sofie saat dalam perjalanan.

__ADS_1


Indra tidak menjawab.


"Aku tahu, Dra. Sampai saat ini kamu belum bisa mencintai aku sepenuhnya... Kamu hanya menuruti perjodohan kita," kata Sofie lagi dan kini air matanya mulai menetes.


Indra masih tidak menjawab.


"Aku sudah kasih semuanya sama kamu, Dra... Aku sudah pasrahkan semua... Kenapa kamu tidak bisa memberikan aku kepastian? Aku sudah lelah, Dra! Orang tua ku, saudara-saudara ku, teman-teman ku, semuanya selalu bertanya kapan aku akan menikah dengan kamu..." Sofie masih saja bicara dan kini mulai terisak-isak.


Bukannya merasa iba, sebaliknya Indra malah marah besar! Di parkirnya mobil di sisi jalan dan dengan kesal Indra memukulkan tinjunya ke stir mobil!


Sofie melonjak kaget! "Indra! Kamu kenapa?!"


"Saya sudah benar-benar kesal sekarang! Saya minta kamu turun dari mobil saya sekarang juga!" bentak Indra.


"Apa?!" Sofie merasa tidak percaya pada pendengarannya sendiri! "Kamu minta aku turun di pinggir jalan seperti ini?! Aku ini tunangan kamu! Kamu sadar atau tidak?!" Sofie berteriak dan menangis tersedu-sedu.


"Kamu benar-benar menyebalkan, Sofie! Saya pikir kamu adalah seorang wanita dewasa dan cerdas yang tidak berpikiran pendek! Ternyata kamu sama saja dengan wanita lainnya! Manja, cengeng, dan menyebalkan! Kalau kamu seperti ini saya tidak yakin akan bisa memantapkan hati saya untuk menikah dengan kamu! Kamu bukannya membuat saya nyaman tapi malah merasa bosan! Saya bosan!" Indra masih membentak-bentak Sofie.


Sofie malah terus menangis sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Sofie masih saja menangis.


"Kalau kamu masih saja menangis, tinggalkan mobil saya atau saya yang pergi!"


Sofie tetap menangis.


"Oke! Ini mau kamu!" Indra segera mengirim pesan pada Herman untuk membawa motor besar milik Indra ke lokasinya saat itu.


Herman yang selalu stand by untuk Indra segera menuju lokasi.


Selama menunggu Herman, Indra sama sekali tidak berusaha untuk menghentikan tangisan Sofie. Sebaliknya Indra malah keluar dari mobilnya dan berdiri di pinggir jalan!


Saat Herman datang, Indra segera mengambil helm yang di sodorkan padanya. "Saya pulang duluan! Kamu urus si Sofie! Antarkan ke mana dia mau!" titah Indra.


"Siap Pak!" kata Herman.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama, Indra bergegas pergi dengan menaiki motor besarnya.


Herman sendiri masuk ke dalam mobil dimana Sofie masih menangis dan tidak menyadari bahwa Indra sudah pergi, berganti dengan Herman.


"Bu Sofie, sudah jangan menangis terus! Percuma! Pak Indra sudah pergi dari sini," kata Herman.


Sontak tangisan Sofie terhenti dan kedua tangan yang menutupi wajahnya terlepas. Mata Sofie membelalak melihat Herman yang ada di belakang kemudi mobil Indra!


"Kenapa kamu disini?! Mana Indra?" tanya Sofie.


"Pak Indra sudah pergi, naik mo-ge nya. Saya yang bawain mo-ge nya kesini." jawab Herman.


"Ya Tuhan... Indra! Tega dia meninggalkan aku seperti ini!" geram Sofie dengan air mata yang membanjir.


"Makanya jadi wanita jangan bawel-bawel, Bu! Kalau sampai Pak Indra lepas dari genggaman Ibu, wah!" kata Herman memperkeruh keadaan.


Sofie menyeka air matanya. "Apa maksudnya kamu bicara seperti itu?! Kamu tahu kalau sekarang ini Indra sedang mendua hati?!"


"Ya tahu, lah! Saya ini kan orang kepercayaannya Pak Indra!"


"Kamu tahu hubungan Indra dengan Marisa?"


"Hehehe, saya tahu persis, Bu! Pak Indra itu sebenarnya suka sekali pada Marisa! Tapi Marisa kan lebih memilih Pak Andro! Padahal Pak Indra sudah bela-belain menyuruh saya untuk fitnah Marisa dengan mengatakan pada pacar Marisa kalau Marisa ada hubungan gelap sama dia! Hahaha!"


Sofie membelalakkan matanya, dadanya semakin terasa sesak. "Sampai segitunya!"


"Iya! Di depan orang saja, Pak Indra sok jaim! Dibelakang mah, kangen terus sama Marisa!"


Sofie menggigit bibirnya sendiri dengan geram. "Keterlaluan Indra! Jadi dia benar-benar mencintai Marisa? Sampai-sampai dia tidak berfikir kalau Marisa adalah milik Andro?! Apa aku harus bicara dengan Andro?" batin Sofie.


"Sekarang Ibu mau saya antar kemana? Saya di minta oleh Pak Indra untuk mengantar Ibu kemanapun Ibu mau. Apakah Ibu mau pulang?" tanya Herman.


"Ya, antarkan saya pulang saja..." jawab Sofie lemas.


"Kasihan sekali Bu Sofie sampai di abaikan Pak Indra seperti ini... Padahal kan Bu Sofie juga cantik! Mungkin Pak Indra sudah bosan!" batin Herman melihat wajah Sofie yang pucat.

__ADS_1


__ADS_2