
Jam, menit detik berlalu. Tak terasa mentari telah bertahta di langit nan tinggi menghiasi hari baru para penghuni bumi. Suara hiruk pikuk kota terdengar begitu riuh. Mobil besi bergerak kesana kemari mengikuti arus kehidupan penduduk bumi.
Di ruangan kamar VVIP rumah sakit CLC, Alesha membuka matanya setelah terlelap selama 12 jam penuh sejak dia dibawa ke rumah sakit oleh Cherry.
" Akhh..... ehhh......
Hanya lenguhan yang keluar dari bibir gadis itu. Karena tragedi tak terduga ini, suaranya belum bisa pulih sejak terakhir kali dirawat. Kekurangan gizi dan dehidrasi membuat keadaannya semakin parah. Siapa sangka gadis itu masih bisa selamat setelah mengalami guncangan hebat.
" Dimana aku? apa yang terjadi?? tubuhku sakit semua... akhh.... bagaimana ini, bahkan suaraku belum kembali, dimana aku...." Gadis itu hanya bisa menangis di dalam hati. Dia menatap seisi ruangan itu dengan tatapan sedih. Tubuhnya sakit dan lehernya terasa seperti terbakar. Betapa malang nasibnya sampai dia harus mengalami hal mengerikan seperti ini.
Kejadian yang dia ingat terakhir kali adalah saat dia dan Phineas meminum minuman yang diberikan oleh Pak Andre jadi-jadian alias Lolo, pria psikopat yang nasibnya kini sangat mengerikan akibat ulahnya sendiri.
"Ahhh setelah minum minuman itu, aku tak sadarkan diri, tuan Phineas juga, tapi apa yang terjadi sekarang? kenapa aku disini? rumah sakit ya?.... akhhh aku butuh bantuan, siapapun tolong datang ke ruangan ini, aku takut... hiks hiks hiks.... kenapa aku sendirian disini...." Alesha menangis pilu, bayangan Makcik Nyonyo dan Pria tahi lalat yang menyiksanya beberapa waktu lalu bahkan saat di rumah sakit membuat hidupnya menderita.
Kondisi kesehatannya tidak stabil, ginjalnya hanya satu itu pun terancam rusak karena dehidrasi dan minuman yang diberikan oleh Lolo. Gadis itu menelusuri seluruh ruangan dengan kedua matanya. Dia menangis pilu, rasa takut itu menyelimuti seluruh tubuhnya. Dia gemetaran, bayang-bayang jarum suntik yang ditancapkan ke tubuhnya oleh Makcik Nyonyo membuatnya takut setengah mati.
" Akhh.... akhh.......
Tangisan gadis itu begitu pilu. Di saat yang sama, Phineas berjalan masuk ke dalam ruangan itu. Dia sudah bangun sejak 5 jam yang lalu setelah mendapatkan perawatan dari Rania. Sementara yang lain kembali ke rumah masing-masing untuk membersihkan diri. Cherry dan Grape memeriksa kondisi rumah dan memastikan anak-anak aman. Elton bersama Sarah dan Bella membantu tuan dan Nyonya Dalton untuk bersiap menemui Phineas sedangkan Philip sedang molor di dalam ruangan kerja Rania setelah kelelahan menarik kolor para penjahat itu.
" Alesha kau bangun.... aku disini, jangan takut!" Phineas langsung menghampiri gadis sambil meletakkan nampan berisi makanan yang dia bawa dari luar.
Phineas duduk di dekat gadis itu, menatap wajah menyedihkan Alesha yang terlihat sangat lemah dan tak berdaya. Penutup kepalanya terlepas, wajahnya pucat dan bersimbah air mata.
" Tenanglah.... tenanglah tak apa..." ucap Phineas sambil memperbaiki penutup kepala Alesha dengan lembut. Seharusnya bekas luka cukur di kepalanya sudah sembuh, tetapi karena kurang nutrisi dan keadaan tubuhnya drop luka itu malah semakin parah.
" Maaf meninggalkan mu, tak apa... tenang saja kau baik-baik saja..." ucap Phineas yang spontan mengusap wajah gadis itu dengan lembut.
Tangan Alesha terangkat, dia menggenggam erat lengan Phineas seolah mengatakan kalau dia ketakutan di tempat itu.
" Tak apa tenanglah, kita sudah selamat, maaf membuatmu mengalami ini, semua akan baik-baik saja," ucapnya lagi. Melihat Alesha dalam keadaan seperti itu membuat hati Phineas bergetar.
__ADS_1
Sementara itu, Cherry dan Grape bersama anak-anak dan pasangan Bian-Azura telah tiba di rumah sakit. Mereka berjalan menuju ruangan perawatan Alesha. Cherry berjalan terlebih dahulu dan membuka pintu, namun dia terkejut saat melihat Philip sedang duduk di samping brankar Alesha sambil menyuapi gadis itu bubur halus yang ternyata dia buat untuk Alesha beberapa menit yang lalu.
" Waduhh ... salah timing!!" celetuk Cherry sambil menutup kamar itu lagi.
" Kenapa Kak!?" celetuk Azura dengan wajah penasaran.
Cherry menunjuk Ke dalam dan Azura juga melihatnya, seketika senyum sumringah tergambar di wajah kedua wanita jahil nan bar bar itu.
" Hihihih.... kita akan segera mendengar kabar baik, hahahah... kapal baru telah berlabuh!!" celetuk Azura dengan wajah bahagia.
" Bener AZ.. mereka sangat cocok, pasangan kulkas sepuluh pintu, sama-sama dingin!" balas Cherry sambil menggandeng tangan Azura si ibu hamil yang sebentar lagi akan melahirkan.
dug... dug...
" Awhhh...shhh... kak perutku!" Azura tiba-tiba meringis dan tentu saja membuat mereka semua panik.
" Ada apa sayang? apa yang sakit?? ada apa hmm? seharusnya kamu istirahat, astaga apa yang terjadi, mana yang sakit!!!??" Bian panik, dia langsung merangkul istrinya.
" Kenapa AZ... ada apa???" Cherry mengusap perut buncit Azura. Alvaro dan Hansel juga sama paniknya dengan orangtua mereka. Sontak kedua bocah menggemaskan itu memeluk Azura.
" Ehhh bener yang, dia geraknya aktif, lebih aktif dari sebelumnya!" ucap Bian.
" Baby lagi lapar ya Aunty?? nih ada makanan Hansel dibuat sama mom tadi, makan aja yuk," celetuk Hansel sambil membuka kota bekalnya dan memberikan sepotong roti pada Azura.
" Hansel jangan diambil pakai tangan begitu, biar Aunty yang ambil sendiri, tangan Hansel kan belum dicuci, nanti baby nya sakit loh," jelas Alvaro dengan lembut seperti biasa.
" Aunty duduk dulu disini, kasihan perutnya berat harus berdiri seperti itu!" Alvaro menarik tangan wanita itu. Mereka semua terkekeh melihat tingkah dua bocah menggemaskan dengan kepribadian yang sangat berbeda itu.
" Waahh mereka ini akan jadi anak-anak yang perhatian, " celetuk Bian yang salut dengan sikap Alvaro dan Hansel yang banyak berubah.
" tentu saja, yang mengajari adalah wanita paling sempurna di dunia ini, tentu mereka akan tumbuh jadi orang-orang hebat," ucap Grape yang sangat bangga dengan cara istrinya mendidik kedua anak menggemaskan itu.
__ADS_1
" Kapan lahirannya AZ?" tanya Cherry sambil memijit mijit lengan wanita itu, dia sangat senang menemani ibu hamil itu.
" Menurut prediksi dokter sebulan lagi, dia sudah semakin berat," ucap Azura yang sedang disuapi cemilan oleh Hansel.
" Wahh sebentar lagi kita akan ketemu ponakan ganteng, nggak sabar deh heheh..." celetuk Cherry sambil tersenyum lembut.
" Aku juga tidak sabar, bagaimana dengan mu kak? apa sudah ada tanda-tanda??" bisik Azura.
" Ehh soal itu belum sih, tapi semoga saja dia cepat datang," ujar Cherry sambil tersenyum manis.
" Aunty makan lagi, masih banyak ini!" celetuk Hansel.
" Terimakasih sayang, Aunty udah cukup kok, nanti kamu gak punya cemilan," ucap Azura sambil tersenyum dengan lembut.
" No aunty, Hansel boleh tahan lapar, tapi Baby nggak boleh, supaya baby cepat besar dan sehat!!" celetuk anak itu sambil memberikan rotinya pada Azura.
" Wahh hahaha terimakasih sayang!!"
Saat mereka sedang bercengkrama, tiba tiba seorang pria dengan rambut sarang tawon, singlet putih dengan bercak bercak saos tomat dan boxer hitam berjalan keluar dengan selimut yang teronggok di atas bahunya. Berjalan sambil menutup mata dan terkantuk-kantuk sambil menggaruk-garuk tubuhnya tanpa sadar kalau dia kini jadi perhatian orang-orang.
" Hoaaammmm.... lapar.... makan... mau makan... ughh.... gatal ihh..... ehhh.... " seloroh pria itu sambil menggaruk garuk badannya .
" PHILIP KOLOR IJO!!!!"
Gedubrakk...
" Ehh.... buset ada demonstrasi!!!!!"
.
.
__ADS_1
.
like, vote dan komen