
Phineas tampak berjalan dengan langkah yang besar menuju rumah sakit yang diberitahukan alamatnya oleh anak buahnya. Mereka memiliki kasus baru setelah kasus penjualan manusia dan hilangnya banyak korban wanita dan anak-anak beberapa waktu lalu selesai meski dalang utamanya masih belum ditemukan.
Langkah kaki pria itu terdengar tegas, tatapannya lurus dan tajam, perawakannya yang besar membuat pria itu disegani oleh banyak orang. Lokasi rumah sakit itu cukup jauh dari rumah sakit dimana Elton dan Rania dirawat. Bahkan sampai memakan tiga jam perjalanan untuk tiba ke kota yang dijuluki dengan kota layang-layang itu.
"Dimana?" Suara bariton pria itu terdengar. Anggotanya menata ke arah kedatangan Phineas. Mereka dengan sikap langsung menghampiri kepala Kepolisian termuda di kota itu.
"Ikut saya Pak!" jawab rekan detektif yang bekerja dibawah pimpinan Phineas.
Mereka melangkah dengan cepat. Saat berjalan tiba-tiba ada seorang pasien yang datang dari arah lain dan menubruk tubuh pria itu.
Brukk...
Pasien berambut pendek seperti rambut pria itu terjatuh. Wajahnya ditutupi dengan masker dan ada bercak-bercak di waja orang itu. Tingginya hanya sampai setinggi dada Phineas.
Phineas yang terkejut dengan hal itu sontak berjongkok dan membantu pasien perempuan itu untuk berdiri.
"Maafkan saya, apakah anda baik-baik saja!?" tanya Phineas seraya membantu pasien yang terlihat sangat lemah dengan sebelah tangannya di perban dan kepalanya tampak seperti dibotak secara paksa terlihat dari bekas luka cukur di kepalanya.
Gadis itu mendongak, dia terkejut saat melihat wajah Phineas. Tubuhnya gemetaran sambil berdiri dengan mata yang terus menatap pria itu. Dia masih terdiam sedangkan Phineas sedang diburu waktu.
"Pak kita harus cepat, pasien tersebut akan segera dioperasi, sebelum dibawa kita harus melihatnya secara langsung," ucap anak buahnya.
Phineas mengangguk paham lalu melepaskan tangannya dari gadis kurus itu.
"Sekali lagi saya minta maaf," ucap Phineas sambil membungkuk.
Gadis itu terdiam, tangannya mencengkram erat kaos Phineas. Dia menatap pria itu dengan mata gemetaran. Tangannya yang kurus dan penuh luka dengan ujung-ujung jarinya yang terluka bahkan kukunya membiru terangkat dengan pelan sambil menurunkan maskernya.
Tampaklah wajahnya yang babak belur dengan perban menempel di pipinya.
"Hei kenapa disini, apa yang kau lakukan disini? kau masih belum boleh keluar kamar, ayo masuk cepat, kau akan segera ditangani!!" Suara seorang pria terdengar . Pria dengan tinggi di bawah mata Phineas tampak berlari dan menghampiri gadis itu lalu menutup kembali maskernya dengan cepat. Tangan nya yang besar mencengkram lengan gadis itu.
__ADS_1
Tangan gadis itu mencengkram kuat kaos Phineas sambil menatapnya dengan mata gemetar.Tak bisa bersuara seolah suaranya hilang, bibirnya juga bengkak dan terlihat memar di bagian lehernya. Wajah ketakutan itu sangat mengusik Phineas.
"Maafkan saya tuan, dia memiliki gangguan jiwa dan sering menyakiti dirinya sendiri, dia seharusnya diperiksa sekarang, kami permisi!" ucap orang itu yang langsung pergi dari sana bahkan sebelum mendengar jawaban dari Phineas.
Gadis itu tampak berjalan dengan kaki tertatih-tatih dan kesakitan dengan semua luka yang memenuhi tubuhnya.
Tangannya yang diperban malah dicengkram dengan kuat oleh pria dengan tahi lalat di bawah mata itu. Tangan gadis yang satunya lagi turun ke bawah dengan empat jari yang dia tunjukkan lalu mengepalkan jari-jarinya menutupi jari jempol. Sebuah tanda internasional bagi korban penganiayaan maupun KDRT.
Gadis itu dan pria tahi lalat itu berjalan dengan cepat, tampak pria di sampingnya marah marah dan beberapa kali mencengkram.luka di tangan gadis itu.
Tubuh Phineas terdiam, baru kali ini dia gemetaran saat melihat korban kekerasan di depannya. Tanda meminta tolong itu pasti diketahui oleh orang orang kaku seperti Alesha.
"A...Alesha!!!" ucapnya dengan mata membulat sempurna. Gadis itu adalah Alesha yang sudah tak tampak selama beberapa Minggu terakhir. Jantung Phineas bergemuruh, jelas perempuan itu menunjukkan identitasnya tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun dan hanya menurut dengan pria yang membawanya.
Phineas terdiam dengan wajah tak percaya. Gadis itu berubah total, sekujur tubuhnya dipenuhi dengan luka fisik.
Seketika Phineas kalut, wajah adiknya yang meninggal karena Bullying terbayang jelas di kepalanya. Wajah memelas Alesha beberapa menit lalu persis seperti wajah mendiang adiknya dalam video yang beredar tentang bagaimana adik Phineas di bully.
Jantungnya berdebar kencang, " Tuan ayo," ajak anggotanya.
Phineas menahan dirinya, dia berbalik dan mengikuti anak buahnya. Tatapan matanya semakin dingin, dia mengeraskan rahangnya dan menghirup nafas dalam-dalam.
"Kalau sampai Cherry tau ini, dia pasti akan panik, apa yang harus kulakukan, gadis itu... dia kenapa bisa sampai seperti itu!?" batin Phineas.
Phineas dan anggotanya beranjak menuju ruangan yang dimaksud, namun hati dan pikiran pria itu tak bisa lepas dari Alesha. Gadis itu sudah terlalu lama tidak memberi kabar pada teman-teman nya, dan ternyata hal ini yang terjadi pada dirinya.
"Sial, aku tak bisa diam begini!!!" umpat pria itu bahkan sampai membuat Anggota nya terkejut.
"Detektif Jack, kalian periksa lah dahulu, jangan sampai ada yang terlewat, hasil tes darah dan scan juga harus diikutsertakan, kawal proses operasi dan periksa daftar paramedis yang bertugas, ada hal urgen yang harus kuurus, kupercayakan padamu!" ucap Phineas sebelum dia benar-benar pergi dari tempat itu.
Anak buahnya mengangguk seraya menatap kepergian Phineas.
__ADS_1
Pria itu berlari sekuat tenaga menuju lobi rumah sakit dan menanyakan nama gadis tadi pada perawat yang bertugas.
"Kami tidak memiliki nama itu disini tuan," ucap perawat yang tampaknya tidak tau apa apa soal Alesha atau mungkin mereka memalsukan identitas gadis itu.
Phineas memijit kepalanya, dia menyusuri rumah sakit itu sambil melihat kesana kemari, dia mencari dimana posisi Alesha dan ke arah mana gadis itu terakhir pergi.
Pria itu berlari dengan kencang, seketika perkataan beberapa perawat membuatnya memperlambat langkah kakinya.
" Apa nona itu akan jadi pendonor jantungnya? tapi dia kan belum meninggal? dia tampak nya sehat meski tubuhnya penuh luka, apa mereka berpikir meski botak gadis itu berpenyakitan?" bisik salah satu perawat yang keluar dari lorong dengan deretan kamar pasien.
"Entahlah, tapi dokter mengatakan kalau hidupnya tidak akan lama lagi, oleh karenanya keluarganya setuju untuk mendonorkan jantungnya, bahkan dia sendiri tak bisa berbicara, sepertinya gadis itu memang akan segera meninggal," ucap yang lain.
"kasihan ya, emm tapi apa kalian tau maksud tulisannya di dinding? Alesha, Cherry, Bella dan Sarah, sepertinya dia memiliki teman dekat dan merindukan mereka," ucap yang lain.
Mata Phineas membulat sempurna, benar bahwa gadis yang perawat itu bicarakan adalah Alesha.
"Shhh... jangan banyak bicara, sebaiknya kita bergegas, dia akan segera di operasi tiga hari lagi, kalian jangan mengatakan apa apa kalau tidak mau kena masalah, aku ke kamarnya dulu!" ucap salah satu perawat.
Tiga perawat itu berpencar, Phineas menatap arah kepergian perawat yang bertugas memeriksa Alesha. Pria itu memutar otaknya untuk menemukan gadis itu. Di saat yang sama dia melihat seorang dokter berkacamata yang masuk ke dalam ruangan di bawah tangga.
Dengan langkah perlahan namun pasti dia mengikuti pria itu.
"Ini tidak boleh dibiarkan!" batin Phineas.
.
.
.
like, vote dan komen 🤗
__ADS_1