
Ibu Renata, Mama dari Indra dan Andro. Siang itu Mama merasa sangat bersedih. Bagaimana tidak? Sudah beberapa hari ini sang putra sulung, Indra selalu pulang larut malam dan dalam keadaan mabuk!
Sudah beberapa kali Mama menegur Indra atas kelakuan nya itu, tapi Indra tidak berkomentar apa-apa melainkan langsung masuk kedalam kamarnya.
Seperti tadi pagi, Indra bangun kesiangan dan kelihatan sangat berantakan saat muncul di meja makan. Dengan kemeja putih yang belum di kancingkan, dasi yang menyangkut di bahu jas nya karena belum sempat di pakai, juga rambut yang belum di tata rapi.
Biasanya justru Andro, si putra bungsu yang kerap muncul di pagi hari dengan keadaan yang masih berantakan dan meminta bantuan Mama untuk merapikan penampilannya.
Ini bukan Indra Perdana sang putra sulung kebanggaan Mama! Indra selalu hadir di meja kerja paling pagi dan selalu berdandan rapi layaknya seorang CEO muda yang intelek. Pasti akibat semalam Indra pulang ke rumah hampir jam dua pagi!
Indra memang suka minum-minum semasa kuliah dulu, tapi hal itu sudah lama di tinggalkan karena Indra sudah lulus kuliah dan memegang perusahaan almarhum Papa. Semenjak memegang tanggung jawab sebagai CEO utama Perdana Enterprise, Indra tidak pernah sempat lagi untuk mampir ke tempat seperti itu.
"Ndra, kamu berantakan sekali" kata Mama prihatin sambil memasang kancing kemeja putih Indra yang belum terpasang sebagian.
"Iya, Mam. Saya kesiangan!" rutuk Indra.
"Gak biasanya kamu kesiangan seperti ini. Kamu selalu bangun pagi untuk olahraga di taman belakang rumah. Kenapa sejak beberapa hari ini kamu berubah?! Semalam kamu pulang pagi lagi! Ada apa sebenarnya, Dra? Mama khawatir sekali!" kata Mama.
"Saya sedang banyak pikiran!"
"Kamu mabuk setiap malam! Bukan begitu cara nya lari dari masalah! Ada apa sebenarnya? Apakah ini menyangkut Sofie?"
"No"
"Masalah pekerjaan?!"
"No"
"Masalah Marisa?!"
"Gak usah bahasa Marisa lagi! Dia sudah pergi dari Perdana Enterprise!"
"Maksud kamu? Marisa sudah tidak bekerja lagi?"
"Ya! Dan gara-gara gadis menyebalkan bernama Marisa itu saya jadi kerepotan sendiri mengurus masalah kantor yang menumpuk!"
"Ada getaran saat kamu menyebut nama Marisa. Kamu masih mencintainya, Dra? Kamu merasa kehilangan dia?"
__ADS_1
Indra menatap Mama sesaat lalu mengangguk lesu.
"Ya Tuhan, Dra... Kamu gak usah melupakan Marisa? Marisa punya Andro! Kamu gak boleh seperti ini. Menginginkan milik adik kamu sendiri!"
"Udahlah, Mam! Jangan sebut Marisa milik Andro! Saya sudah sangat kesiangan dan pagi ini ada metting penting! Saya berangkat dulu!" Indra meraih kopi hitam panas kesukaannya dan menyeruputnya beberapa kali.
"Makan dulu, Dra! Mama udah bikinin sandwich!" kata Mama.
"Gak sempat, Mam! Sorry" Indra mencium tangan Mama dan segera bergegas pergi dengan menenteng sepatu kerjanya karena belum sempat di pakai.
Mama hanya bisa menghela nafas panjang. "Ya Allah ya Tuhanku... Bagaimana jadinya kalau dua putra kesayangan ku mencintai satu gadis yang sama? Aku bukannya tidak menyayangi Andro, tapi Indra saat ini kelihatan sangat rapuh.
Andro mungkin masih bisa bertahan tanpa Marisa. Andro anak yang ceria dan selalu bersemangat. Dia pasti akan lebih bisa mengobati luka hatinya kalau harus kehilangan Marisa.
Tapi Indra tidak bisa seperti itu. Indra sangat sentimentil. Indra dulu bahkan sampai beberapa bulan tidak pernah mau bergabung di ruang makan saat Papa harus berpulang ke Rahmatullah.
Mungkin aku harus bicara pada Marisa..."
Waktu berjalan cepat dan tiba pada malam hari tapi Indra masih juga belum juga pulang ke rumah. Mama merasa khawatir. Pasti seperti malam-malam sebelumnya, Indra akan pulang menjelang pagi dalam keadaan mabuk!
Mama memutuskan untuk pergi tidur saja. Selesai menunaikan ibadah shalat isya, Mama membaringkan tubuh dan mencoba memejamkan matanya.
"Astaghfirullah!" Mama bangkit dari berbaringnya dan mengusap dadanya berulang kali. Terlintas bayangan wajahmu Indra di benak Mama dan instingnya sebagai seorang Ibu langsung berfirasat kalau ada sesuatu yang tidak terjadi pada Indra!
"Masya Allah.. Kamu ada dimana, Dra?!" keluh Mama dan coba menghubungi HP Indra tapi tidak bisa terhubung.
"Ya Allah... Bagaimana ini?! Apakah aku hubungi Herman?" Mama coba menelepon Herman tapi tidak di angkat. Mama tidak tahu kalau Indra beberapa hari lalu telah memecat Herman.
"Siapa lagi yang harus aku hubungi?!" Mama panik sekali dan tiba-tiba teringat pada Marisa.
"Marisa! Aku pernah meminta nomor HP Marisa pada Andro! Apakah aku hubungi Marisa saja? Mungkin Marisa tahu keberadaan Indra dan bisa menghubungi indra. Karena walau bagaimanapun Marisa adalah asisten pribadi Indra!"
Mama coba menelepon Marisa yang saat itu sudah tertidur di kos-annya karena cuaca buruk sekali dan udara malam itu sangat dingin.
Marisa bahkan tidak mendengar suara HP nya karena sudah nyenyak sekali. Apalagi saat hujan deras seperti ini. Bergulung didalam selimut adalah hal yang ternyaman!
Beberapa kali HP nya berdering barulah Marisa terjaga dan membuka matanya dengan malas. Di raihnya HP yang terletak di atas meja dan menerima telepon tanpa melihat nama penelepon yang menghubunginya.
__ADS_1
"Halo..." kata Marisa setengah sadar.
"Marisa, ini Mama"
"Mama?" Marisa merasakan suara Mama berbeda dari biasanya.
"Ada apa, Ma? Kok nelepon aku malam-malam? Reno baik-baik aja kan?" rupanya Marisa menyangka kalau yang meneleponnya adalah Mama nya, bukan Mama Indra.
"Marisa, ini Mama Andro!"
"Mama Andro?!" Marisa membuka matanya lebih lebar dan melihat nama yang tertera di layar HP nya. "Astaghfirullah, Mama! Saya kira Mama saya yang di Bogor! Ada apa, Ma?"
"Kamu tahu dimana keberadaan Indra sekarang? HP Indra tidak bisa di hubungi dan dia belum pulang ke rumah! Mama khawatir sekali!"
Karena masih setengah mengantuk, Marisa pun mengira kalau Mama sedang menanyakan Andro, bukan Indra. "Andro kan masih di Turki, Ma. Katanya Minggu sore baru pulang ke Jakarta" kata Marisa.
"Indra, Mar! Yang Mama tanyakan Indra! Bukan Andro!"
"Indra?!" Marisa tercekat dan seketika itu langsung bangkit dari berbaringnya. "Memangnya Pak Indra belum pulang?!"
"Belum, Mar! Dan ini sudah malam sekali! Hujan deras pula!"
"Saya akan coba hubungi Pak Indra. Nanti saya kabarin lagi ya, Mama?"
"Iya, Marisa! Kamu cari tahu ya?! Coba hubungi orang kantor. Mungkin ada yang tahu keberadaan Indra!"
"Iya, Mama. Sebentar ya"
"Oke, makasih ya Mar"
"Sama-sama Ma"
"Kamu juga sayang kan sama Indra?!" tiba-tiba Mama bertanya satu hal yang sangat mengagetkan Marisa.
"Saya sayang sama Pak Indra? Maksud Mama apa? Saya kan sama Andro" kata Marisa.
"Mama mau kamu sama Indra saja, Mar! Andro mungkin bisa hidup tanpa kamu! Tapi Indra tidak! Indra gak bisa kehilangan kamu, Marisa!"
__ADS_1
"Tapi, Ma"
"Sekarang kamu segera cari tahu keberadaan Indra! Mama tunggu kabarnya!" dan telepon pun terputus.